9 Uskup Regio Nusra Hadiri Perpas Nusra XII di Larantuka Bahas Solusi Praktis Pastoral Tentang Perantau

Ketua Umum Panitia Perpas XII Regio Nusra, di Larantuka, Romo Geby Unto Da Silva,Pr mendampingi Uskup Larantuka Mgr.Fransiskus Kopong Kung,Pr saat gelar Konferensi Pers di istana Keuskupan Larantuka Sandominggo, Selasa 17 Juni 2025 pagi: Foto (OLA/Ranakanews.com)

LARANTUKA,RANAKANEWS.com-
Pertemuan Pastoral (Perpas) XII Regio Gerejawi Nusra yang digelar di Keuskupan Larantuka, 1-5 Juli 2025, dipastikan akan dihadiri 9 Uskup yakni: Uskup Agung Ende, Uskup Agung Kupang, Uskup Denpasar, Uskup Atambua, Uskup We’etebula, Uskup Ruteng, Uskup Maumere, Uskup Labuan Bajo dan Uskup Larantuka, untuk bahas topik penting terkait mencari solusi praktis Pastoral tentang masalah pekerja migran dan ancaman human trafficking.

Pertemuan penting dan strategis ini sebagai kelanjutan dari Perpas XI di Keuskupan Atambua beberapa tahun lalu yang mendorong Gereja berani tampil berwajah perantau, diharapkan menjadi tonggak sejarah menyelamatkan banyak nyawa agar tidak lagi menjadi korban human trafficking, termasuk yang kerap menimpa perantau asal Keuskupan Larantuka.

“Selaku tuan rumah, Keuskupan Larantuka telah menyiapkan dengan baik seluruh rangkaian acara besar ini, dari hari pertama pembukaan hingga hari terakhir penutupan.

Perpas XII Regio Nusra selama 5 hari, yang bertema ‘Gereja Berwajah Perantau Berziarah Dalam Pengharapan: Mencari Solusi Praktis Pastoral’ akan terpusat di Gedung OMK Sta.Caecilia-Paroki San Juan Lebao Tengah.

Sementara, Rumah Unio ‘Patris Corde’ akan menjadi tempat penginapan para peserta.

Pertemuan bersejarah ini siap dihadiri 9 Keuskupan, dengan setiap Keuskupan masing-masing 10 peserta, yang terdiri dari Uskup, Para Direktur Pusat Pastoral dan Sekretariat Pastoral (Puspas/Sekpas), Komisi KKP-PMP, dan Komisi terkait seperti Komisi Keluarga, Komisi PSE-Caritas, Komisi GPP, dan Komisi Kepemudaan,”terang Ketua Umum Panitia, Romo Geby Unto Da Silva,Pr yang juga Vikjend Keuskupan Larantuka dalam Konferensi Pers bersama Wartawan di Istana Keuskupan Larantuka Sandominggo, yang dihadiri langsung Uskup Larantuka Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr, Selasa (17/6/2025) pagi.

Selain peserta dari 9 Keuskupan Se Regio Nusra, sebut Romo Gebi,Pr dalam rilis Pers yang dibagikan ke Wartawan, ada juga utusan KKP-PMP Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Kementrian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Mabes Polri/Polda NTT, Pemprov NTT, Pemkab Flotim dan utusan 3 Dekenat (Larantuka, Adonara dan Lembata).

Romo Geby,Pr memastikan panitia telah menyiapkan seluruh rangkaian acara dengan baik, termasuk penyambutan 9 Uskup dan peserta yang bakal tiba di Larantuka, sehari sebelum pembukaan.

Dibagian lainnya, terkait isu perantau yang menjadi topik utama, Romo Geby,Pr juga menjelaskan, tema yang diangkat berangkat dari fenomena migrasi/perantau yang terjadi di pelbagai belahan bumi, yang mengungkap eksistensi manusia sebagai makhluk peziarah, tapi juga sebuah realitas kontemporer yang kompleks dari sudut pandang sosial, budaya, politik, HAM, agama, ekonomi, lingkungan dan Pastoral.

“Apalagi, migrasi juga telah membawa banyak manfaat dan dampak positif, juga negatif yang ditimbulkannya.

Seperti: human trafficking, pelecehan dan kekerasan, masalah kesehatan (stunting, HIV/AIDS), minimnya akses pendidikan formal, penyakit sosial, kematian dan persoalan Pastoral lainnya,”katanya.

Sesuai hukum Kanon 510, ada tiga prinsip yang digunakan dalam Perpas XI ini yakni Investigare, Prependere, Prependere.

Selaku Panitia, pihaknya telah menyiapkan seluruh rangkaian acara dengan baik agar agenda penting ini sukses dan menghasilkan proposal hasil pertemuan yang akan ditindaklanjuti di setiap Pastoral Keuskupan masing-masing.

Gereja Berwajah Perantau, Tugas Bersama Mencari Solusi Praktis Pastoral

Uskup Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr dalam kesempatan ini menyatakan, sebagai tuan rumah, Keuskupan Larantuka menyambut gembira Perpas XII Regio Nusra kali ini, meski berjalan ditengah situasi bencana letusan Gunung Api Lewotobi Laki-laki.

“Ini kesempatan terbaik mencari solusi praktis Pastoral atas pelbagai masalah perantau, seperti kerjasama menyiapkan ketrampilan perantau dengan baik melalui Balai Latihan Kerja, dokumen lengkap, mengenal kondisi daerah tujuan merantau agar menjadi perantau yang sukses pulang membawa uang demi membangun kehidupan ekonomi yang lebih baik di kampung halaman.

“Seperti pengalaman anak muda yang membuka kebun buah Melon di Waibao Tanjung Bunga.

Mencari solusi praktis Pastoral ini juga untuk mencegah hal-hal negatif seperti banyak perantau yang tak dibekali pengetahuan dan dokumen lengkap, akhirnya diperas majikan dan menjadi korban human trafficking, lalu dipulangkan dalam keadaan meninggal,”katanya, mengingatkan.

Solusi praktis Pastoral lainnya yang dapat dilakukan adalah mendorong peluang kemajuan di daerah agar orang mencintai daerah dan tak perlu keluar mencari kerja di tempat lain.

“Nah, proses membangun kesadaran agar masyarakat tak mudah tergiur dengan cerita yang muluk-muluk di tempat perantauan, juga penting untuk dilakukan bersama semua pihak,”ujar Uskup Fransiskus.

Karena itu, dalam Perpas XII kali ini diundang narasumber dari berbagai pihak untuk membahasnya, demi menghasilkan kesepakatan bersama yang dijadikan pedoman dan agenda kerja Pastoral.

Ia berharap dengan adanya Perpas XII Regio Nusra ini, kerjasama mencari solusi praktis Pastoral tentang perantau bisa tercapai. (OLA)

error: Konten dilindungi!