KUPANG, RANAKANEWS.com – Dampak langsung penerapan tarif AS terhadap ekspor provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terbatas, namun, daya saing komoditas perlu terus diperkuat untuk memitigasi risiko pelemahan permintaan ekspor antar daerah.
Risiko pelamahan ekspor NTT dapat tertransmisi dari pelemahan kinerja ekspor di Jawa, yang kemudian menurunkan demand ekspor NTT.
Demikian disampaikan, Ekonom Bank Indonesia Kantor Perwakilan NTT, Teguh Ersada Natail Sitepu didampingi Kepala Seksi Kehumasan BI NTT, Bagus Maulana, dalam pertemuan Sante- Sante Duduk ba Omongn Deng Media (Sasando Dia) yang mengangkat isu Perkuat Ketahanan Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global”, pada Rabu (26/5//2025).
“Dampak langsung kebijakan tarif AS bagi provinsi NTT terbatas, namun perlu diwaspadai dampak tidak langsungnya,” ungkap Teguh Sitepu.
Data BI menunjukkan Outbond Trade Luar Negeri NTT rendah, didominasi trade antar provinsi, adapun presentase share outbond trade NTT terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2024 yakni, antar Provinsi, Ekspor 4,82%, Impor 42,34% Total 47,16%.
Impor NTT tahun 2024 sebesar Rp59.4 miliar, terdiri dari antar Provinsi 97,79%, Luar Negeri sebesar 2,21%.
Dampak langsung tarif AS Terhadap NTT diperkirakan sangat terbatas, namun waspadai dampak 2nd round akibat melemahnya ekspor Jawa, yang berdampak pada melemahnya permintaan untuk produk perikanan NTT antara lain rumput laut dan udang.
Berikut Subsektor Ekspor Antar Provinsi yakni, Perikanan 26,7%, Tanaman Pangan 10,1% Peternakan 8,4%, Perdagangan 8,1% , Jasa Informasi dan Komunikasi 7,6%.
Sementara Luar Negeri, ekspor 0,96%, impor 0,96, total 1,91% Ekspor NTT tahun 2024 sebesar Rp. 7.929,8 miliar terdirir dari antar Provinsi 83,46%, Luar Negeri 16,54% (bersumber dari BPS – PDRB ADHB dan DJBC, diolah Ekspor LN dalam USD, dikonversi ke Rp dengan rerata kurs Tengah 2024 Rp16.004).
Berdasar data, Mitra Dagang Ekspor antar provinsi, yakni, DKI Jakarta dengan presentase share antar provinsi 24,96, Jawa Barat 12,06, Jawa Timur 11,94, Bali 8,84, Sumatera Utara 6,86. Luar Negeri : Timor Leste 71,61, Vietnam 11,82, Lainnya 5,61, India 4,15, Jepang 2,93.
Sementara prensentase share komoditas perdagangan Luar Negeri NTT, yakni Buah-buahan 14.17, Garam Belerang dan Kapur 9.28, Perabot dan Penerangan Rumah 8.52, Olahan dari Tepung 7.42, serta Minuman 5.27. Impor Luar Negeri, dengan presentase share komoditas yakni gandum-ganduman 51.87, Gula dan Kembang Gula 45.19, Biji-bijian berminyak 1.19, Kopi, Teh, Rempah-rempah 0.73 serta Sayuran 0.47. (TD)












