KUPANG, RANAKANEWS.com – Menghadapi dinamika ekonomi akhir tahun, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena memimpin langsung Rapat Pembahasan Perekonomian Daerah Ke-8 pada Kamis (5/11/2026) di Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT.
Di hadapan jajaran pimpinan instansi vertikal, perbankan, asosiasi pengusaha, dan para pelaku usaha, Gubernur Melki menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat NTT.
Mengawali jalannya rapat, Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT, Adidoyo Prakoso, memaparkan dua isu strategis krusial, yakni pertumbuhan ekonomi regional serta tren kenaikan inflasi akhir tahun yang menuntut antisipasi kebijakan yang matang.
Menanggapi pemaparan tersebut, Gubernur Melki menaruh perhatian serius terhadap ketersediaan komoditas vital menjelang akhir tahun. Meskipun antrean di SPBU berangsur membaik berkat kerja sama lintas sektor, ia menegaskan bahwa pengawasan distribusi harus tetap diperketat guna menghadapi momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta proyeksi akhir tahun.
Di sisi lain, Beliau turut juga menyoroti kelangkaan semen yang terjadi secara tiba-tiba dan berdampak langsung pada sektor konstruksi, perdagangan, serta perputaran ekonomi lokal.
“Meskipun antrean panjang di SPBU berangsur membaik berkat kerja sama lintas sektor, pengawasan distribusi BBM tetap harus dipantau secara ketat menghadapi momentum Nataru serta proyek akhir tahun. Kelangkaan semen yang terjadi secara tiba-tiba di berbagai daerah, turut berdampak langsung pada sektor konstruksi, perdagangan, dan perlambatan perputaran ekonomi lokal. Faktor penyebab kelangkaan ini harus ditelusuri dan diantisipasi secara transparan oleh Pertamina serta para pelaku usaha,” jelas Gubernur.
Gubernur Melki menekankan pentingnya efisiensi di sektor pelabuhan demi memperlancar arus barang dan komoditas kebutuhan mendasar masyarakat. Instansi pengelola pelabuhan dan karantina diminta untuk memangkas waktu tunggu (dwelling time).
“Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan NTT bersama instansi pelabuhan diminta memperhatikan efisiensi proses bongkar muat guna memangkas waktu tunggu (dwelling time), khususnya untuk komoditas kebutuhan mendasar masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga mendorong lembaga keuangan dan instansi statistik untuk menghadirkan analisis yang presisi guna mengawal pergerakan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat. Selain itu, ketahanan rantai pasok harus diperkuat dengan semangat gotong royong dan keterbukaan informasi dari para pelaku usaha.
Bank Indonesia, OJK, BPS, dan DJPb didorong untuk terus menghadirkan analisis yang presisi guna memantau pergerakan inflasi serta menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
“Memperhatikan dinamika global terhadap pengelolaan sumber daya alam, ketahanan ekonomi dan rantai pasok harus diperkuat dengan skema konkret berbasis semangat gotong royong. Pemerintah mengajak para pengusaha untuk menyampaikan kondisi riil di lapangan secara terbuka sambil tetap menjaga iklim usaha yang kondusif,” pungkasnya.
Ia mendorong agar perayaan Nataru dimanfaatkan secara maksimal untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan. Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap sektor pariwisata, UMKM, dan olahraga, Pemprov NTT menggalakkan berbagai event kerakyatan.
“Momentum perayaan Nataru dengan mayoritas penduduk beragama Kristiani harus dimanfaatkan secara maksimal untuk menggerakkan perekonomian rakyat. Sebagai wujud nyata dukungan terhadap sektor pariwisata, UMKM, dan olahraga, Pemprov NTT terus menggalakkan event kerakyatan seperti Tour De EnTeTe (jalan kaki dan lomba lari 10 Km). Besok akan dilaksanakan kegiatan tersebut pada esok hari pukul 05.15 WITA, mengambil rute dari Kabupaten Kupang menuju Pantai Lasiana, Kota Kupang,” urainya.
Melalui Rapat Perekonomian VIII ini, Gubernur NTT menuntut komitmen penuh dari seluruh pemangku kepentingan mulai untuk bersatu padu membangun ketahanan logistik dan energi jangka panjang demi kesejahteraan masyarakat NTT secara menyeluruh. (FT)












