Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena berpidato pada rapat Senat terbuka luar biasa pengukuhan guru besar di Universitas Nusa Cendana, (foto: NHW)
KUPANG, RANAKANEWS.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena menghadiri Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Pengukuhan Guru Besar di Universitas Nusa Cendana, Rabu (8/4/2026) siang.
Dalam kegiatan yang berlangsung di Auditorium Undana tersebut, tiga akademisi resmi dikukuhkan sebagai guru besar, yakni Linda W. Fanggidae, William Djani, dan Zakaris Seba Ngara.
Dengan penambahan tersebut, Undana kini telah memiliki total 79 guru besar sejak berdiri pada 1 September 1962.
Gubernur Melki menyampaikan apresiasi atas capaian akademik tertinggi yang diraih ketiga profesor tersebut. Ia menilai, kehadiran para guru besar menjadi aset intelektual penting dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan di NTT.
“NTT memiliki kekayaan besar sekaligus tantangan kompleks. Karena itu, pembangunan harus berbasis sains dan pendekatan humanis,” ujarnya.
Menurutnya, Undana memiliki posisi strategis sebagai pusat pemikiran (think tank) di kawasan Indonesia Timur, terutama dalam memberikan kontribusi riset dan gagasan bagi pemerintah daerah.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam menghasilkan kebijakan yang tepat sasaran dan berkelanjutan.
“Pemerintah daerah membutuhkan dukungan ide inovatif dan riset akademik untuk menjawab persoalan pembangunan,” katanya.
Sementara itu, Rektor Undana Jefri S. Bale menyebut pengukuhan tiga guru besar tersebut sebagai indikator meningkatnya kapasitas kelembagaan kampus dalam melahirkan kepemimpinan intelektual.
Ia juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat, namun tetap tidak dapat menggantikan peran manusia dalam aspek empati dan pengalaman.
“AI bisa memberi teori, tetapi tidak memiliki pengalaman empiris. Di sinilah peran guru besar menghadirkan makna dan konteks dalam dunia nyata,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ketiga guru besar juga menyampaikan orasi ilmiah sesuai bidang keahliannya, mulai dari arsitektur dan perilaku manusia, reformasi kebijakan kesehatan, hingga inovasi material berbasis karbon untuk pertanian.
Kegiatan ini menegaskan peran penting perguruan tinggi dalam mendorong pembangunan daerah berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.(MN/RN)
