LARANTUKA, RANAKANEWS.com- Masyarakat Adat Tabana (MAT) Desa Waiula, Kecamatan Wulanggitang terus komit berjuang menuntut hak keadilan ekologisnya atas pengrusakan kawasan Hutan Adat Bukit Bolan dan Mata Air Ongan Bele, dalam proyek air bersih ke Desa Pantai Oa, dengan beraudiensi bersama Uskup Larantuka, Mgr.Fransiskus Kopong Kung,Pr, Rabu (29/3/2023) pukul 10.00 WITA.
Koordinator MAT Desa Waiula, Antonius Dopi Liwu, SH bersama Ketua Stasi St.Agustinus Tabana, Paroki Kristus Raja Watobuku, Laurensius Lau Tobi, diterima langsung Uskup Larantuka, di Istana Keuskupan Sandominggo.

Tiba sekitar pukul 09.25 WITA, setelah berangkat dari Dusun Tabana, Desa Waiula, yang berjarak kurang lebih 80 Km ke Larantuka, kedua Tokoh muda Tabana ini percaya diri penuh semangat serta komitmen kuat menuntaskan polemik pengrusakan hutan adat Tabana, langsung menuju Istana Keuskupan, dan bertemu Mgr.Frans Kopong Kung,Pr.
“Iyah, Kami senang dan berterima kasih banyak kepada Yang Mulia Uskup Larantuka, sudah bisa mau menerima permohonan Audiensi Kami.
Kami datang untuk melaporkan seluruh proses perjuangan MAT Desa Waiula sejak tanggal 4 November 2022, kemudian Musyawarah Adat bersama Desa Pantai Oa yang belum berjalan, sampai dengan Jumat, 24 Maret 2023, kegiatan Aksi Puasa Pembangunan (APP) di Mata Air Ongan Bele, sesuai Thema APP tahun 2023 tentang Keadilan Ekologis Sebagai Ekspresi Iman,
Langkah ini diambil untuk meminta Suara Gembala Bapa Uskup Larantuka bisa selesaikan urusan MAT dan Desa Pantai Oa sebelum Paskah 2023,” ujar Anton Dopi Liwu dan Laurensius Lau Tobi, kepada Wartawan di Larantuka, Rabu (28/03/2023, pagi usai bertemu Uskup Larantuka.
Dopi Liwu menerangkan, sebelumnya, Surat permohonan Audiensi dengan Uskup Larantuka sudah dimasukan pada Selasa, 28 Maret 2023 pagi. Dan langsung diagendakan jadwal audiensi bersama Uskup Larantuka, Rabu, pukul 10.00 WITA,” katanya lagi.
Lebih jauh disampaikan, Audiensi berjalan lancar tak kurang dari 30 menit. “Yang Mulia sangat serius mendengarkan penjelasan kronologis, dari masalah pengrusakan lingkungan di kawasan Bukit Bolan dan Mata Air Ongan Bele, lalu upaya penyelesaian melalui beberapa kali tahap sampai adanya Berita Acara, hingga terakhir Selasa, 24 Januari 2022, di Kantor Camat Wulanggitang yang menyepakati Proyek air bersih terus dilanjutkan, dan Tuntutan Adat Tabana ke Pantai Oa serta pihak terkait lainnya, juga tetap berjalan.
Namun, proses musyawarah tuntutan adat Tabana ke Pantai Oa, masih tertunda karena sudah dua kali diundang tapi pihak Pantai Oa tidak hadir tanpa alasan. Lalu, diinisiasi Stasi St.Agustinus Tabana melakukan aksi Penghijauan di Mata Air Ongan Bele dan Bukit Bolan.
Hingga akhirnya, MAT mengeluarkan Surat Somasi kepada pihak Pantai Oa, Satker dan Pekerja, Senin, 27/02/2023 agar segera keluar dari lokasi Mata Air Ongan Bele dalam waktu 2×24 Jam jika tak memenuhi tuntutan MAT,” terang Dopi Liwu.
“Audiensi berlangsung di ruang Audiensi Uskup Larantuka,” tambahnya.
Ketika ditanya apa tanggapan Yang Mulia, usai mendengarkan penyampaian informasi kronologis, Dopi Liwu secara terbuka ungkapkan, Yang Mulia Uskup Larantuka nyatakan akan segera berbicara dengan Pemda Flotim, melalui Plt.Sekda Petrus Pedo Maran, untuk berkoordinasi dengan Camat Wulanggitang, turun tuntaskan musyawarah tuntutan adat.
Sementara terkait kegiatan Aksi Puasa Pembangunan melalui Penghijauan di Mata Air Ongan Bele, disarankan agar dilanjutkan demi melestarikan kembali kawasan hutan dan mata air.
“Beliau juga berpesan agar menjaga kedamaian selama memasuki masa Pekan Suci hingga Paskah nanti.
Dan, Kami juga minta agar soal dengan Pantai Oa dan pihak terkait proyek air bersih ini, diselesaikan sebelum Paskah, biar MAT juga boleh merayakan Paskah dengan penuh sukacita,”pungkas Antonius Liwu.
Terpisah, Uskup Larantuka belum bisa ditemui Media untuk konfirmasi langsung terkait audiensi itu, dan langkah tindak lanjut pasca audiensi.
Demikian pula dengan sikap Pemda Flotim pasca MAT bertemu Uskup Larantuka. Agar penyelesaian musyawarah adat antara Tabana dan Pantai Oa bisa lebih cepat dilakukan sebelum Paskah, Minggu, 09 April 2023.
Kemudian disinggung kenapa hanya dua (2) orang utusan MAT yang bertemu Uskup Mgr.Fransiskus Kopong Kung, Pr, Laurensius Tobi dan Dopi Liwu sampaikan, Tokoh masyarakat lainnya berhalangan hadir karena giat panen hasil kebun.
“Aduh, minta maaf Tokoh masyarakat lainnya yang mau ikut ada halangan panen hasil kebun. Iyah, urusan ini akhirnya menyedot waktu, pikiran, tenaga dan biaya. Apalagi musim panen. Jadi hanya utusan dua orang bertemu Uskup Larantuka,” tutupnya. (OLA/RN)












