IAKN Kupang dan Bank Dunia Ekonomi Berkolaborasi Tingkatkan Mutu Pendidikan di NTT

KUPANG, RANAKANEWS. Com- Mahasiswa Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang tentunya memberikan rasa bertanggung jawab bagaimana mengambil peran bukan saja di lingkungan kampus dia belajar di dalam kelas untuk mendapatkan sebuah nilai atau angka- angka di dalam transkrip nanti, tetapi bagaimana mengambil peran dalam lingkungan masyarakat.

Ini salah satu tanggung jawab Mahasiswa Pascasarjana, dia mengambil peran di lingkungan masyarakat. Jadi dia bukan saja hanya dilingkungan kampus untuk kecerdasan dirinya saja, untuk mencapai nilai yang kemudian akan keluar di transkrip-transkrip tapi bagaimana dia bermanfaat bagi masyarakat juga.

Dosen IAKN Kupang Mata Kuliah Anthropology, Dr.Lanny Koroh, M.Hum.

Hal ini diungkapkan Dr. Lanny Koroh, M.Hum, Dosen Pascasarjana IAKN Kupang yang juga sebagai moderator pada  Seminar yang diinisiasi oleh Mahasiswa Pascasarjana IAKN Kupang angkatan 2021, kelas B dengan tema “Literasi Keuangan dan ‘Teologi’ Uang dalam Aneka Perspektif” di Aula Hotel Cahaya Bapa Naikoten Kupang, Sabtu (18/6/20222).

Pantauan media acara tersebut dihadiri narasumber antara lain, Pater Gregor Neon Basu, SVD, P.hD, Pdt. Dr. Nelman A.Weny,M.Th, Hilarius Minggu Dirut Teknologi  Informasi dan Operasional Bank NTT, Dedy (OJK), Kristo Embu Pemimpin Redaksi Harian Pagi Timor Express Kupang dan dimoderatori Dr. Lanny Koroh, M.Hum, dengan mematuhi protokol kesehatan.

Lebih lanjut Dosen Lanny mengatakan, ‘Hari ini IAKN Kupang kelas B mencoba mengkolaborasi, jadi selama ini orang melihat bahwa lingkungan komunitas atau sekolah agama itu lebih banyak berkolaborasi dengan lingkungan gereja, masyarakat biasa, tetapi kali ini kami mencoba bahwa dia bisa berkolaborasi dengan dunia-dunia bank ekonomi bisa memberikan sumbangsih seperti OJK dan Bank NTT pada  hari ini,” ujar Lanny.

Dosen  mata kuliah  Anthropology ini mengharapkan ”IAKN bisa bersama sama bergandengan tangan dengan pemerintah, khususnya Provinsi NTT dalam meningkatkan mutu pendidikan di NTT.

Kedua, lanjut Lanny, tentu karena ini adalah seminar literasi, kami sangat memiliki keyakinan bahwa  kami pun bisa mengambil bagian dalam peran literasi. Kita tahu bersama Provinsi NTT ini  sudah digadang-gadang sebagai Provinsi literasi. Bahkan mungkin diantara provinsi-provinsi lainya hanya kami di NTT yang memiliki  bunda literasi. Untuk itu kami menegaskan bahwa kami mahasiswa IAKN Kupang mendukung penuh gerakan- gerakan literasi yang ada di Provinsi NTT,” pungkasnya.

Sementara itu, Pdt Dr. Nelman A.Weny,M.Th, Dosen Pascasarjana IAKN Kupang mengatakan bahwa Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) juga sudah ada dalam lembaga gereja. Namun KKN dalam lembaga gereja dibungkus rapih menggunakan ayat Alkitab.

“Dari perspektif teologis alkitabiah, Alkitab juga berbicara tentang uang. Semua kegiatan entah itu dari jaman Romawi Kuno, Yunani Kuno, Babilonia Kuno dengan versi masing-masing, orang Antropologi yang lebih tahu tapi uang itu sudah ada.

Bahkan sampai Yesus, Paulus dan gereja sampai sekarang ini pakai uang untuk melayani. Ketika uang dibawa masuk keranah teologi, signifikasinya apa? Signifikasi uang selalu disembah, diidolakan, uang bisa jadi Tuhan dan bisa menggantikan Tuhan. Karena itu saya bilang teologinya dalam tanda petik. Itu catatan klarifikasi pertama,

Yang kedua, hampir pasti belum ada tulisan di Indonesia yang berbicara tentang teologi uang. Literatur-literatur asing, Inggris yang saya dapatkan ada sekitar 809 yang secara eksplisit bicara tentang uang misalnya Got ang money dan cara mengelola uang milik Tuhan. Tapi secara spesifik belum ada,

Kenapa ini menjadi topik (Teologi uang) karena ribut-ribut, perpecahan gereja, perkelahian para gembala, semuanya itu sebenarnya kalau jujur akarnya ada tiga. Kekuasaan, harta gono gini karena gereja jadi perusahaan dan ketiga itu adalah masalah uang.

Tapi uniknya di lingkungan keagamaan, ribut-ribut tentang uang, korupsi dan seterusnya, cara pembungkusnya sangat rapih. Kalau di dunia teologi, dunia gerejawi, korupsi, nepotisme, dan sebagainya, dia punya bungkusnya adalah ayat alkitab, ayat kitab suci. Semua itu berkat Tuhan. Titik disitu.

Nah kalau sudah  omong berkat pasti dikasih, Pak Pendeta mohon diterima ini ada berkat Tuhan. Padahal yang disebut berkat Tuhan itu Cuma sedikit, Cuma satu titik tapi yang diambil sebagai milik pribadi itu miliaran,” ungkap Pendeta Nelman saat mengklarifikasi tema seminar.

Pendeta Nelman yang membawakan materi dengan tema Perubahan Sosial dalam Perspektif teologis untuk Mendukung Gerakan  Literasi Finansial dan Teologi  Uang di Provinsi  NTT lebih jauh menjelaskan, tiga kondisi obyektif factual saat ini yakni penyakit gila kerja, gila pakai dan gila belanja atau penyakit konsumerisme. Cara mengatasi penyakit ini yakni dengan etika dan moralitas Kristen sehingga cara mencari dan mendapatkan uang juga dilakukan secara benar.

Sekretaris Panitia Seminar, Simson Kause, S.Pd dalam laporannya menyampaikan tujuan seminar antara lain, agar masyarakat generasi milenial mendapatkan pengetahuan, informasi dan keyakinan tentang gerakan literasi finansial dan aneka produk lembaga keuangan. Kemudian agar masyarakat milenial memiliki kecakapan atau keahlian dalam menggunakan dan mempercayai aneka produk tersebut.

Setelah mengetahui betapa pentingnya literasi keuangan maka masyarakat milenial diharapkan terhindar dari aneka penipuan yang bermotif investasi. Selain itu agar masyarakat milenial cerdas dalam memilih dan memilah aneka produk investasi dari lembaga keuangan yang ada di Provinsi NTT. Dan masyarakat generasi milenial dapat mengetahui peran dan kontribusi media massa dalam mendukung kegiatan  literasi di NTT.

Kristo Embu, Pemimpin Redaksi  Harian Pagi Timor Express Kupang mengapresiasi kepada IAKN Kupang yang telah menggelar forum ilmiah ini.

“Seminar yang digelar IAKN Kupang  sangat bagus dan sangat bermanfaat bagi masyarakat NTT,” ungkap Kristo.

Menurutnya literasi finansial penting sekali dalam hal pengelolaan dan pemanfaatan keuangan. Karena semakin baik literasi finansial maka masyarakat semakin pintar menggunakan keuangan terutama untuk kepentingan produktif seperti menabung dan investasi.

“Sekarang kita berada di posisi buntut dari 34 provinsi. Pemangku kepentingan harus terus melakukan sosialisasi sehingga indeks literasi finansial kita makin bagus,” tegas Kristo. (TD)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version