LARANTUKA,RANAKANEWS.com-Misa Chrismatis atau Misa Krisma yang dipimpin Uskup Larantuka Mgr.Yohanes Hans Monteiro, Pr, dihadiri Uskup Emiretus Mgr.Fransiskus Kopong Kung, Pr dan para Imam, pada Kamis Putih pagi 2 April 2026 di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, untuk memberkati minyak suci dan memperbaharui janji setia para Imam, menjadi momentum istimewa yang membawa pesan sukacita yang kuat dan mendalam, teristimewa bagi perjumpaan para peziarah di Kota Larantuka tahun 2026, sekaligus merawat tradisi Semana Santa sebagai sesuatu yang terus dihidupi secara natural dari waktu ke waktu.
“Karena itu, bagi para penjaga, pelaku tradisi Semana Santa, para Imam, Pemerintah dan juga Peziarah, Saya ajak mari Kita jalani dan jaga Semana Santa sebagai warisan budaya yang telah diakui negara dengan hati yang damai serta menjadi momentum perjumpaan untuk saling menguatkan kedepan.
Jagalah kesakralan tradisi ini dengan terus membangun dialog dan komunikasi yang menghidupi, serta jangan jadikan sebagai ajang politis.
Tetapi, bagaimana menjadi kekuatan yang hidup untuk membangun pemberdayaan ekonomi masyarakat dan kesejahteraan umat, agar tidak boleh lagi menjadi korban rentenir,”demikian pesan penting yang disampaikan Uskup Larantuka Mgr.Hans Monteiro, Pr dalam Konferensi Pers bersama Wartawan, usai memimpin Misa Chrismatis di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Kamis (2/4/2026) pagi.
Mgr.Hans Monteiro, Pr juga berpesan agar para peziarah Semana Santa senantiasa menjadikan Larantuka sebagai tempat Perjumpaan, jalan tengah rumah Kita bersama.
“Terimakasih kepada para penjaga, pelaku tradisi, Gereja, Tokoh Agama, Panitia, Pemerintah, Aparat Keamanan TNI-POLRI, Media, Peziarah dan semua pihak yang telah dengan caranya terlibat dalam perayaan Semana Santa tahun 2026 ini.
Mari Kita rayakan tradisi yang telah dihidupi lebih dari 500 tahun ini dengan penuh sukacita dan damai.
Jadikan Semana Santa tahun 2026 ini sebagai momentum perjumpaan yang damai dan memadai.
Jangan takut dengan hari dan masa depan, karena Tuhan pasti selalu menolong,”ujar Mgr.Hans Monteiro, Pr menyakinkan.
Uskup Hans Monteiro, Pr bahkan secara tegas menggarisbawahi Semana Santa Larantuka bukan sebagai ajang promosi toleransi, sebab cendrung bermakna politis.
“Saya tidak pakai toleransi karena cendrung politis, tapi Semana Santa Larantuka adalah tradisi yang dihidupi secara natural dan alamiah sesuai nama Larantuka, yang adalah perjumpaan, jalan tengah masyarakat pribumi dan yang datang dari seberang (Pati Golo).
Dimana Kita semua adalah Larantuka, Rumah Kita Bersama.
Semana Santa Larantuka adalah warisan budaya Kita bersama yang telah diakui negara.
Hal ini juga sudah Saya sampaikan kepada beberapa Wartawan, termasuk Kompas yang telah mewawancarai Saya.
Karena itu sebagai anak-anak Larantuka, Saya ajak mari Kita jaga tradisi ini dengan baik.
Jaga kedamaian selama perayaan Semana Santa berlangsung,”pinta Yang Mulia Uskup Larantuka Mgr.Hans Monteiro, Pr, menjawab pertanyaan Wartawan.
“Anak-anak muda, Saya ajak mari jaga sopan santun, saling menghargai, jadikan Larantuka sebagai rumah Kita bersama yang damai,”katanya, lagi.
Pada kesempatan itu, Uskup Mgr.Hans Monteiro, Pr juga mengucapkan selamat datang bagi para peziarah yang telah tiba di Kota Larantuka, maupun yang akan tiba pada Jumat Agung 3 April 2026, untuk mengikuti puncak prosesi Jumat Agung, baik di Kota Larantuka, Wureh maupun beberapa tempat devosi lainnya.
“Selamat berziarah dan mengikuti seluruh rangkaian perayaan dengan iman, harapan dan kasih.
Tentunya, peziarah datang dengan ujud, niat dan misinya.
Ikuti seluruh ketentuan umum yang diatur panitia, para penjaga dan pelaku tradisi.
Saya minta tolong Panitia untuk layani seluruh peziarah dengan baik dan memadai,”ujarnya, meneguhkan.
Pantauan langsung Wartawan di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka sejak misa Kamis Putih, (2/4/2026) pagi, suasana khusuk mulai terlihat, meskipun belum ramai.
Panitia dan petugas keamanan terus menjaga situasi tetap damai.
Sementara peziarah yang sudah tiba, mulai mendaftarkan diri, dan mengikuti rangkaian acara termasuk misa Chrismatis.
Misa yang dimulai pukul 08.00 WITA berakhir pukul 10.00 WITA.
Sekitar pukul 12.00 WITA, Kapolda NTT dan rombongan tiba di Larantuka.
Dibagian lainnya, arus lalu lintas kendaraan masih relatif aman dan lancar.
Sementara peziarah terpantau mulai banyak tiba di Kota Larantuka jelang sore hari, baik dari Lamalera, Adonara, Solor, juga dari arah Maumere, Ende hingga Manggarai.
Salah satu rombongan peziarah yakni Christour dari Klaten Solo Jawa Tengah, yang dikoordinir Ibu Cecilia Asta, juga telah tiba dan hadir mengikuti misa Chrismatis. (OLA)












