
LARANTUKA,RANAKANEWS.com – Larva pijar dan Guguran batu api dari puncak kawah Gunung Api Lewotobi Laki-Laki ke arah Timur Laut , sejauh 2 Km dari kawah utama, sejak 4 hari lalu, hingga Minggu (14/01/2024) malam, yang terlihat dengan sangat jelas pukul 18.00 WITA, menjadi daya tarik tersendiri.
Banyak warga lalu datang, termasuk ada yang dari Larantuka untuk mengabadikan sebuah peristiwa alam, mahakarya Sang Pemilik Kehidupan.
Kendatipun, sebagian besar warga harus berlari ketakutan mengungsi di tempat lain, bahkan masih harus bertahan di tenda pengungsian hingga memasuki pekan ke 4 erupsi.
Jalur pertigaan Nobo, Trans Nobo-Wutun selalu ramai setiap sore menjelang malam, beberapa warga, termasuk Jurnalis selalu stand by mengambil foto-foto terbaik dari titik potret pertigaan Nobo.
Tak hanya di pertigaan Nobo, namun titik potret di areal jalan raya Nurabelen-Nobo, tepatnya dekat Pabrik Pengalengan Ikan (PPI) Nurabelen dan sekitar 200 meter dari arah PPI Nurabelen, juga menjadi pilihan tempat terbaik bagi warga mengambil gambar.
Hampir setiap sore menjelang malam hingga pukul 20.00 WITA, selalu ada warga yang datang ke titik potret ini.
“Iyah Om, ini sesuatu yang sangat dahsyat dan sebuah mahakarya alam raya, yang sungguh luar biasa.
Baru sekali dalam hidup bisa melihat langsung kejadian alam seperti ini.
Memang, sangat menakutkan dan mengerikan karena warnanya sangat merah menyala, dan suhunya panas mematikan, namun ada keindahan, keagungan maha karya Sang Pencipta yang patut diagungkan.
Saya awalnya sangat takut, tetapi ternyata ini hal yang sangat luar biasa, sehingga tertarik untuk mengabadikannya,”ujar Jurnalis Foto Kantor Berita Antara Kupang, Ina Mega Tokan, kepada Ranakanews.com, Minggu, (14/01/2024) sore di Lewotobi Ile Bura.

Demikian pula, dengan beberapa warga, juga Pegiat foto saat bersama dengan Ranakanews.com mengambil pemotretan di titik jembatan Nurabelen samping Gedung PPI.
Koko Thomas Arif Wijaya dari Keluarga Besar Tionghoa Larantuka, juga mengakui Guguran Larva Pijar Gunung Api Lewotobi Laki-Laki yang meluncur dari puncak kawah ke arah Timur Laut sejauh 2 Km itu, menjadi sesuatu yang sangat menakjubkan, meski sekaligus mengerikan.
“Iyah, Kita juga takut sampai disini, apalagi melihat langsung seperti ini karena bisa kena abu panas.
Tetapi, sekaligus menarik Kita untuk harus melihatnya.
Dan, setelah melihatnya rasa takut sepertinya hilang. Saya pun, akhirnya berani turun dan mengambil pemotretan,”ujarnya usai mendokumentasikan kejadian alam yang sangat langka ini, dari dalam kebun milik warga Nurabelen, Sabtu (13/01/2024) pukul 18.30 WITA.
Dibagian lainnya, Staf Pos Pengamatan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Desa Pululera Kecamatan Wulanggitang, Bobyson Lamanepa dalam keterangannya kepada Media, Minggu (14/01/2024) menjelaskan, awan panas terus dari puncak kawah Gunung Api Lewotobi Laki-Laki terus bergerak ke arah Barat Laut-Utara dengan jarak luncur 1 Km pada pukul 00.00 WITA-06.00 WITA, pada Minggu (14/01/2024).
Asap kawah bertekanan kuat teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 500-1000 meter diatas puncak kawah.
Selain itu, teramati lima kali letusan dengan tinggi 500-1000 meter dan warna asap putih kelabu.
Pihaknya, terus menghimbau agar warga, pengunjung/wisatawan tidak boleh melakukan aktivitas kurang lebih 4 Kilometer dari pusat erupsi.
Serta sektoral 5 Km ke arah Barat Laut-Utara dan Timur Laut, yakni Dulipali, Nobo dan Nurabelen.
Warga pun disarankan tetap memakai Masker, penutup mata, tangan dan badan menghindari abu panas vulkanis.
Sementara itu, disaksikan Media, sejak Minggu, Pemerintah Desa Lewotobi, melalui Kepala Dusun A Wilibrodus Suban Aran telah turun membagikan Masker kepada warga.
Sekaligus menghimbau warganya agar selalu mengikuti arahan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, melalui Pos Pengamatan di Desa Pululera Kecamatan Wulanggitang. (OLA)












