Era Uskup Larantuka Mgr.Frans Kopong Kung, Pr Sejak 2004, Resmi Berganti Uskup Mgr.Hans Monteiro, Pr

Suasana sakral saat berlangsungnya Prosesi penabisan Uskup Larantuka, Mgr.Yohanes Hans Monteiro, Pr di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Rabu 11 Februari 2026: Foto (Doc.OLA/Ranakanews.com)

LARANTUKA,RANAKANEWS.com- Satu era kepemimpinan Keuskupan Larantuka yang panjang oleh Uskup Mgr.Fransiskus Kopong Kung, Pr selama 22 tahun sejak 2004, meneruskan pelayanan kegembalaan Uskup Mgr.Darius Nggawa,SVD, Rabu 11 Februari 2026 resmi berakhir.

Ia digantikan oleh seorang pemimpin muda berwibawa dan menyakinkan, yakni Uskup Mgr.Yohanes Hans Monteiro, Pr, yang mana saat Uskup Mgr.Fransiskus Kopong Kung, Pr ditahbiskan 22 tahun lalu sebagai Uskup Diosesan, setelah 2 tahun menjadi Uskup Konjuktor, Mgr.Hans Monteiro,Pr, yang masih menjadi Romo muda, tampil sebagai komentator yang berwibawa dan menyakinkan.

Tahbisan Uskup Larantuka Mgr.Yohanes Hans Monteiro, Pr, berlangsung sangat meriah dihadiri Wakil Dubes Vatikan untuk Indonesia Mgr.Michael Pawlovicz, 34 Uskup Se Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Melchias Markus Mekeng, Gubenur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Sikka Juventus Yoris Kago, Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq, dan Bupati Flotim Anton Doni Dihen.

Selain itu, 400 Imam dan lebih dari 5000 umat dan tamu undangan hadir memenuhi serta menyaksikan langsung penabisan Uskup Mgr.Hans Monteiro, Pr di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka.

Mulai dari dalam gereja hingga halaman luar Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka penuh sesak, termasuk anak-anak.

Seluruh rangkaian acara berjalan hikmat, aman dan lancar.

Langit pun cerah ceria dari pagi hingga sore hari.

“Ini sebuah momentum bersejarah bagi Keuskupan Larantuka, memiliki gembala utama yang lahir dengan motto yang kuat dan menyakinkan.

Uskup Mgr.Fransiskus Kopong Kung, Pr tampil dengan 2 motto sekaligus yakni: ‘Terjadilah Padaku Menurut Perkataan-Mu dan Semoga Mereka Bersatu Supaya Dunia Percaya’.

Meski jarang seorang Uskup memilih 2 foto, apakah karena Uskup Larantuka memimpin 2 kabupaten Flores Timur dan Lembata, atau karena alami bencana alam letusan 2 gunung api Lewotobi Laki-Laki dan Ile Lewotolok, lalu ada Pulau-pulau, yang memberi pesan bathin yang selalu terbuka pada kehendak Allah.

Sementara itu, Uskup Mgr.Hans Monteiro, Pr memilih satu motto.

Kata satu disebut tiga kali. Unu-Unus-Una, dimana seluruh diri manusia disapa.

Satu tubuh-satu roh-satu pengharapan. Menyentuh dan mengajak seluruh kelompok.

Menyadarkan Kita, apapun perbedaan diantara Kita, hidup di bawah kolong langit yang satu dan menjejakan kaki diatas bumi yang sama, serta anak-anak dari Tuhan yang sama,”terang Uskup Agung Keuskupan Ende, Mgr.Paulus Budi Kleden,SVD dalam kotbah tahbisan Uskup Larantuka, Mgr.Hans Monteiro, Pr, tersebut.

Lebih lanjut Mgr.Paulus Budi Kleden, SVD mengatakan, motto tahbisan Uskup Mgr.Hans Monteiro, Pr juga membuka mata Kita untuk melihat betapa ada jurang yang dalam, terbentang diantara Kita.

“Antara Mereka yang hidup dalam kelimpahan dan Mereka yang merana dalam kemiskinan ekstrim.

Antara Mereka yang berada di lingkaran kekuasaan dan Mereka yang terpental ke pinggiran.

Kita sering membangun tembok pemisah dari orang yang berbeda suku dan pilihan politik.

Kita hidup dalam kecurigaan yang laten terhadap Mereka yang berkeyakinan lain,”tambahnya, mengingatkan.

Uskup Budi Kleden juga menekankan, salah satu dari motto Bapa Uskup Mgr. Frans Kopong Kung, Pr tentang kesatuan, “Semoga semua Mereka bersatu”, hendaknya semakin membuat Kita semua bersatu dalam merawat kasih kegembalaan penuh persaudaraan, memperluas wawasan dengan merangkul seperti kebijaksanaan sang guru, serta terus mensyukuri persatuan dalam berbagai perbedaan yang ada, hingga mampu memperjuangkan dengan sikap dan pesan kenabian.

Itulah menjadi tugas seorang Uskup, panggilan orang beriman dan tanggungjawab setiap anak manusia.

Sebagaimana Motto Unum Corpus, satu tubuh, satu gereja, satu kepala, dengan peran berbeda dan khas,”ujarnya.

“Karena itu, Uskup Mgr.Hans Monteiro, Pr tidak ada alasan memandang diri lebih penting dan berkuasa dari yang lainnya.

Atau sebaliknya, lebih rendah dari yang lain.

Tetapi, memberi ruang kepada yang lain untuk berpartisipasi, serentak memupuk arah dan berani mengambil keputusan.

Untuk itu, butuh ketaatan mewujudkan kesatuan. Membawa semua orang ke dalam kesatuan.

Merangkul semua, terutama orang-orang dengan alasan tertentu menjauhkan diri,”tandas Uskup Budi Kleden, SVD, mendalam.

Ia juga menegaskan, kesatuan memberi pesan kuat untuk mencegah satu kelompok yang terlampau dominan, sambil menutup ruang bagi yang lainnya.

“Mempererat persatuan butuh usaha yang sungguh.

Merangkul Mereka yang kehilangan pegangan hidup, seperti pada anak-anak dan orang dewasa yang alami kemiskinan harta, relasi, perhatian dan lainnya, yang berada di jurang keputusasaan.

Kesatuan juga menuntut ketersediaan dan kesanggupan mengatasi ketersinggungan pribadi dan menumbuhkan kerelaan saling mengampuni.

Seperti Yesus yang bangkit menghembusi murid-muridNya dengan Roh Kudus dan memberi Mereka kuasa,”tegasnya.

Di bagian lainnya, Mgr.Paul Budi Kleden, SVD juga menggarisbawahi motto Unus Spiritu Uskup Mgr.Hans Monteiro, Pr.

Menurutnya, motto ini menyatakan, harus satu roh, satu semangat.

Sebab, tanpa semangat yang sama maka satu menjadi tak berdaya.

Lepaskan Petani & Nelayan Dari Genggaman Agresif Tengkulak

Sebagaimana pesan Nabi Yesaya, ‘Roh Tuhan ada padaMu,’ Mgr.Budi Kleden,SVD menegaskan bahwa Roh Tuhan yang diturunkan ke Uskup Mgr.Hans Monteiro, Pr supaya dibebaskan dari penjara ingat diri dan sanggup mewartakan kabar kebebasan untuk melepaskan petani dan nelayan Kita dari genggaman para Tengkulak yang kian agresif.

“Juga membebaskan keluarga dari cengkraman lembaga keuangan melalui pinjaman online, koperasi selamat pagi.

Keberanian melawan praktek perdagangan orang dan menghentikan pembabatan hutan dan pencemaran air.

Tindakan mengeksploitasi sumber kekayaan alam, menghancurkan ekosistem dan mengoyahkan kesatuan masyarakat.

Roh keberanian ini harus dihidupkan agar gereja tak sekedar menjadi bangunan struktur yang rapih dan tertata.

Tetapi, kesatuan sungguh menjadi sakramen yang membawa keselamatan dan ketentraman bagi banyak orang yang mendapatkan perlakuan tidak adil,”seru Uskup Budi Kleden, SVD dalam homilinya.

Ia juga menegaskan, Imam, Uskup dan Rohaniawan, selain urus soal rohani, tidak dilarang punya kewajiban mengurus hal duniawi, untuk mengupayakan kebebasan yang bersifat materil.

“Ini menandai Gereja turut bertanggung jawab atas ketimpangan dan kemiskinan yang terjadi.

Sebab, pandangan kristiani itu tubuh tidak terpisah dari roh. Sama seperti roti dan anggur dalam Ekaristi diubah menjadi tubuh dan darah Kristus dari hasil usaha manusia.

Yang dipersembahkan diatas altar Tuhan adalah hasil jerih payah manusia. Karena itu, kelestarian alam dan bumi harus tetap dijaga,”seru Uskup Budi Kleden, SVD.

Demikian pula dengan motto Unas Spec, sambung Uskup Budi Kleden, SVD memberi pesan bergerak bersama sebagai satu tubuh yang sama, dimana roh Kudus menyalakan api harapan yang sama di dalam roh Kristus yang Kudus, yang bangkit menjadi gereja tubuh Kristus yang tersalib di tengah perjuangan hidup umat dan masyarakat Kita.

Hal ini sejalan dengan momentum tahun Yubileum 2025 yang baru saja ditutup dan sidang agung gereja katolik Indonesia ke 5, yang mengingatkan Kita semua agar menjaga dan menyebarkan api harapan di tengah dunia yang kian kehilangan harapan, lantaran Kita para pemimpin kerap menggunakan jalan kekerasan, mudah cuci tangan dan mempersalahkan orang lain.

“Kerap memberi ancaman dan ketakutan, ketimbang memilih jalan dialog.

Mari Kita terus nyalakan api harapan dalam berbagai kerinduan, penantian dan kesabaran para pelayan dan pejuang.

Seperti api harapan yang terus menyala dalam hati para pengungsi letusan gunung api Lewotobi Laki-Laki dan Ile Lewotolok.

Demikian juga Bapa Uskup Mgr.Hans Monteiro, Pr, yang hari ini bale Nagi pulang kampung dalam rangkulan Tuan Ma untuk mewartakan Tuan Ana dalam perutusannya, sebagai pintu harapan merangkul kemanusiaan Kita yang tersalib.l,”tutup Uskup Budi Kleden, SVD.(OLA)

error: Konten dilindungi!