Dukung Big Push, Distan Flotim Sudah Sebar 17,5 Ton Benih Jagung & 1,9 Ton Benih Padi ke Petani

Sekretaris Dinas Pertanian Flotim Apolinardus Yosef Lia Demoor, STP.,MM, saat ditemui Wartawan di ruang kerjanya, Senin 22 Desember 2025, Siang: Foto (OLA/Ranakanews.com)

LARANTUKA,RANAKANEWS.com-Dalam rangka mendukung program ‘big push’ Bupati-Wakil Bupati Anton Doni Dihen-Ignas Boli Uran (ADDIBU), lompatan produktivitas bidang pertanian, tahun ini Dinas Pertanian Flotim telah menebar atau mendistribusikan habis 17,5 Ton benih Jagung Komposit dan Hibridah, serta 1,9 Ton benih Padi ke tangan Petani untuk musim tanam tahun ini.

“Benih Jagung ini berasal dari pengadaan Jagung Komposit 10 Ton reguler Dinas Pertanian dari APBD Flotim, bantuan Anggota DPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Ahmad Yohan,M.Si sebanyak 15 Ton benih Jagung Hibridah, bantuan Anggota DPD RI dan Nusa 1 Propinsi benih Jagung Hibridah 1,5 Ton.

Benih ini sudah didroping dan ditanam petani di kurang lebih 2000 hektar lahan yang tersebar di 3 daratan yakni Larantuka, Solor dan Adonara.

Demikian pula dengan 1,9 Ton benih Padi, juga sudah ditanam di Daerah Irigasi Konga, Bloto, Waigowa dan Napun Nakat Hewa,”terang Kepala Dinas Pertanian Flotim, Densi Kleden,SP, melalui Sekretaris Dinas Pertanian Flotim Apolinardus Yosef Lia Demoor,STP., MM kepada Wartawan di ruang kerjanya, Senin 22 Desember 2025, Siang.

Pihaknya, sebut Dus Demoor, sapaan akrab jebolan Magister Manajemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2005, yang telah menjabat 3 tahun Sekretaris Dinas Pertanian, meskipun dengan dukungan anggaran masih terbatas akibat efisiensi pemerintah pusat melalui pengurangan Dana Transfer Daerah, namun bersama seluruh Staf dan Tenaga Penyuluh Lapangan, termasuk tenaga PPPK yang baru, langsung bergerak cepat di lapangan.

“Jadi, prinsip kerja Kami jelas dan cepat. Benih dan pupuk datang, langsung distribusi ke petani.

Tetapi, untuk Benih dari luar NTT yakni bantuan Pemerintah Pusat, harus kirim sampel ke Balai Uji Benih di Laboratorium Benih Dinas Pertanian Propinsi NTT, untuk tahu daya tumbuhnya.

Jikalau daya tumbuhnya diatas 80 persen maka benih langsung disebar ke Petani untuk tanam.

Tapi, jikalau daya tumbuhnya dibawah 80 persen, maka benih dikembalikan.

Kami tidak bisa langsung bilang oke seperti benih Jagung Hibridah.

Karena Kami tidak percaya, sebelum benih diuji laboratorium benih,”katanya, menegaskan.

Apolinardus Demoor lebih jauh menjelaskan, hal ini pernah terjadi sekitar 3 sampai 4 tahun lalu, Dinas Pertanian terpaksa tolak benih Padi bantuan Pusat, karena daya tumbuhnya dibawah 70 persen.

Berbeda, jika benih dari dalam NTT seperti Jagung Pioneer Komposit dari Bajawa, langsung dibagikan.

“Benih Jagung Komposit untuk musim tanam saat ini, lebih banyak disebar di daratan Larantuka, Wotan Ulumado, Adonara Timur, Witihama dan Kelubagolit.

Mereka lebih suka Jagung Komposit karena mau lepas simpan lama untuk dijadikan Jagung Titi.

Dimana, membuat rantai ekonomi lebih panjang dan harga naik.

Ketimbang Jagung Hibridah yang panen habis 3-4 bulan harus diedar, baik untuk Jagung Giling dan Pakan Ternak.

Seperti yang ada di Dekengderan, harus cepat keluar edar, karena tidak tahan lama kualitasnya,”ujar Dus Demoor, lebih lanjut.

Dinas Pertanian, sejauh ini lebih memilih mengembangkan benih Jagung Komposit ketimbang Jagung Hibridah ke petani.

Hanya saja, untuk mendukung agenda strategis big push, masih terkendala terbatasnya dana sehingga rencana buka 50 hektar kebun Jagung Dinas Pertanian dan 10 hektar lahan kebun benih Jagung milik Dinas Pertanian Flotim, masih dipending APBD murni tahun anggaran 2026.

Padahal, kebun benih 10 hektar, dengan hitungan bisa hasilkan 40 ton benih, dan dijual per Kilogram Rp20 ribu, yang langsung dibeli Pemda, bisa meraup dana hingga Rp800 juta, untuk kontribusi PAD.

“Iyah, kendala terbatasnya dana, sehingga program kebun benih belum jalan.

Padahal, jika kebutuhan benih tersedia, petani tidak akan mengeluh lagi dan pasti siap melakukan lompatan produktivitas karena kebutuhan benih terlayani dengan baik.

Kan, tugas pemerintah hanya 2 yakni: siapkan benih dan pupuk.

Pupuk kan sudah ditangani Pusat, sehingga kalau benih disiapkan Pemda melalui Dinas Pertanian maka big push pertanian sangat bisa tercapai.

Padahal, lokasi kebun benih sudah disiapkan di UPT Perbenihan Wotan Ulumado, dengan 3 Tenaga Ahli Perbenihan yang sudah siap kerja.

Tapi, terkendala dana yah harus ditunda. Mudah-mudahan pada momentum mendahului perubahan APBD Flotim tahun anggaran 2026, sudah bisa dianggarkan,”tukasnya, optimis.

Alokasi Dana Rp4,2 M APBD Flotim 2026 Untuk 13 Unit Sumur Bor 

Pada bagian lainnya, Pejabat Senior Pertanian, Seangkatan Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq,SP, Alumni Institut Teknologi Malang (ITM) tahun 1997 ini, bahkan lebih menjelaskan, dalam rangka mendukung program big push, Dinas Pertanian Flotim tahun 2026, juga dialokasi Rp4,2 M untuk Sumur Bor sebanyak 13 Unit, dengan pembagian 5 sumur bor dangkal dan 8 sumur dalam.

“5 sumur bor dangkal itu di Daratan Larantuka dari Watowiti sampai Mokantarak, dengan kedalaman maksimal 60 meter.

Sementara 8 Sumur Bor dalam tersebar di 3 pulau, dimana ada 3 sumur bor kapasitas besar yang diplot di Desa Tuwagoetobi, Pledo dan Titehena,”ujarnya, lagi.

Hal demikian pula dengan program pemanfaatan lahan perkarangan rumah dialokasikan Rp2 M lebih untuk 17 titik Greenhouse yang tersebar dalam Kecamatan Kota Larantuka.

Titik lokasinya akan ditetapkan setelah dilakukan CPCL.

“Semoga mendahului perubahan tahun anggaran 2026, bisa lebih cepat direalisasikan,”paparnya.

Pihaknya pun, akan melakukan audit lahan sawah di Konga dan Napun Nakat Hewa, agar bisa tahu apa saja kendalanya, dan lebih pasti dalam program peningkatan produktivitas kedepannya.

“Rencananya melakukan MoU bersama Institut Teknologi Surabaya (ITS).

Koordinasinya sudah jalan, tinggal tunggu actionnya.

Audit Sawah ini penting supaya tahu apa saja kekurangan 2 daerah irigasi ini. Apakah debit air, drainase atau kendala apa supaya pasti saat dibenahi dan optimalisasi pelayanan.

Nah, rencananya masuk 100 hektar program cetak Sawah, yang difokuskan ke Konga, Napun Nakat dan Waigowa Adonara,”tutupnya.

Selain itu, Dia berharap, dengan adanya tambahan 13 Sumur Bor tahun anggaran 2026, ditambah dengan 4 sumur bor yang belum dikerjakan pada perubahan APBD Flotim tahun anggaran 2025, maka totalnya menjadi 17 buah, dapat memberikan dukungan bagi dukungan maksimal bagi lompatan produktivitas bidang pertanian, termasuk pengembangan tanaman holtikultura, juga kedepannya untuk program sumber daya genetik dan lahan pertanian berkelanjutan. (OLA)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version