Oleh: Gregorius Suhardi
Berapa kali engkau menangis hari ini ketika kepalamu benjol karena terantuk daun jendela. Siapa yang salah. Teras balkon yang sempit atau seseorang yang duduk menghalangi jalanmu.
Moodmu untuk makan tiba tiba hilang tak ada yang memijat benjolan di kepalamu. Mengusap dengan rambut agar tak memar. Engkau lalu mengalihkan perhatian pada game dalam handphone hingga air matamu mengering. Siapa yang ingin kau salahkan.
Ketika inisialinisial bermunculan. Dadamu serasa sesak. Ada sesuatu yang begitu mendesak untuk dikeluarkan. Berapa kali engkau dibohongi atas nama cinta yang sebenarnya tak ada.
Mungkin engkau mengumpat diam diam. Sambil mencibir kebodohan diri sendiri. Menertawakan puisi yang telah menjadi alasan sebuah pertemuan. Ia benar. Dinding ini terlalu luas. Siapa pun bisa menulis apa saja. Bagi siapa saja. Namamu terlalu kecil untuk diselipkan di antara huruf huruf. Sementara ceceran sampah sisa kenangan tak habis habis meski dibersihkan. Siapa yang ingin engkau salahkan kali ini.
Lantas engkau tertawa. Tertawa yang getir, biar kuhitung. Berapa kali dalam sehari ini. Ketika bayangan seseorang itu muncul dengan mulut berbusa. Dengan bahasa tubuh yang sulit kau lupa. Oh…,dia terlalu banyak bicara. Masuk terlalu jauh ke dalam ruang ruang rahasia. Celana dalam dan isi kutang, iya, engkau tertawa. Menertawakan kebodohan yang sia sia.
Waktu telah meloncat semakin jauh meninggalkan tangis juga tawa yang terdengar sama. Akan Tetapi engkau tetap saja membutuhkan telinga yang setia mendengarkan keduanya, iya. Engkau akan terus bicara bukan untuk menjadi hebat atau besar seperti yang pernah freud katakan tapi menjadi lebih dekat untuk diingat.












