Perkembangan Ekonomi NTT Triwulan 1 2023

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTT, S. Donny H. Heatubun. (Dok: TD/ranakanews.com).

KUPANG, RANAKANEWS.com- Kinerja Perekonomian Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Triwulan 1-2023 tercatat tumbuh sebesar 3,73 % (yoy) meningkat dibandingkan dengan Nasional yang tumbuh sebesar 5,03% (yoy). Secara nasional, pertumbuhan ekonomi NTT pada Triwulan 1 2022 berada pada peringkat 30 dari 34 provinsi.

Secara komulatif, kinerja perekonomian Provinsi NTT pada tahun 2022 tercatat sebesar 3,05% (ctc), lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2021 yang tumbuh sebesar 2,52% (ctc).

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi pada tahun 2022 terutama bersumber dari perbaikan optimisme masyarakat seiring peningkatan aktivitas ekonomi dan pariwisata di tengah semakin terkendalinya kasus Covid-19.

Demikian release Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT yang disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTT, S. Donny H. Heatubun dalam bincang-bincang dengan awak media di Lantai 3 Kantor BI NTT, Senin (15/5/2023).

Dikatakan, dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT bersumber dari kinerja LU Utama yakni LU Pertanian, LU Administrasi Pemerintahan, serta LU Perdagangan Pertumbuhan.

LU Pertanian didorong oleh peningkatan produksi tanaman pangan dan perkebunan di tengah semakin kondusifnya curah hujan serta masih bebasnya Provinsi NTT dari wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan semakin terkendalinya penyebaran wabah African Swine Fever (ASF).

Sedangkan, pertumbuhan LU perdagangan sejalan dengan peningkatan kredit konsumsi, meningkatnya penyaluran kredit ultra mikro (UM), dibandingkan triwulan sebelumnya di tengah pencabutan PPKM, Kinerja LU Administrasi pemerintahan meningkat seiring dengan peningkatan kinerja realisasi Transfer Ke Daerah (TKD).

Peningkatan kinerja realisasi belanja pegawai APBN dan belanja bantuan sosial dibandingkan triwulan sebelumnya. Dari LU konstruksi, pertumbuhan positif didorong oleh realisasi fisik sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan yang melampaui target, persiapan venue ASEAN Summit di Labuan Bajo, perbaikan infrastruktur terdampak bencana, dan proyek konstruksi swasta di Provinsi NTT.

Sementara itu membaiknya kinerja LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (Akmamin) sejalan dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Provinsi NTT di tengah persiapan ASEAN Summit dan pencabutan PPKM.

Dari sisi Pengeluaran, tambah Donny pertumbuhan terutama bersumber dari meningkatnya Konsumsi Rumah Tangga, PMTDB (Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto) dan Konsumsi Pemerintah.

Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga didorong oleh peningkatan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan realisasi belanja bantuan sosial di tengah penghapusan kebijakan Pemberlakuan PPKM.

“Meningkatnya PMTDB sejalan dengan perbaikan realisasi belanja modal APBN Provinsi NTT dan realisasi anggaran PSN Bendungan yang melampaui target,serta proyek konstruksi swasta yang terus berlanjut di tengah persiapan ASEAN Summit di Labuan Bajo,” jelasnya.

Konsumsi pemerintah yang meningkat didorong oleh peningkatan realisasi TKD dan penyaluran Dana Desa melalui program efisiensi penyaluran anggaran di tengah kebijakAN Automatic Adjustmerit  (AA) yang diberlakukan.

Sementara itu, pertumbuhan positif kinerja Net Ekspor sejalan dengan peningkatan ekspor barang luar negeri yang meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnyaditengah pembukaan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain (Belu), Wini (TTU), dan Matamasin (Malaka) di Provinsi NTT.

Ia menambahkan pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT diperkirakan terus berlanjut pada tahun 2023 dalam menyongsong tahun politik 2024.

Pertumbuhan tersebut didorong berlanjutnya program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) Pola Kemitraan dengan target panen mencapai 105 ribu Ha dan program Food Estate di berbagai daerah di Provinsi NTT, berlanjutnya pembangunan sejumlah PSN  Bendungan  Temef, Bendungan Mbay) dengan target penyelesaian pada tahun 2023 dan 2024.

Pelaksanaan ASEAN Summit 2023 di Labuan Bajo pada tanggal 9-11 Mei 2023, melandainya harga minyak dunia dan komoditas global lainnya di tengah berkurangnya tekanan disrupsi suplai.

“Berlanjutnya kebijakan otoritas terkait dalam hal restrukturisasi kredit pembiayaan dan pelonggaran ketentuan uang muka Kredit /Pembiayaan Kendaraan Bermotor (KKB/PKB) dan Loan-Loan -to-value (LTV),” pungkasnya. (TD)

 

 

 

error: Konten dilindungi!