WAIKABUBAK,RANAKANEWS.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat menggelar Sosialisasi Lintas Sektor Dalam Rangka Pencapaian Eliminasi Campak dan Rubela Serta Introduksi Vaksin Baru (PCV,HPV,dan Rotavirus) Tingkat Kabupaten Sumba Barat tahun 2023 Jumat (17/02/2023)di Aula Kantor Bupati Sumba Barat Weekarau.
Ketua Panitia Pelaksana Endang Megawati Hartati menyampaikan bahwa Berdasarkan data anak usia di bawah 5 tahun akibat pneumonia (radang paru-paru) di tahun 2017 adalah sebesar 15 persen. anak mencapai 500.000 30.000 rawat inap, dan 10.000 kematian dalam setahun di Indonesia.
WHO kematian pada angka Selain itu,kasus pneumonia pada Imunisasi
PCV atau imunisasi Pneumococcal
Conjugate Vaccine merupakan salah satu jenis imunisasi yang mulai berjalan di Indonesia sejak tahun 2007 lalu. Imunisasi PCV ini bertujuan untuk mencegah penularan penyakit berbahaya seperti pneumonia ataupun meningitis.
Bupati Sumba Barat Yohanis Dade,SH dalam sambutannya yang dibacakan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Drs Imanuel Anie,M.Si menyampaikan bahwa Imunisasi merupakan cara yang paling efektif untuk memutuskan mata rantai penularan dan meningkatkan berbagai upaya pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya kecacatan dan kematian akibat penyakit campak dan rubella.
Campak dan rubella mendapatkan tantangan yang cukup serius, terutama berkaitan dengan adanya isu kehalalan vaksin yang digunakan dalam program imunisasi serta berbagai isu negatif lainnya tentang dampak imunisasi. Namun dengan meningkatnya peran dan dukungan lintas sektor serta kemajuan teknologi informasi, yang mampu memberikan informasi yang benar, tepat dan cepat tentang imunisasi campak dan rubella.
Imanuel Anie juga menyampaikan bahwa Tantangan tersebut bisa teratasi dengan mengizinkan anak-anaknya yang bersekolah ditingkat SD/sederajat dan SMP/sederajat untuk mendapatkan imunisasi campak dan rubella di sekolah, serta membawa anak-anak ke Bosyandu untuk mendapatkan imunisasi campak dan rubella, sehingga target sasaran MR lebih tercapai.
Hal ini bukan berarti kita hanya mengejar target yang ditentukan namun ketika kita dengan ketulusan dan kejujuran bekerja kita sudah mendukung kemajuan daerah ini melalui bidang kesehatan dengan menjadikan anak-anak kita, anak-anak yang sehat,”ungkap Imanuel.
Sementara itu,Kepala Dinas Kesehatan Sumba Barat dr Bonar Sinaga mengatakan bahwa Program Imunisasi merupakan salah satu upaya kesehatan masyarakat yang terbukti paling cost effective dan telah diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956.
Pemerintah berencana memasukkan tiga antigen baru dalam program imunisasi nasional.Tiga vaksin tersebut meliputi vaksin PCV (pneumococcal conjugate vaccine), vaksin rotavirus, dan vaksin HPV (human papillomavirus).Pemilihan tiga vaksin itu untuk mencegah sejumlah penyakit yang menjadi penyebab utama kematian anak dan perempuan di Indonesia.
dr Bonar B.Sinaga juga menjelaskan bahwa pemerintah telah menambahkan tiga vaksin baru yakni
1.Vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV), mencegah radang paru, radang selaput otak, radang telinga yang disebabkan oleh bakteri Pneumokokus
2.Vaksin Rotavirus, mencegah diare berat dan komplikasinya
3. Vaksin HPV, mencegah kanker leher rahim (kanker serviks) pada Wanita, yang diberikan pada kelas 5 SD untuk dosis 1 dan kelas 6 SD untuk dosis 2.
HPV atau Human Papillomavirus adalah salah satu penyebab kanker serviks yang terjadi akibat penyakit infeksi menular seksual. Kanker serviks sendiri termasuk ke jenis kanker yang cukup banyak menyerang kaum wanita setelah kanker payudara.
Penyakit kanker serviks bisa disebabkan melalui hubungan seksual baik secara anal, oral, maupun vaginal. Penyakit kanker serviks sendiri umumnya menimbulkan gejala apapun sehingga salah satu tidak cara pencegahannya adalah dengan melakukan vaksin HPV. Pemberian vaksin HPV secara berkala terbukti mengurangi persentase timbulnya kanker hingga 80 persen.
Rotavirus merupakan penyebab paling umum diare BERAT pada anak-anak di seluruh dunia. Menurut perkiraan Badan Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 215 ribu anak berusia di bawah 5 tahun meninggal setiap tahun pada 2013 akibat infeksi rotavirus pada 2013. Hampir semua anak yang berusia 5 tahun pernah terinfeksi rotavirus, dengan gejala yang ringan maupun berat. Ada cara yang efektif mencegah infeksi rotavirus, yakni dengan vaksin rotavirus (Rekomendasi WHO).
Manfaat utama imunisasi rotavirus adalah mencegah penularan diare akibat rotavirus. Sejumlah penelitian menyebutkan imunisasi rotavirus pada anak dapat mencegah hingga 74 persen. Vaksin ini bisa mencegah sekitar 98 persen infeksi berat rotavirus. Angka perawatan di rumah sakit akibat diare karena rotavirus berkurang hingga 96 persen dengan imunisasi rotavirus.
dr Bonar juga mengatakan bahwa ada upaya-upaya secara aktif yang harus dilakukan oleh Kementrian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan dan jaringannya (puskesmas),yakni melakukan SKDR (sistim kewaspadaan dini dan respon). SKDR merupakan salah satu program yang sudah dilaksanakan untuk bisa melakukan deteksi dini sebagai wujud kewaspadan.Karena semakin cepat diketahuinya kasus yang diduga, semakin cepat adanya pencegahan agar tidak terjadi penularan lebih luas,”ungkap dr Bonar.(yb/rn)












