
LARANTUKA,RANAKANEWS.com – Terlalu lamanya warga korban erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki dari Desa Nurabelen, Nobo & Dulipali Kecamatan Ile Bura di tenda pengungsian Desa Konga, lantaran takut kembali ke rumah karena merasa terancam terus dengan erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki, maka sebaiknya dipikirkan untuk merelokasi warga dari 3 desa ini ke tempat pemukiman yang baru, yang jauh lebih aman dari ancaman erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki, agar warga bisa hidup lebih tenang dan nyaman kedepannya.
“Daripada setiap saat warga dihantui dengan ketakutan jangan sampai besok, lusa tiba-tiba gemuruh lagi, luncur lahar panas lagi, air laut naik lagi, banjir lagi, gempa lagi, maka sebaiknya mereka direlokasi ke wilayah lainnya, supaya warga hidup lebih damai selamanya,”demikian pernyataan salah seorang warga Ile Bura, Pankrasius Blolon dan Wempi Tukan, saat obrol santai bersama Ranakanews.com, Senin (29/01/2024) malam di Lewotobi.
Dikatakannya, akan jauh lebih baik jika Pemda Flotim perlu memikirkan mencari pemukiman baru yang lebih aman bagi warga korban pengungsian dari Desa Nurabelen, Nobo dan Dulipali, guna menghindari bencana erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki, dan ancaman bencana lainnya kedepan.
Pasalnya, jika tidak dipikirkan perlu adanya lokasi baru yang lebih aman, dikhawatirkan saat bencana datang lagi, warga akan panik lari meninggalkan rumah dan kampung halamannya, lalu mengungsi dalam waktu yang lama seperti saat ini.
“Nah, hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi. Kasihan warga Nurabelen, Nobo, Dulipali harus lari karena takut dengan erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki, padahal sampai sekarang rumah mereka aman, seperti Kita semua di Lewotobi.
Kita semua juga dapat abu vulkanik, dengar gemuruh dari Gunung dan juga terkena banjir kalau hujan lebat, serta angin kencang.
Kita prihatin dengan warga Desa Nurabelen, Nobo dan Dulipali, kenapa enggan pulang ke rumahnya.Sehingga jauh lebih baik dicari lokasi pemukiman baru yang lebih aman kedepannya, seperti di wilayah Palue Desa Neleknohing Wulanggitang, atau Wilayah Demonpagong,”ujar Pankrasius lagi. (OLA)