
LARANTUKA,RANAKANEWS.com –
Kondisi ruas jalan Nobo-Wutun Kecamatan Ile Bura sebagai jalur ring road Gunung Api Lewotobi yang lagi erupsi, terutama mulai dari pintu masuk Nobo, lalu sepanjang Nurabelen ke Riangrita, terus Desa Lewoawang ke Riangbura, hingga Desa Waiula Kecamatan Wulanggitang kurang lebih 7 Km, yang kondisi makin rusak, terutama titik trans Lewoawang ke Riangbura, menjadi kerinduan warga sekiranya ada berkah Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Republik Indonesia ke 79, melalui peningkatan paket jalan Trans Nobo-Wutun.
Apalagi, paket jalan ini pernah disampaikan mantan Pejabat Bupati Flotim Drs.Doris Alexander Rihi,M.Si saat deklarasi STBM di Desa Lewoawang, bisa diperjuangkan untuk ditingkatkan.
Pasalnya, jalan Trans Nobo-Wutun yang menghubungkan jalur Timur Laut, Selatan Gunung Api Lewotobi Kecamatan Ile Bura mulai dari Desa Nobo terus ke Nurabelen-Riangrita-Lewotobi-Lewouran-Lewoawang-Riangbura terus ke Waiula Kecamatan Wulanggitang, praktis tak diperbaiki lebih lanjut sejak tahun 2017-2018.
Pengerjaan terakhir oleh Grup CV.Feva Indonesia, saat masa Bupati-Wakil Bupati Antonius Gege Hadjon-Agustinus Payong Boli, sekitar 5 Km dari titik nol Desa Riangrita hingga Depan Pasar Lewoawang, Desa Lewoawang.
Sementara titik kerusakan jalan dari Nurabelen ke pintu masuk Desa Riangrita sekitar 3 Km tak pernah diperbaiki hingga kini.
Demikian pula, kondisi titik depan Pasar Lewoawang ke Riangbura hingga Desa Waiula Kecamatan Wulanggitang, juga dibiarkan terus dalam keadaan rusak.
Bahkan, khusus di tanjakan tajam Riangbura, baik dari arah Timur maupun Barat, kondisinya makin memprihatinkan dan mengancam keselamatan pengguna jalan.
Jalur Trans Nobo-Wutun lingkar Gunung Lewotobi ini menjadi satu-satunya urat nadi perekonomian warga, yang saban hari mengais rejeki, pergi ke kebun, pasar, kantor dan juga aktivitas lainnya.
Apalagi, warga yang berada di Desa Lewoawang dan Riangbura Kecamatan Ile Bura, mau tidak mau harus berjibaku dengan jalur tanjakan tajam Tobi Alen setiap saat jika keluar masuk dengan kendaraan.
Butuh nyali dan ekstra hati-hati saat melintas, supaya bisa selamat, karena kerusakan badan jalan pada tanjakan tajam sepanjang kurang lebih 300 meter itu sangat menantang.
“Kami sangat berharap dengan momentum peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 79 Tingkat Kecamatan Ile Bura, yang dilaksanakan di Desa Lewoawang ini, bisa membawa berkah bagi Kecamatan Ile Bura, dengan mendorong Pemda Flotim mengalokasikan paket pengerjaan peningkatan jalan Trans Nobo-Wutun yang kondisinya makin parah, seperti jalur Lewoawang-Riangbura Kecamatan Ile Bura dan Desa Waiula Kecamatan Wulanggitang,”ujar beberapa warga Ile Bura, Desa Lewotobi, yakni Martin Nudek, Saka Hokeng, dalam sebuah obrolan terbatas bersama Wartawan, Minggu, 18 Agustus 2024, siang seputar dinamika pembangunan di wilayah Kecamatan Ile Bura, selama 5 tahun terakhir.
Disebutkan, derap pembangunan Ile Bura akan bisa lebih cepat maju dan berkembang jikalau infrastruktur jalan dan jembatan sepanjang jalur Trans Nobo-Wutun bisa dituntaskan dalam satu dua tahun kedepan.
“Memang, hari ini fasilitas publik seperti Puskesmas Ile Bura, Pasar Lewoawang dan hadirnya SMA Swasta Ile Bura, juga sejumlah infrastruktur desa yang dibiayai dana desa, mulai memperlihatkan adanya perubahan ke arah yang lebih baik.
Termasuk rencana pembangunan Tower BTS Telkomsel di Desa Lewotobi, yang mulai dikerjakan dalam waktu dekat.
Namun, jikalau segmen jalan raya Trans Nobo-Wutun yang masih rusak itu belum diperbaiki yang menghubungkan ring Gunung Lewotobi, maka arus mobilitas manusia, barang dan kendaraan tetap saja berkurang, dan sangat mempengaruhi lambannya roda perekonomian, hingga berdampak serius pada naiknya pendapatan perkapita masyarakat,”ujar Bapa Saka Hokeng, mengingatkan.
Apalagi, sebut Pria berkacamata yang kini bekerja sebagai buruh migran di Malaysia puluhan tahun ini, dengan adanya ancaman erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki setiap hari, semakin membuat orang enggan untuk keluar masuk ke wilayah Ile Bura, terutama yang berprofesi pedagang.
Ia malah menganjurkan, selain infrastruktur jalan dan jembatan yang harus diperbaiki sepanjang jalan Trans Nobo-Wutun, namun infrastruktur lainnya seperti embung untuk menampung air hujan, harus dipikirkan oleh Pemda Flotim untuk dibangun, agar ada sumber air baku saat musim panas bagi warga untuk budidaya tanaman holtikultura dan sayuran guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Hal yang sama diungkapkan Samson Nama Ola, warga Nurabelen dalam sebuah kesempatan terpisah, saat ngobrol bersama Wartawan.
Menurutnya, dengan semakin tingginya tuntutan kebutuhan masyarakat sehari-hari, terutama sayur-sayuran, maka Pemda Flotim melalui Dinas terkait perlu membangun embung atau jebakan penampung air hujan, agar bisa digunakan masyarakat sehari-hari untuk tanam Sayur dan aneka holtikultura.
“Iyah, kebutuhan sayur dan aneka holtikultura sangat tinggi. Harus tunggu pedagang dari Boru datang jual, lalu beli.
Saya kira, jika sulit bangun Embung di Ile Bura, maka Pemda Flotim bisa bangun Bendungan besar di wilayah Irigasi Konga supaya bisa suplai air sampai ke Desa Lewotobi dan sekitarnya untuk digunakan setiap hari, termasuk menanam sayur dan aneka holtikultura,”terangnya.
Baginya, Pemda Flotim dan juga DPRD Flotim, khususnya dari wilayah Ile Bura dan Wulanggitang, mesti lebih fokus dan serius berpikir memperjuangkan hadirnya infrastruktur dan sumber daya yang lebih menopang ekonomi serta kehidupan hajat hidup masyarakat di wilayah ini ditengah ancaman erupsi Gunung Api Lewotobi yang terus terjadi, termasuk mendorong masyarakat untuk lebih gencar mengelolah hasil laut yang sangat kaya. (OLA)