Daun, Embun, dan Angin

Daun, Embun, dan Angin
Aku adalah daun
Aku sudah lama tak tersirami
Hujan tak lagi menyapaku
Apalah dayaku,

Kemarau menimpa bumiku
Aku layu, pucuk ku tak lagi anyar
Aku rindu hadirnya embun
Namun aku sedikit kesal Setiap pagi
Embun yang aku cintai jatuh ke tanah dan mati

Hanya ada angin
Angin hanya bisa meniup
Angin hanya membuat aku terpisah dengan ranting ku

Tak ada lagi yang membuatku hidup
Angin hanya datang;
Dari pagi ke pagi lain
Berkelana, singgah sebentar lalu pergi

Sepucuk Surat untuk Mantan
Disini di batas kota
Aku menulis sepucuk surat
Selembar kertas putih aku nodai dengan pena ku Berisi kesan tentang indah masa laluku, Aku ingin kau tahu dan mengerti tentang surat ku yang tersirat ini

Sosok mu sulit untuk aku lupakan
Namamu masih tersimpan di lubuk hati terdalam
Seribu kenangan melekat terpampang erat

Sepanjang jalan yang aku lalui
Kurasakan hadirmu mengikuti jejak ku
Kepergian mu membuat ku ikhlas
Aku sadar dan aku tahu
Bahwa sosok mu bukan untukku lagi

Dan kini Aku,
Merajut kasih dengan sosok penggantimu
Sosok mu telah tergantikan
Hadirnya menyembuhkan luka
Lengkapi sunyi, sempurnakan segalanya
Kini ku temui duniaku…

Oleh: Priska Dewita Endang
Mahasiswi Semester Empat,
Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia,
Universitas Katolik Indonesia St.Paulus Ruteng

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version