Jalan Trans Nobo-Nurabelen Diterjang Banjir Lumpur Gunung Lewotobi, Waikula & TPI Paling Rawan

Bikin panik dan terancam lumpuh kondisi jalan trans Nobo-Nurabelen dan Plat Deker TPI Nurabelen Kecamatan Ile Bura yang diterjang banjir lahar dingin Gunung Lewotobi, Rabu 12 November 2025 pukul 15.00 WITA, yang sempat divideokan warga: Foto (Doc.FB/OLA/Ranakanews.com)

LARANTUKA, RANAKANEWS.com – Hujan lebat, Rabu 12 November 2025 pukul 15.00 WITA di kawasan puncak Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Perempuan, telah memberi ancaman nyata bagi Desa Nurabelen, dimana beberapa titik jalan trans Nobo-Nurabelen Kecamatan Ile Bura terendam banjir lumpur tebal.

Sementara areal Waikula dan dekat Tempat Pabrik Tepung (TPI) Ikan Nurabelen, menjadi titik paling rawan, karena telah terendam air berlumpur tebal.

Kondisi genangan banjir lumpur tebal setinggi betis orang dewasa.

Meskipun, masih dilalui sepeda motor dan mobil, namun harus ekstra hati-hati, terutama bagi pengendara sepeda motor.

Apalagi, saat melintas malam hari. Sebab, seluruh badan jalan ditutup air berlumpur tebal, yang sangat menyulitkan pengendara saat berpapasan.

Genangan air berlumpur tebal ini jaraknya cukup panjang yakni tak kurang dari 50 meter badan jalan.

Kondisi ini bisa mengakibatkan arus transportasi  lumpuh jika itensitas hujan meningkat dalam beberapa hari kedepan.

Selain 2 titik terparah ini, areal yang patut diwaspadai saat hujan lebat di puncak Gunung Lewotobi yakni jembatan TPI dan juga plat deker Nurabelen dekat rumah bengkel otomotif Bapak Samson Nama Ola.

Pasalnya, kendatipun luapan banjir lumpurnya terus terbawa ke laut dan badan jalan relatif tak berlumpur serta masih nyaman dilalui kendaraan sepeda motor, namun luapan banjirnya cukup besar saat hujan.

Bahkan, dari video warga yang beredar,  terlihat jelas luapan banjir lahar di areal plat deker TPI Nurabelen cukup deras sampai mengenangi badan jalan.

Demikian pula di plat deker dekat rumah bengkel otomotif Samson Nama Ola, pun meluap deras ke badan jalan dan ancam rumah warga karena sempitnya mulut gorong-gorong plat deker, yang tidak  mampu menampung besarnya aliran banjir lahar dari Gunung Lewotobi.

Beberapa pengendara sepeda motor tak bisa melintas dan terpaksa turun dari motor, lalu ditolong warga dorong motor, karena derasnya banjir.

Hal yang sama disaksikan Wartawan, saat melintas dari arah Larantuka-Nobo-Nurabelen, sekitar pukul 18.30 WITA, terutama di Waikula dan dekat TPI Nurabelen, kondisinya sangat mendebarkan.

Betapa tidak, sejumlah mobil maupun para pengendara sepeda motor, baik dari arah Nurabelen-Nobo, maupun sebaliknya harus menerjang banjir lumpur tebal setinggi pergelangan kaki orang dewasa.

Bahkan, beberapa orang yang dibonceng terpaksa turun dari sepeda motor dan berjalan kaki ditengah genangan air lumpur karena sepeda motor tak bisa menerobos tebalnya lumpur, hingga ada sepeda motor yang sempat mati mesin.

“Iyah, ini mengerikan sekali banjir lumpur. Lumayan tebal lumpurnya membuat jalan makin sulit dilalui.

Harus sangat hati-hati. Apalagi malam hari,”ujar salah seorang pengendara,  yang baru saja pulang dari Desa Lewotobi ikut pemakaman kerabat, saat berpapasan di Waikula.

Demikian pula, kondisi jalan sekitar 50 meter di areal dekat TPI Nurabelen, yang kini digenangi banjir berlumpur setinggi betis kaki orang dewasa, juga membikin sulit saat melintas dengan sepeda motor.

Karena itu, bagi para pengendara sepeda motor diingatkan agar selalu waspada saat melintasi jalur Nurabelen jika sedang turun hujan di puncak Gunung Lewotobi.

“Bagi warga Ile Bura maupun pihak lain yang ingin melintasi jalur Nurabelen, sebaiknya memantau dengan baik perkembangan cuaca sebelum bepergian.

Kalau sudah malam hendaknya tidak perlu melintasi jalur ini, karena Kita tidak tahu kondisi di Gunung Lewotobi apakah sedang hujan atau tidak,”ujar Samson Nama Ola, yang juga Satgas Tanggap Darurat Desa Nurabelen, saat dikonfirmasi, Rabu (12/11/2025) malam.

Pihaknya berharap, perlu ada langkah cepat tanggap darurat bersama yang melibatkan unsur desa, kecamatan dan pemerintah kabupaten Flores Timur menyikapi kondisi ini, sebelum musim hujan puncak tiba. (OLA)

 

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version