Biri Berpotensi Konflik Ulayat, Bupati Anton Doni Diminta Relokasi Sumur Bor Solor ke Moto’n Uak

Proyek Pengeboran Sumur Bor di Biri Desa Nuhalolon Solor Selatan yang diuji petik Komisi 2 DPRD Flotim, Rabu (7/5/2025), dan dihentikan aktivitas sementara waktu karena bermasalah dokumennya: Foto (PB/OLA/Ranakanews.com)

LARANTUKA,RANAKANEWS.com –
Titik pengerjaan swakelolah pengeboran sumur bor di Biri Desa Nuhalolon Solor Selatan yang diuji petik Komis 2 DPRD Flotim, Rabu (7/5/2025) dan dihentikan saat ini, secara obyektif agar direlokasi ke titik Moto’n Uak, yang proses lahannya sudah final dan ada penyerahan sertifikat tanah oleh pemiliknya, dibanding titik Biri yang berpotensi konflik.

Demikian pula, titik Moto’n Uak yang dikelolah Poktan Ema Sare, lebih memenuhi syarat sebagai Poktan Produktif di Desa Nuhalolon dari 5 Poktan yang ada selama ini dibanding Poktan Putri Cendana.

Demikian penjelasan resmi dan obyektif oleh Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Nuhalolon, Emanuel Kelau Keray saat diwawancarai khusus per telepon, Sabtu (10/5/2025) malam.

Menurutnya, secara obyektif Pemerintah Desa bersama BPD, Tokoh Masyarakat Nuhalolon, Poktan dan pihak dinas telah lakukan proses survei dan titik paling potensial sesuai berita acara adalah titik Moto’n Uak.

“Tempatnya aman. Sudah ada ceremonial adat dan diserahkan dengan sertifikat tanah oleh pemilik lahan Marilinus Mado Pai Tukan sebagai bukti keseriusan dan sudah dibuat berita acara bermeterai.

Areal Moto’n Uak ini juga selama ini dikelolah secara produktif oleh Poktan, diantaranya Ema Sare.

Oleh karena itu, Bupati Flotim Anton Doni Dihen diminta agar turun tangan langsung segera batalkan titik pengeboran di Biri, dan relokasi ke titik Moto’n Uak,”tegas Emanuel Keray.

Dikatakannya, lokasi Biri meskipun jaraknya tak terlalu jauh dari Moto’n Uak, namun masih bermasalah secara Ulayat, sehingga diwanti-wanti jangan sampai terjadi pengeboran.

“Kami paham lokasi Biri itu hanya sebagai pembanding untuk penuhi syarat administrasi bahwa ada beberapa titik yang disurvei,”terang Eman Keray, menyakinkan.

Ia lebih jauh menjelaskan, pemindahan lokasi sumur bor di Biri itu, tanpa koordinasi dengan Pemerintah Desa Nuhalolon.

“Saya dan Kepala Desa Nuhalolon justru baru tahu diujung-ujung bahwa lokasi sumur bor di Biri, justru dari Tim sukses Bupati-Wakil Bupati Flotim Anton Doni Dihen-Ignas Boli Uran (ADDIBU), yang katanya diperintahkan Ketua DPD Partai NasDem Flotim ikut survei,”timpalnya.

Ia menambahkan, Kades Nuhalolon kaget dengar informasi tersebut, dan juga yang berkembang di Facebook.

“Dan, Kami pahami kalau titik di Biri itu hanya sekedar pembanding administrasi, serta belum final.

Karena jika sudah final di Biri, mestinya berita acara persetujuan di titik Moto’n Uak lebih dulu ditarik keabsahannya.

Tapi, rupanya tidak ada sama sekali dan verifikasi lanjutan pun tak ada koordinasi dengan Pemerintah Desa Nuhalolon.

Hingga ada kegiatan ceremonial adat di Biri, lalu tibanya kontraktor di lokasi untuk bor air, pun tidak ada penyampaian ke Pemerintah Desa.

Tim sukses ADDIBU atas nama Densi Kolin, yang juga bukan warga Desa Nuhalolon, hanya datang informasikan ke Kepala BPP Nusa Cendana Solor Barat, kemudian Kontraktor diarahkan orang yang punya lahan di Biri,”beber Eman Keray, detail.

Langkahi Pemdes, Tim Sukses ADDIBU Atur Ceremoni Adat di Biri

Lebih heboh tapi agak aneh lagi, sebut Eman Keray, Tim sukses ADDIBU atas nama Densi Kolin, warga Desa Ongalereng, justru yang terlihat sangat aktif di lapangan, bahkan sempat datang ke Kantor Desa Nuhalolon bertemu Kepala Desa untuk mengundang menghadiri ceremonial adat pengeboran sumur di lokasi Biri.

“Saat itu, Saya ada di ruang Kepala Desa. Bahkan sampai Kepala Desa Nuhalolon tanyakan Ibu ini siapa sampai ikut atur ceremonial adat di Biri dan paksakan Kami untuk ikut.

Spontan Ibu Densi Kolin menjawab kalau dirinya sebagai Ketua Tim Sukses ADDIBU di Pulau Solor.

Saya larang Kades Nuhalolon langsung dihadapan Ibu Tim sukses ADDIBU itu agar jangan terjebak ikuti ceremonial adat di Biri.

Tapi, Ibu Tim sukses ADDIBU ini bilang, meski Ketua BPD dan Kades Nuhalolon tidak ikuti, saat ini ceremonial adat sedang jalan, dan dihadiri Anggota DPRD Flotim Partai NasDem,”terang Eman Keray, rinci.

Ia bahkan menegaskan, dari kejadian ini jelas terlihat kalau ceremonial adat saja bisa direkayasa oleh tim sukses ADDIBU di lapangan.

“Kami sangat prihatin dengan kondisi ini. Apalagi, ada anggota DPRD Flotim dari NasDem.

Ini sebuah bentuk pelecehan terhadap wibawa kelembagaan DPRD Flotim, serta pembodohan dan pembohongan terhadap publik Flotim.

Dan, hal ini juga Saya omong tegas saat uji petik Komisi 2 DPRD Flotim.

Hingga Kami minta agar kegiatan pemboran sumur di lokasi Biri dihentikan,”tukas Eman Keray, lagi.

Sementara terkait Poktan Putri Cendana, Eman Keray secara terbuka mengatakan, Poktan Putri Cendana ini notabene hanya kelompok ibu-ibu saja, yang tidak punya kebun bersama atau contoh selama ini, sehingga Poktan Putri Cendana juga tidak mendapatkan alokasi APBDes, dibandingkan 4 Poktan lainnya, termasuk Poktan Ema Sare, yang jauh lebih maju dan produktif.

Pihaknya, kata Eman Keray, mempertanyakan motif dibalik kontraktor membor 2 batang pipa di lokasi Biri, usai ceremonial adat yang dihadiri Tim sukses ADDIBU dan Anggota DPRD Flotim Fraksi NasDem yang hadir.

Serta alasan mengejar program 100 hari Bupati-Wakil Bupati Flotim ADDIBU.

Padahal, lokasi Biri belum final dan berpotensi konflik Ulayat.

Ia berharap, polemik lokasi sumur bor dan pola swakelolah oleh Poktan Putri Cendana yang terkesan dipaksakan oleh tim sukses ADDIBU segera diakhiri.

“Dan, melalui uji petik Komisi 2 DPRD Flotim, Bupati Flotim Anton Doni Dihen membuat keputusan tegas merelokasi pemboran sumur ke titik pertama yakni Moto’n Uak,”tutupnya. (OLA)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version