
LARANTUKA,RANAKANEWS.com-
Pemuda Desa Waibao Kecamatan Tanjung Bunga Flores Timur, Viktor Hokon, salah satu jebolan Magang Jepang tahun 2020, program kerjasama Presiden Jokowi dan Pemerintah Jepang, kini memberi bukti nyata di bidang pertanian modern, dengan meroketkan budidaya Melon Premium di Desa Waibao, melalui kerjasama program P2L, Pekarangan Pangan Lestari Dinas Pertanian Kabupaten Flotim.
“Puji Tuhan melalui P2L ini, Saya niatkan dan fokuskan, akhirnya terbangunlah satu Greenhouse Melon bersama Komunitas Temutu Titen Farm di Desa Waibao saat ini,”urai Viktor Hokon bangga dalam sebuah wawancara eksklusif bersama Ranakanews.com, Senin 9 Juni 2025.
Pria lulusan SMA Negeri 1 Tanjung Bunga tahun 2020 ini lebih jauh menceritakan, dalam mewujudkan mimpi besarnya ini banyak tantangan serius yang datang memberontak.
“Memang, setelah kembali dari Jepang mengikuti program magang, Kami tidak bawa modal apa-apa, karena visa Kami pemagang.
Ada beberapa teman dari ke 18 orang itu yang memilih kembali ke Jepang untuk bekerja.
Saya sendiri memilih pulang kampung memulai usaha di bidang pertanian, dengan bekal ilmu yang Saya miliki.
Awalnya, Saya ditolak dan diremehkan. Tapi, itu tantangan yang menurut Saya secara pribadi adalah karena karakter geografis Kita di NTT umumnya, dan Flores Timur secara khusus.
Namun, Saya yakin bahwa Saya pasti bisa,”tandasnya, semangat.
Bermodal semangat dan tekad yang kuat, Viktor Hokon, Anak Muda yang low profile dan murah senyum ini mulai merintis usahanya.
“Ada beberapa kali gagal. Yah, sekitar 4 kali usaha gagal. Kalau dikalkulasi secara Rupiah, mungkin nilainya ratusan juta.
Kenapa, karena Saya mendorong pertanian dengan pemanfaatan teknologi, atau pola petani modern.
Namun, gagal itu bukan karena kesalahan teknik budidayanya, tapi balik lagi bahwa Kita hidup di Flores Timur,”tuturnya polos.
Kerja Dalam Diam Bersama Komunitas Temutu Titen Farm
Peserta program Asean Young Farmers Leaders di Jepang, tahun 2021 hingga tahun 2023 ini lebih jauh menjelaskan, cita-cita memajukan bidang pertanian bersama orang muda di desa, sudah diniatkan sejak awal mengikuti program magang Jepang, yang didorong Presiden Jokowi tahun 2020 yakni: meregenerasikan Petani Indonesia, sebagai salah satu negara agraris terbesar di dunia.
“Saya ikut program ini di tahun 2020 dalam seleksi untuk kuota Provinsi NTT.
Setelah melewati berbagai tahapan seleksi, baik di tingkat kabupaten hingga nasional.
Kami diberangkatkan pada Bulan Maret 2021 dengan program Asean Young Farmers Leaders.
3 tahun Kami belajar di Jepang.
Ada 18 orang sebagai perwakilan petani Muda Indonesia dikirim ke tempat magang.
Kami bekerja sambil belajar.
Selama satu tahun magang itu, Kami diberikan kesempatan 2 Minggu untuk belajar dalam ruangan.
Saya secara pribadi merasa sangat bersyukur karena bisa mendapat kesempatan itu,”katanya.
Selain bertemu dan membangun chanel baru di Indonesia, Dirinya juga bertemu teman-teman dari negara lain se ASEAN,”timpal Viktor Hokon menambahkan.
Sadar akan pentingnya jaringan kerja, Viktor Hokon pun kemudian membangun Komunitas Temutu Titen Farm semenjak masih magang di Jepang.
Tujuannya mengorganisasikan orang muda untuk terjun ke dunia pertanian.
“Nama komunitas Temutu Titen Farm ini diambil dari Bahasa daerah Lamaholot yang artinya : Ceritra Kita atau Kisah Kita.
Komunitas ini Saya bentuk saat masih magang di Jepang.
Anggota per hari ini 10 orang secara data. Namun, dalam praktek kerja praktis Saya sendiri sebagai leader, yang kemudian terus berupaya membangun semangat anggota dan anak muda lainnya, karena belum banyak yang mau rajin terlibat kerja setiap hari,”tandasnya.
Kendati demikian, Dirinya membeberkan, jikalau kehadiran Komunitas Temutu Titen Farm tidak diakui di Desa Waibao.
Entah, apa alasannya belum diketahui pasti.
Padahal, Komunitas Temutu Titen Farm telah terdaftar resmi di Simultan Dinas Pertanian Kabupaten Flotim.
Kembangkan Budidaya Melon Premium Dengan Sistem Hidroponik
Berbekal ilmu pertanian modern di Jepang, Viktor Hokon memulai kerja cerdasnya, dengan budidaya Melon Premium berbasis sistem Hidroponik, agar bisa hemat air.
Ia mampu menyulap tanah Waibao yang terkenal karena susah air untuk menghasilkan buah Melon Premium.
“Iyah, alasannya jelas karena Desa Waibao susah air. Satu-satunya sistem yang bisa menghemat air adalah sistem Hidroponik.
Ini sangat mahal untuk sistemnya. Tetapi, akan jauh lebih mahal jika Kita paksakan dengan sistem lain,”pungkasnya.
Per hari ini, usia Melon sudah berada di 50 hari setelah tanam atau 58 hari setelah semai.
“Sementara, untuk target panen, karena Kami tanam Melon dengan varietas golden emerald yang usianya 60-65 hari, sehingga pada kalender tanam Kami, ditargetkan akhir bulan Juni 2025 Kita sudah bisa lakukan panen perdana,”ujarnya.
Ditanya terkait target pasar Labuan Bajo, Viktor Hokon optimis karena Labuan Bajo hari ini adalah ruang empuk bagi anak muda yang mau berkembang.
“Saya dapat tawaran tanam Melon dari pasar Labuan Bajo sejak tahun 2024.
Kemudian, Kami sepakati dengan MOU, dan sampai hari ini Kami masih berkomunikasi baik.
Saya mau katakan bahwa di Labuan Bajo, masih banyak produk yang kurang dan harus didatangkan dari daerah Jawa.
Pertanyaannya, apakah Kita tidak bisa penuhi itu? Saya kira, ruang masih terbuka luas.
Jika mau cari Melon Premium maka datanglah ke Temutu Titen Farm Desa Waibao.
Kami menunggu Anda semua dengan senang hati,”tutup Viktor Hokon, tersenyum sembari menyeruput Kopi dan menyulut sebatang rokok RS, menikmati hasil keringatnya. (OLA)












