Angin Kencang & Gelombang Tinggi di Selatan Lewotobi, Ikan Susah Tapi Asam Harga Naik

Angin kencang dan Gelombang tinggi yang terjadi di Pantai Selatan Perairan Ile Bura, Desa Lewotobi Minggu, 7 September 2025, Siang, yang membuat Nelayan enggan melaut: Foto (OLA/Ranakanews.com)

LARANTUKA,RANAKANEWS.com-Angin bertiup kencang dan Gelombang tinggi menghantam wilayah pantai selatan Lewotobi Ile Bura, sejak beberapa hari ini hingga Minggu 7 Agustus 2025 siang, berdampak cukup signifikan bagi aktivitas para nelayan yang enggan melaut, membuat harga ikan melambung akibat kelangkaan pasokan, yang setiap hari disuplai para pedagang ikan dari beberapa kampung tetangga seperti Riangbunga, Lewouran, Lewoawang, Riangbura, Watobuku dan beberapa anak muda penjual ikan Lewotobi.

Perahu-Perahu Nelayan yang saban hari melaut dan melintasi perairan selatan Lewotobi untuk menangkap ikan, pun tak terlihat ramai.

Satu dua yang masih melaut pun, hanya nelayan lokal Lewotobi.

Sementara, beberapa nelayan dan warga Lewotobi yang kerap menjual ikan keliling kampung, pun tak terdengar suaranya berteriak keliling ikan..ikan…ikan..

Bahkan, lebih sengit lagi, motor-motor pembakul ikan yang hari-hari, dari pagi hingga malam sering putar-putar bawa ikan di dalam ember pun, berhenti dan parkir saja di depan rumah saat pulang Misa, Minggu (7/9/2025) pagi.

Apes nian nasib saat ini, dihantam angin kencang ekstrim dan gelombang tinggi selatan Lewotobi.

Tak pelak, kondisi ini membikin harga ikan hari ini di Lewotobi, sontak naik dan terbilang mahal.

Lihat saja, Ikan Tembang kecil satu tali 6-7 ekor bisa dijual Rp10.000/tali.

Dan, mau tidak mau, suka atau tidak suka tetap laris dibeli warga, jika pas lewat depan rumah.

Habis kalau tidak beli, mau makan Ikan apa. Sembe kering sekalipun, yang biasa dibawa orang Pantai Oa pun tak nampak.

Padahal, ikan jenis tembang ini biasanya dibeli hanya untuk umpan mancing.

Kalaupun, untuk makan kecuali Ikan Tembang Watobuku yang terkenal lebih enak karena arus lautnya kencang.

Beda dengan Tembang dari wilayah perairan Nurabelen atau Lewolaga yang lebih dingin rasanya saat dimakan.

Ikan Tembang jenis ini biasanya kalah laris saat musim Ikan lagi booming dan dijual pun harganya lebih murah, 6-7 ekor Rp5000/tali.

Namun, saat cuaca ekstrim angin kencang dan gelombang tinggi seperti saat ini, tetap laris dibeli.

Selain, kondisi laut yang ekstrim memasuki musim kemarau, disertai angin kencang, ditambah status Gunung Api Lewotobi Laki-Laki yang kembali naik ke level IV Awas, sejak Sabtu (6/9/2025) pukul 10.00 WITA, pasca diumumkan Pos Pemantauan Gunung Api Lewotobi Laki-Laki di Pululera, Wulanggitang, memang membuat aktivitas perekonomian warga sedikit tertekan, stagnan dan agak traumatik.

“Iyah, memang susah. Angin juga kencang. Ikan susah. Sayur juga pada kering semua. Mau makan apalagi e kira-kira.

Mau jalan ke Pasar untuk beli juga takut dengan Gunung.

Yah, paling harap kalau ada penjual Sayur, Tahu Tempe dari Boganatar dan Maumere yang datang baru beli saja,”ujar Mama Yuli dan Kristin, warga Lewotobi, Minggu (7/9/2025) siang kepada Wartawan, saat keduanya bersama beberapa anak gadis desa lagi asyik pilih dan kupas Asam di belakang rumah, dekat Pantai Lewotobi.

Kedua Ibu Rumah Tangga, yang masih muda dan cantik ini sesekali bergumam, “Memang Kita sedikit terbantu dengan harga komoditi asam yang lagi naik hingga Rp9000/Kg, buat tambah-tambah uang beli Ikan dan Sayur.

“Jika Asam juga harga turun, Ikan harga naik, Sayur mahal, Beras mahal maka mau makan apalagi.

Rasanya hidup ini makin susah saja setiap hari,”ujar Mama Kristin berkeluh kesah.

Sementara Mama Yuli menimpali, “Kita boleh mengeluh susah tapi Pemda dan DPRD Flotim sibuk naikan gaji dan tunjangan mereka.

Sementara Tunjangan Perbaikan Penghasilan (TPP) ASN seperti Tenaga Kesehatan, juga sesuai berita di Media, dikabarkan bahwa belum ada kejelasan kapan bisa dibayar selesai.

Kasihan para Tenaga Kesehatan sudah kerja capek-capek tapi haknya belum dibayar.

Apalagi, Mereka yang lagi butuh uang cepat buat bayar uang sekolah anak-anak. Bahkan, ada yang sudah pinjam uang orang punya lagi.

Ini yang buat hidup Kita tambah susah. Apalagi, Gunung Lewotobi juga belum redah dan kembali normal,”ujar Mama Yuliana, merendah.

Keduanya berharap, Pemda Flotim melalui Bupati-Wakil Bupati Anton Doni Dihen-Ignas Boli Uran bisa mendorong Dinas Perdagangan menggelar operasi pasar murah di wilayah selatan Kecamatan Ile Bura hingga Watobuku-Hewa-Pantai Oa guna membantu daya beli masyarakat memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

“Paling tidak, ada stimulan buat bantu warga penuhi kebutuhan pokoknya, dengan memanfaatkan harga asam yang lagi naik sampai Rp9000/Kg dan Mente Rp16.000/Kg saat ini.

Cukup bantu Kami dengan operasi pasar murah juga sudah baik sekali,”tutup Mama Kristin dan Mama Yuliana, mengakhiri obrolan santai Minggu, (7/9/2025) siang. (OLA)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version