Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Adidoyo Prakoso berharap bahwa forum ini mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang konkret dan implementatif.
KUPANG, RANAKANEWS.com — Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Pemerintah Provinsi NTT menggelar Flobamorata Business and Economic Forum 2026 pada Kamis (23/4) di Aula Rote–Sabu, Hotel Harper Kupang.
Forum ini menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dan kebijakan berbasis riset untuk mendorong transformasi ekonomi daerah yang lebih inklusif dan berdaya saing.
Mengusung tema “Ketangguhan Menuju Kemajuan: Sinergi Transformasi Ekonomi NTT yang Inklusif dan Berdaya Saing”, kegiatan ini menjadi ruang kolaboratif antara pemerintah, akademisi, peneliti, dan pelaku usaha dalam merumuskan arah kebijakan ekonomi yang berdampak nyata.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, dalam pidato kunci menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mempercepat transformasi ekonomi berbasis potensi lokal. Ia menekankan pentingnya hilirisasi sebagai strategi utama untuk meningkatkan nilai tambah di dalam daerah.
“Kita ingin semakin banyak masyarakat terlibat dalam proses produksi, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan secara merata,” ujarnya.
Selain hilirisasi, Gubernur juga menyoroti penguatan UMKM dan ekosistem usaha sebagai motor utama penggerak ekonomi daerah.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Adidoyo Prakoso, menyampaikan bahwa forum ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang konkret dan implementatif.
“Melalui forum ini, kami berharap terjadi pertukaran gagasan yang konstruktif untuk menghasilkan aksi nyata dalam mendorong kemajuan ekonomi NTT,” kata Adidoyo.
Dalam kesempatan tersebut, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi NTT juga meluncurkan program KARSA NUSA (Kolaborasi Riset dan Inovasi Ekonomi NTT) yang ditandai dengan pembukaan Call for Paper tahun 2026.
Program ini bertujuan menjembatani hasil riset akademik dengan kebutuhan kebijakan daerah.
Gubernur NTT mengapresiasi inisiatif tersebut dan berharap KARSA NUSA tidak hanya menghasilkan kajian, tetapi juga mampu mendorong implementasi kebijakan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Pada sesi talkshow, sejumlah narasumber nasional dan lokal turut membahas strategi transformasi ekonomi NTT. Di antaranya Dr. Thomas Ola Langoday (Dewan Pembina ISEI Kupang), Dr. Agr. Didit Okta Pribadi (BRIN), serta Amirullah Setya Hardi, Ph.D (UGM).
Para narasumber menyoroti bahwa struktur ekonomi NTT saat ini masih didominasi sektor primer. Oleh karena itu, diperlukan penguatan nilai tambah melalui hilirisasi agar mampu memperkuat struktur ekonomi daerah dan mengurangi ketergantungan terhadap produk luar.
Forum ini juga dihadiri Wakil Ketua I DPRD NTT, unsur Forkopimda, perwakilan DJPb, BPS, OJK, OPD, pimpinan perbankan termasuk Bank NTT, serta lebih dari 120 mahasiswa dari delapan perguruan tinggi di Kota Kupang.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat arah pembangunan ekonomi NTT yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan. (*/TD)
