Di Antara Doa dan Air Mata, Perpisahan Sunyi untuk Nyonya Edita Jelus di Ruteng

Bapak Agus Ampur, anak anak dan cucu duduk disamping jenasah. (Foto: WG)

RUTENG, RANAKANEWS.com – Langit Pitak, Ruteng, Sabtu pagi itu (25/4/2026), seolah ikut merunduk. Di halaman rumah duka, kursi-kursi tertata rapi, dipenuhi keluarga, kerabat, dan umat yang datang dengan satu maksud: mengantar pulang seorang ibu, seorang istri, seorang oma—Nyonya Edita Jelus.

Sejak hari pertama kepergiannya hingga saat-saat terakhir menuju pemakaman, rumah itu tak pernah sepi. Kehadiran sanak saudara yang terus berdatangan menjadi kesaksian nyata tentang hidupnya: sederhana, bersahaja, namun penuh cinta.

Dalam foto kenangan yang terpajang, ia tersenyum tulus—hangat, seolah menyampaikan terima kasih atas cinta yang telah ia terima sepanjang hidupnya. Senyum itu seperti meninggalkan pesan sunyi: bahwa hidupnya adalah tentang relasi—tentang memberi dan menerima kasih.

Di usia 76 tahun, hidupnya menjelma menjadi kisah panjang tentang kesetiaan dalam diam. Relasinya dengan suami, anak-anak, cucu, sesama, serta imannya kepada Kristus dan Bunda Maria menjadi jalan yang ia tempuh menuju Rumah Bapa.

Di tengah suasana haru, Misa pemakaman dipimpin oleh Pater Tarsisius Rewos, SDV. Dalam homilinya, ia mengajak umat merenungkan makna keselamatan.

“Keselamatan itu relasional,” tegasnya, menggemakan ajaran Paus Yohanes Paulus II—bahwa manusia menemukan arti hidup dalam relasi kasih, dengan Tuhan dan sesama.

Kalimat itu terasa hidup di tengah keluarga yang ditinggalkan.
Di dekat jenasah, Agus Ampur—suami yang setia mendampingi sepanjang perjalanan hidup—duduk dalam diam. Sesekali ia menunduk, menggenggam tangan anaknya, menahan kenangan yang datang bertubi-tubi.

Putra bungsunya, Mikael O. Ampur, dengan suara bergetar mengenang sosok ibunya. “Mama tidak banyak bicara, tapi selalu ada untuk kami. Dalam doa-doanya, kami selalu disebut. Itu yang sekarang paling kami rindukan,” tuturnya lirih.

Air mata juga tak terbendung dari cucunya, Aluysia Techan Kejuru.
“Oma selalu tunggu kami pulang, selalu tanya sudah makan atau belum. Hal-hal sederhana itu sekarang terasa sangat besar,” katanya.

Memang, tak ada kata yang cukup untuk menggambarkan sosok seorang ibu. Ia hadir dalam hal-hal kecil—dalam doa yang tak pernah putus, perhatian yang sederhana, dan kasih yang tak meminta balasan.

Usai perayaan Ekaristi, langkah-langkah perlahan mengiringi peti jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir di Golo Watu. Jalan yang dilalui bukan sekadar jarak, melainkan perjalanan kenangan—tentang tawa, pengorbanan, dan kebersamaan yang kini tersimpan dalam ingatan.

Sebelum peti diturunkan ke liang lahat, doa keluarga terdengar terbata.
“Terima kasih untuk semua cinta dan pengorbananmu, Mama. Kami percaya Mama sudah tenang bersama Tuhan,” ucap Karol Kejuru, mewakili keluarga.

Di Golo Watu, tanah menerima tubuhnya. Namun cinta yang ia tanamkan tetap hidup—berakar dalam hati mereka yang ditinggalkan.

Perpisahan ini sunyi, namun penuh makna. Sebab dalam setiap air mata, tersimpan harapan: bahwa relasi kasih tak pernah benar-benar berakhir oleh kematian.
(WG)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version