Edy Lauw dan Keluarga: Hidangan Tahun Baru Imlek yang Wajib Disantap di Tahun Macan

KUPANG, RANAKANEWS.com– Edy Lauw didampingi istri Magdalena Lay menyampaikan, setidaknya ada hidangan Tahun Baru Imlek yang wajib disantap di tahun Macan yang makmur.

Merayakan Hari Raya Imlek tahun 2022 yang jatuh pada tanggal 1 Februari. Ada sebuah kebiasaan dalam perayaan jelang dan puncak Imlek yakni tidak boleh melakukan aktifitas; kerja, usaha dan lain-lain, semua harus libur hingga besok malam puncak perayaan tanggal 1 Februari tidak boleh menyapu rumah. Libur harus dilakukan selama 8 hari.

“Tradisi kami  diawali dengan sembahyang dengan menyalakan Hio (Dupa Batangan) didepan sebuah meja makan yang diatasnya sudah ditata beberapa jenis makanan mulai dari Teh dan Anggur atau Arak sebagai jamuan awal. Beberapa jenis buah yang rasanya manis seperti  buah Naga, Pisang, Apel, Nenas dan Tebu. Dan beberapa kue yang bercita rasa manis seperti  kue mangkok yang ujungnya mekar, Cake, Bakpao, juga macam-macam kue kering. Lauk seperti: ayam panggang, babi panggang, ikan mujair bakar, dan coklat koin emas yang semuanya memiliki makna manis, lancar, menyenangkan, ceria dan makna baik lainnya sebagai simbol doa dan harapan pemilik rumah kepada Tian (Tuhan) yang dipercaya mereka,” ujar Aci Magdalena kepada media, Senin (31/1/2022).

Lanjut Magdalena didampingi suami mengatakan, setiap warga keturunan Tionghoa di seluruh dunia merayakan momen ini yang di negara Tirai Bambu jatuh pada musim semi. Namun, perayaan dan tradisi perayaan Tahun Baru Imlek dapat berbeda-beda pada setiap negara atau daerah,” sambungnya.Secara umum, Magdalena menyebutkan perayaan Imlek di Cina, lebih fokus pada malam tahun barunya, saat anggota keluarga di negara tersebut berkumpul bersama lakukan tradisi Duan Nien atau sembahyang dan jamuan makan bagi Tian (Tuhan) dan para leluhur yang sudah meninggal dunia dan keluarga besar ayah (tuan rumah)  dan keluarga besar ibu (tamu).

“Tradisi Duan Nien ini diselenggarakan oleh setiap keluarga di rumah ayah ibu (rumah tua) atau anak laki- laki tertua yang menjadi tuan rumah mewakili ayah yang sudah meninggal misalnya. Dan yang menjadi tamu adalah keluarga besar ibu terdekat,” jelas salah satu warga Kota Kupang etnis Cina dari keluarga besar Lauw/Liu Fen Sin yang berdomilisi di Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima itu.

Sebelum dilakukan jamuan minum teh, diawali dengan mengundang Tian hadir dengan membakar hio dan menyembah dan sampaikan doa dimulai dari orangtua, anak tertua sampai anak termuda didampingi suami isteri dan kemudian cucu.

Khusus untuk Tian, meja jamuan harus di luar ruangan dan menghadap ke arah matahari terbit yang diyakini sebagai tempat surga atau bersemayamnya Tian.

Jamuan makan dimulai dengan menuangkan teh tawar di cangkir-cangkir kecil, dikuiti menuangkan arak atau anggur, dan selanjutnya keluarga membakar sejumlah lembaran simbol emas berwarna kuning bergambar emas dan simbol uang pada lembaran bertuliskan angka uang yang dicetak khusus.

Pernik khusus untuk ritual Nien Duen.

Pembakaran lembaran simbol emas dan simbol uang dilakukan di luar ruangan di depan meja jamuan. Ritual ini adalah lambang persembahan kepada Tian (Tuhan) sebagai kiriman uang kepada roh para leluhur yang sudah meninggal. Karena mereka percaya roh leluhur mereka di alam sana juga memiliki kehidupan seperti di dunia dan mereka butuh uang dan emas serta makanan.

Usai sembahyang dan jamuan makan serta pembakaran lembaran uang dan emas kepada pada Tian, dilanjutkan dengan ritual yang sama bagi para leluhur dari ayah dan ibu di dalam ruangan. Tapi lembaran yang dibakar adalah perak.

Ritual mengundang roh mereka hadir dengan memanggil ke arah matahari terbit dengan membakar hio dan meyakini roh para leluhur hadir di meja jamuan makan dan salah satu anggota keluarga melayani dengan menuangkan teh sebagai teman makan kue, dan anggur atau arak sebagai teman makan daging.

Usai ritual tersebut, makan jamuan biasanya dimakan oleh anggota keluarga inti dan dipercaya memberi energi dan pengaruh atau fengshui positif, karena dipersembahkan kepada Tian dan Para Leluhur, sehingga aura positif akan membawa keuntungan, keselamatan dan kesuksesan bagi keluarga besar yang memakannya.

Lalu selanjutnya kepada para tamu lain dihidangkan makanan yang dimasak khusus untuk tamu dan diakhiri dengan menunggu hingga jam 12 malam karena dipercaya Dewa yang akan membagikan berkat.

Selain itu tradisi memakai Costum berwarna merah bagi etnis Cina dalam perayaan Imlek dan perayaan apapun menyimbolkan sifat warna merah yang cerah, ceria, berani dan bersemangat. Dan diharapkan hidup mereka dalam keluarga, hubungan sosial, pekerjaan, usaha, sekolah, kesehatan dan lain- lain akan terasa manis, menyenangkan, sukses, dan berusia panjang dan langgeng.

Dalam setiap perayaan Imlek, didepan pintu selalu dipasangkan dua batang Tebu dan daunnya yang ditautkan sampai menutup ambang atas pintu, diharapkan semua yang masuk kedalam rumah adalah hal-hal manis dan menyenangkan.

Edy Lauw dan Magdalena Lay sampaikan harapan dan doa ditahun berlambang macan air ini, keluarga mereka kuat, gagah perkasa dalam mencari nafkah. Walau karakter dan sifat macan air sebagai binatang predator dan kejam, namun keduanya berharap kehidupan mereka bersama keluarga besar akan selalu memperoleh berkat di tahun macan air 2022 ini.

“Perayaan Imlek bukan tradisi agama tapi tradisi budaya Cina. Kami merayakan sebagai sebuah tradisi budaya semata dan tidak ada hubungan dengan agama kami. Kami Katolik. Dalam perayaan Imlek kami diberi kesempatan lakukan sembahyang dan menjamu Tian dan para leluhur sebagai penghormatan terhadap keduanya. Selain kami berkesempatan berkumpul bersama keluarga besar,” ujar Edy didampingi Aci Magdalena isterinya.

“Perayaan Imlek sama seperti malam perayaan tahun baru yang biasa kita rayakan, malam setelah jam 12  ini, kami akan datang memberi ucapan selamat dan penghormatan kepada sanak sauadara yang lebih tua, besok open house bagi semua orang. Dengannya kita yang dirantau, jauh dari negara kami ini bisa saling lepas rindu dan merasakan suasana perayaan Imlek di Cina,” jelas Edy.

Dengan menjalankan tradisi Imlek dengan ritual Duen Nien dan tradisi lain, Edy dan Magdalena berharap anak cucu akan mengenal dan meneruskan tradisi tersebut dan menjaga kelangsungan etnis Cina dimanapun mereka berada. (TD)

error: Konten dilindungi!