Oleh: Thomas Leonard Asa
Dewasa ini manusia dihadapkan pada kemajuan di hampir semua bidang kehidupan. Salah satu yang paling terasa adalah kecerdasan buatan AI (artificial intelligence) yang menawarkan segala sesuatu secara instan dan siap pakai. Di tengah perkembangannya yang pesat, budaya membaca, yang seharusnya menjadi bagian penting kebudayaan manusia, perlahan diabaikan.
Membaca adalah tindakan etis sebelum menjadi tindakan kognitif: ia menuntut kesediaan berdiam di hadapan gagasan orang lain, bergulat dengannya, lalu bertanggung jawab atas pemahaman yang dihasilkan. Kehadiran AI mengguncang fondasi itu. Ringkasan instan, penjelasan siap saji dan jawaban yang tampak fasih membuat pembaca tergoda menukar pergulatan dengan kepemilikan semu yaitu merasa telah memahami hanya karena telah menerima hasil.
Persoalannya bukan sekadar efisiensi, melainkan siapa yang sesungguhnya membaca manusia yang berpikir, atau mesin yang berpikir atas namanya? Teks yang dihasilkan AI tidak lahir dari pengalaman, risiko dan tanggung jawab seorang penulis, sehingga pembaca yang tidak kritis berpotensi menyerahkan penilaiannya kepada tuturan tanpa wajah dan tanpa pertanggungjawaban.
Maka etika membaca di zaman ini bukan lagi soal seberapa banyak kita membaca, melainkan seberapa jujur kita mempertahankan otonomi akal budi: Menguji, meragukan, dan menelusuri sumber, agar AI tetap menjadi alat bantu bagi pemikiran, bukan penggantinya.
Tulisan ini menyoroti keprihatinan tersebut dalam konteks Nusa Tenggara Timur. Saya membukanya dengan sebuah analogi. Orang tahu apa yang terjadi ketika hujan turun terlalu deras di tanah yang kering. Air tidak meresap, ia berlari, menggerus, lalu hilang ke laut dan tanah tetap haus meski banjir baru saja lewat. Mungkin begitulah perjumpaan kita dengan AI. Jawaban datang berlimpah, tetapi tidak semua pembaca memiliki tanah yang cukup terolah untuk menyerapnya.
Para filsuf sudah lama curiga pada kemudahan semacam ini. Dalam Phaedrus, Sokrates mengisahkan Dewa Theuth yang menawarkan tulisan kepada Raja Thamus sebagai penawar lupa. Sang raja menolak, tulisan hanya memberi murid rupa kebijaksanaan, bukan kebijaksanaan itu sendiri.
Mereka tampak tahu banyak hal, padahal belum memahami apa pun. Lebih dari dua puluh abad kemudian, Theuth kembali dalam rupa yang lebih fasih dan pertanyaan sang raja belum berubah. Apakah kita sedang memperdalam pemahaman atau sekadar menambah perabot ingatan?
Membaca bukan sekadar menyerap informasi, melainkan sikap moral terhadap yang lain. Ketika informasi dapat diproduksi dalam hitungan detik, kemampuan membaca tidak boleh berhenti pada kecepatan memahami tetapi mencakup keberanian untuk meragukan, ketekunan untuk memeriksa dan kebijaksanaan untuk menimbang.
Kita tidak cukup bertanya apakah sebuah informasi benar. Kita juga perlu bertanya siapa yang menghasilkannya, kepentingan apa yang menyertainya, dan dampak apa yang mungkin ditimbulkannya bagi sesama. Teknologi boleh memperluas jangkauan pengetahuan tetapi tidak serta-merta memperdalam kebijaksanaan.
Kita dituntut untuk tidak menjadi konsumen pasif yang menelan apa pun yang disajikan mesin, melainkan subjek kritis yang tetap melibatkan akal budi, empati dan tanggung jawab moral. Jika AI adalah hujan deras yang mengguyur ruang pengetahuan, etika membaca adalah tanah yang menentukan apakah air itu menyuburkan kehidupan atau justru mengikis daya kritis manusia.
Tanpa akar literasi yang kuat, kita bisa tumbuh menjadi masyarakat yang kaya informasi tetapi miskin pemahaman, fasih menjawab tetapi kehilangan kemampuan bertanya secara mendalam.
Di NTT (Nusa Tenggara Timur), gejala ini tidak asing bagi siapa pun yang pernah menengok ruang kelas. Ada anak yang membaca lancar tetapi sulit menjelaskan isi bacaannya. Ada tugas yang selesai karena disalin, bukan dipikirkan. Ada gerakan literasi yang berhenti pada peluncuran dan sudut baca, belum sampai pada kebiasaan bertanya.
Di pulau-pulau yang jauh dari toko buku, AI berpotensi hadir bukan sebagai pelengkap perpustakaan, melainkan sebagai perpustakaan itu sendiri. Pembaca yang belum terlatih bertanya akan menerima jawabannya sebagai vonis. Dengan demikian, jurang yang melebar bukan lagi soal akses, melainkan soal kemampuan menyanggah.
Mereka yang mampu membaca secara mendalam akan memakai mesin sebagai mitra bicara sedangkan yang tidak akan menjadi pengikutnya. Kita punya cermin yang jernih untuk memahami hal ini, yakni tenun. Selembar kain tenun bernilai karena waktu yang dianyam di dalamnya. Setiap benang dihitung, setiap motif dibaca dan diwariskan dan kain itu berbicara karena tangan yang sabar.
Mesin dapat memintal kain secepat kilat tetapi kain itu tidak menyimpan ingatan siapa pun. Membaca yang sungguh-sungguh adalah menenun makna dan makna tidak lahir dari kecepatan. Tradisi lisan kita dari tutur adat sampai syair leluhur mengajarkan bahwa, pengetahuan diwariskan lewat kesediaan mendengar sampai habis. Ironisnya, bahasa-bahasa daerah kita hanya terwakili tipis dalam data yang melatih mesin-mesin itu.
Dari sini, setidaknya tiga disiplin layak kita rawat. Pertama, kesabaran: Membaca teks utuh sebelum meminta ringkasan, sebab ringkasan hanya sah bagi mereka yang pernah menempuh jalan aslinya. Kedua, kejujuran: Menyebut dengan terang siapa yang berpikir, supaya mesin tetap menjadi mitra dan bukan pengganti penulis. Ketiga, tanggung jawab: Berani menafsirkan, menyanggah dan menulis kembali dengan suara sendiri.
Namun disiplin pribadi tidak cukup tanpa kerja bersama. Daerah ini tidak hanya memerlukan pelatihan menggunakan AI, tetapi juga perpustakaan yang hidup, guru yang dimuliakan, buku-buku dalam bahasa ibu dan upaya serius mendokumentasikan tutur lokal.
Sokrates dalam Phaedrus tidak menyuruh kita membuang tulisan, ia mengingatkan bahwa kebijaksanaan sejati tumbuh dari jiwa yang dilatih, bukan dari tanda-tanda yang ditumpuk. Hujan deras akan terus turun dan pertanyaan yang menentukan adalah apakah tanah kita siap menahannya atau membiarkannya hanyut. Hujan tidak bisa kita tolak, tetapi embung bisa kita bangun, tempat air ditahan sebelum diminum.
Literasi yang dalam adalah embung bagi banjir informasi. Dengan begitu, banjir kecerdasan buatan tidak berakhir sebagai erosi, melainkan menjadi sumur bagi musim kemarau yang panjang. Mesin dapat menurunkan hujan sebanyak apa pun menjadi tanah yang subur tetap pekerjaan manusia, dan itu pekerjaan etis sebelum teknis.
Penulis: Mahasiswa Fakultas Flsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.










