Chilfund Internasional Bekerja Sama Cita Madani Hadirkan 42 Kepala SMK Rakor Tim Kerja Vokasi Daerah Provinsi NTT dan MoU Integrasi Soft Skill Dalam Pembelajaran Vokasi

Foto bersama peserta Kepala SMK se-Kota Kupang, Kabupaten Kupang, dan TTS saat Rapat Koordinasi Tim Kerja Vokasi Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Integrasi Soft Skill Dalam Pembelajaran Vokasi di Aula Hotel Sasando Kupang, Jumat (13/12/2024). (Dok: RN)

KUPANG, RANAKANEWS.com – Chilfund Internasional bekerja sama dengan Yayasan Cita Masyarakat Madani bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar kegiatan Rapat Koordinasi Tim Kerja Vokasi Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Integrasi Soft Skill Dalam Pembelajaran Vokasi.

Acara  Rapat Vokasi ini menghadirkan 42 Kepala SMK se- Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten TTS dan  OPD lingkup Provinsi NTT, dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggaran Timur, Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M di Aula Hotel Sasando Kupang, Jumat (13/12/2024).

Pantauan ranakanews.com, hadir narasumber Direktur Politani Kupang, Johanis A.Jeremias, Ketua KADIN NTT, Bobby Lianto, Wakil Direktur Politeknik Negeri Kupang, Melchior Bria, Partnership Officer, Chilfund Internasional di Indonesia, Itha Kale, Direktur  Yayasan Cita Masyarakat Madani NTT, Silvester Seno, dan dimoderatori oleh Pdt. Johny Kilapong, KADIN Institut.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo menyampaikan dukungan dan berterima kasih kepada Chilfund Internasional di Indonesia dan Yayasan Cita Masyarakat Madani NTT atas terselenggaranya kegiatan ini.

“Saya berharap dengan kegiatan ini pendidikan vokasi di NTT semakin kuat supaya bisa memberi kontribusi pada proses pembangunan Nusa Tenggara Timur antaralain: Untuk supaya mengurai kemiskinan ekstrim, mengurai stunting, mengurai ketergantungan itu sebenarnya ruang-ruang dimana pendidikan vokasi SMK-SMK itu bisa  berfungsi atau bisa berperan karena setiap tamatan SMK itu bisa bekerja,” ujar Ambros disela-sela kegiatan.

“Melalui rapat vokasi ini kita berharap dapat merumuskan langkah-langkah konkrit dalam implementasi Perpres 68 di tingkat daerah, serta memastikan bahwa seluruh stakeholder dapat berkolaborasi secara efektif untuk menciptakan ekosistem pendidikan vokasi yang berkelanjutan dan bedaya saing,” ungkap Ambros.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Direktur Politeknik Negeri Kupang, Melchior Bria mengaku bangga.

“Yang pertama, saya sangat senang karena baru kali ini Politeknik Negeri Kupang, Politani dengan Guru-Guru SMK kita berdiskusi dalam satu forum yang mana bisa saling tukar informasi kaitan dengan pendidikan vokasi.

Saya berharap bahwa SMK itu memberikan basis pendidikan vokasi yang kuat sehingga ketika anak-anak itu melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, mereka sudah memiliki keterampilan dasar tidak lagi kita mulai dari nol. Nah pengalaman selama ini kami di Politeknik kalau menerima anak-anak dari SMK itu ada yang sudah memiliki bekal ilmu yang baik, banyak, ada yang sama sekali juga belum. Ini yang perlu dipikirkan oleh teman-teman di SMK.

Dan juga kami berharap yang sekolah di SMK, mereka harus melanjutnya ke Politeknik. Jangan sekolahnya di SMK, melanjutnya ke Undana, Unika, Muhammadyah, jadinya tidak nyambung harusnya dari SMK kalau mau lanjut ya ke Politeknik karena itu jalurnya. Kami selama ini menerima mahasiswa lebih banyak yang lulusan SMA daripada lulusan SMK. Ini yang jadi kendala kita. Sehingga ke depan kita berharap bisa kerjasama yang lebih intens sehingga anak-anak yang dari SMK kalau mau kuliah ke politeknik,” tandas Dosen Jurusan Teknik Sipil itu.

Salah satu peserta yang hadir, Kepala SMKN 1 Soe Eduard Edison Alle mengungkapkan rasa senang dan bangga diikutsertakan dalam rapat vokasi yang diselenggarakan oleh Chilfund bekerjasama dengan Cita Madani NTT.

“Terkait dengan soft skill ini memang tadi disampaikan bahwa komunikasi itu penting. Dan saya berharap untuk nantinya kalau belum berhasil, belum ke siswa mungkin juga kita harus diawali dari guru. Karena dalam MoU ini akan di lakukan workshop diawali guru. Nah guru yang dimaksud itu berharap nanti guru bimbingan penyuluhan (Guru BP), dan Guru Agama,” ujar Kepala SMK yang memiliki 11 Program Keahlian itu. (RN)

 

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version