KUPANG, RANAKANEWS.com – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Ekonomi Kreatif Desa Wisata.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Disparekraf Provinsi NTT, Noldy Hosea Pellokila, S.Sos., M.M., CRMO.
Hadir pemateri dalam kegiatan ini dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif atau Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (RI), Ranto Gultom, General Maneger Desa Wisata Penglipuran Bali, I Wayan Sumiarsa, Praktisi Bidang Digital Marketing, Edri Sangaji, Praktisi Bidang ekonomi Kreatif, Johnaris Lontorin.
Dihadiri para Pejabat Eselon III Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, para ASN yang diutus dari Kabupaten/Kota serta Provinsi, pengelola desa wisata serta Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS), dari Kabupaten/Kota sedaratan pulau Timor (Kab.TTS, Kab.TTU, Kab.Malaka), Rote Ndao dan Sabu Raijua.
Materi yang disampaikan dalam kegiatan Bimtek 2 hari, Rabu dan Kamis (5-6/Juni 2024) ini meliputi mekanisme event Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dan sektor ekonomi kreatif di desa wisata, strategi pengelolaan ekonomi kreatif desa wisata, pemanfaatan sumber daya lokal sebagai daya Tarik wisata dan manajemen pemasaran desa wisata.
“Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kemampuan manajerial pengelola desa wisata pada klaster DPP-Rote Ndao dan sekitarnya,” jelas Kepala Disparekraf Provinsi NTT, Noldy Hosea Pellokila,S.Sos., M.M., CRMO, didampingi Kepala Bidang Destinasi Pariwisata, Wilhelm A. Hermanus,ST.,M.Si. usai kegiatan di Hotel Neo Aston, Kamis (6/6/2024).
“Kegiatan ini juga mendorong pemanfaatan aplikasi pendukung dalam pengelolaan desa wisata; Pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan peluang dan tren wisata perdesaan melalui pengembangan ekonomi kreatif desa wisata. Dan mendorong pemanfaatan sumber daya lokal sebagi produk dan daya tarik desa wisata, serta Mendorong implementasi Sapta pesona di lokasi desa wisata,” tambah Noldy Pellokila.
Menurut dia, sasaran dari Bimtek ini Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota sebagai penerima pelaksanaan Bimtek Penguatan Desa Wisata di daerah masing-masing. Pengelola desa wisata dan masyarakat di destinasi wisata. Dan lembaga yang berpartisipasi dalam kegiatan Desa Wisata (BUMDES), Pokdarwis, Pelaku Usaha Pariwisata, Pelaku Usaha ekomi kreatif.
Ia juga menyebutkan, sebanyak tujuh desa wisata di provinsi berbasis kepulauan itu masuk dalam 500 besar nominasi anugerah desa wisata 2024.
“Masuknya tujuh desa wisata di NTT ke dalam nominasi ADWI 2024 itu menunjukkan bahwa potensi pariwista NTT terus berkembang. Tujuh desa wisata yang lolos itu tersebar di enam kabupaten yakni Desa Wisata Fatumnasi di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Desa Wisata Hadakewa di Kabupaten Lembata, Desa Wisata Tiworiwu atau yang dikenal dengan Kampung Adat Bena.
Kemudian juga Desa Wisata Wae Lolos dan Liang Ndara di Kabupaten Manggarai Barat, Desa Wisata Pero Komba di Kabuapeten Sumba Barat Daya serta Desa Wisata Golo Loni di Kabupaten Manggarai Timur,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan, di tahun 2023 lalu ada satu desa wisata di NTT yang masuk sampai tahap akhir penilaian yakni 50 besar desa wisata terpilih yakni Kampung Adat Praijing di Kabupaten sumba Barat.
“Pemerintah NTT juga punya program untuk mendukung desa wisata di NTT, yakni dengan cara menyiapkan promosi khusus serta menyiapkan kendaraan yang khusus untuk mengantar wisatawan ke desa-desa wisata unggulan di NTT.
Misalnya kalau mau ke Fatumnasi di Kabupaten TTT ada bus yang disiapkan sehingga wisatawan mau ke lokasi tersebut,” ujarnya.
Salah seorang peserta yang hadir, Yudi Elindo Elik, S.AB mengatakan, ada beberapa tantangan yang dihadapi para pengelola Desa Wisata di setiap Kota dan Kabupaten.
“Tantangan tersebut yakni, kurangya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), rendahnya motivasi dan komitmen dari beberapa masyarakat dalam membangun Desa Wisata.
Kurangnya publikasi pengenalan Desa Wisata secara online melalui media sosial dan website, belum lengkap dan baik pada sarana prasarana Desa Wisata karena keterbatasan biaya, rendahnya pelestarian seni dan budaya lokal serta event rohani sebagai potensi wisata, rendahnya kepedulian aspek lingkungan hidup dan kebersihan, rendahnya hasil UMKM baik kuliner, produk lokal, dan potensi alam yang belum di maksimalkan, dan lain-lain,” ujar Pengurus Karang Taruna Camar Kelurahan Lasiana ini.
Lanjut Yudi mengatakan, Dari setiap materi Bimtek Pengembangan Ekonomi Kreatif Desa Wisata tersebut, dan hasil diskusi tanya jawab, para peserta mendapatkan wawasan baru dan solusi untuk menghadapi setiap tantangan dalam pengembangan Desa Wisata, baik dari perencanaan sampai mengelola Desa Wisata untuk peningkatan ekonomi bagi masyarakat.
Untuk itu setelah selesai dari kegiatan ini, bersama-sama dengan setiap peserta tetap aktif menjalin komunikasi antara pengelola Desa Wisata di setiap Kota/Kabupaten, melakukan kolaborasi dengan para stakeholder, tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat,” harap Pemuda yang aktif dibeberapa organisasi ini.
Pada kesempatan itu, Yudi juga mengharapkan selalu adanya pendampingan yang terus berkelanjutan dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Kepada peserta yang hadir diharapkan setiap materi Bimbingan Teknis yang sudah didapat langsung dilaksanakan, agar desa wisata yang maju atau mandiri bisa tercapai, sehingga memberikan hal positif dalam peningkatan pendapatan ekonomi untuk masyarakat dan pemerintah, membuka lapangan kerja, terpeliharanya kesenian dan kebudayaan setempat, tetap terjaga lingkungan hidup dan kebersihan, para wisatawan juga memperkenalkan pada calon wisatawan lainnya baik nasional dan negara lain untuk berlibur dan aktivitas di Desa Wisata,” pungkas Yudi. (TD)
