
LARANTUKA,RANAKANEWS.com –
Jalur jalan selatan Ile Bura trans Nobo-Wutun, saat ini menjadi jalur alternatif yang masih aman dilalui kendaraan membawa para penyintas erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki, kendati kondisi jalannya rusak parah di segmen Desa Lewoawang ke Riangbura, yang jaraknya sekitar 1 Km.
Kerusakan ekstrim hampir 500 Meter, terutama di tanjakan tajam Tobialen sekitar 300 an meter, disertai jalur rawan longsoran batu dari Dusun Buranilan Desa Lewoawang sekitar 300 meter juga.
Kondisi buruk ini tidak pernah diperbaiki sampai sekarang, walau jalan ini setiap saat menjadi urat nadi perekonomian 1.378 jiwa warga Desa Lewoawang dan 780 jiwa warga Desa Riangbura.
Termasuk sebagian besar warga Desa Persiapan Lewouran, dari total 547 jiwa yang saat ini tinggal di desa pemekaran Desa Lewotobi Kecamatan Ile Bura.
“Iyah, mestinya sudah harus mendapat perhatian serius pemerintah untuk segera diperbaiki, terutama kondisi rusak berat mulai dari Desa Lewoawang ke Desa Riangbura, sekitar 2 Km terus ke arah Desa Waiula Kecamatan Wulanggitang.
Apalagi, saat ini menjadi jalur satu-satunya yang masih bisa dilalui dengan aman untuk mengevakuasi para korban erupsi di Desa Kokang Wodong, Hewa, Nawakote dan Waiula menuju lokasi pengungsian di Kecamatan Titehena.
Maupun, saat membawa pulang para penyintas ke Desanya seperti yang terjadi sekarang.
Jalan selatan Ile Bura ini harus segera diperbaiki supaya bisa lebih lancar saat melintas.
Medan jalan di Lewoawang ke, Riangbura itu sangat buruk dan rawan kecelakaan,”ujar beberapa warga penyintas asal Desa Waiula, yang enggan disebut namanya saat ditemui di tenda pengungsian, belum lama ini.
Pihaknya, merasa bersyukur walaupun dengan kondisi jalan seperti itu, tapi masih bisa dilewati.
Demikian pula, salah seorang warga penyintas Gunung Api Lewotobi Laki-Laki, yang ditemui di Larantuka, dengan mobil Pick up miliknya bermuatan penuh barang mengakui kalau rute Waiula-Nawakote-Duang Bawalatang-Podor-Boru, pasca diterjang banjir dan tidak bisa dilalui kendaraan mobil, maka jalur selatan Waiula-Riangbura-Nobo Kecamatan Ile Bura menjadi pilihan satu-satunya, meski kondisi jalannya ekstrim di tanjakan tajam barat dan timur Desa Riangbura.
“Mau lewat dimana lagi. Mau atau tidak mau
harus lewati jalur Desa Riangbura yang terkenal dengan tanjakan dan menurun tajam jalan rusak di Waoalen dan Tobialen.
Kita jalan pelan-pelan dan ekstra hati-hati. Hanya kasihan supir yang baru lewat dan belum kenal medan jalan itu.
Syukurlah semua masih aman dan selamat,”ujar Yustin Raya, salah seorang warga penyintas belum lama ini.
Jalur ini setiap hari dilintasi sepeda motor dan mobil, bagi warga di desa terdekat yang ke kebun, kantor dan sekolah, maupun kegiatan lainnya.
Namun, pasca letusan hebat Gunung Api Lewotobi Laki-Laki Minggu 03 November 2024, pukul 24.00, yang membuat kerusakan parah rumah warga, rumah ibadah, sekolah dan kantor, bahkan jalan raya rute Podor-Nawakote pun rusak diterjang banjir lahar saat hujan lebat, memaksa jalur transportasi darat harus dialihkan ke selatan melewati Waiula-Riangbura-Lewoawang-Lewotobi-Riangrita-Nurabelen dan Nobo masuk ke jalan negara Maumere-Larantuka.
Mobil Tim Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Republik Indonesia, saat turun mengevakuasi warga korban erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki mulai dari Kokang Wodong, Hewa, Nawakote dan Waiula pun memilih jalur selatan Ile Bura.
Juga saat pendropingan bantuan beras dan bahan kebutuhan pokok lainnya ke warga terisolasi di Desa Riangrita, Lewotobi, Lewoawang dan Riangbura, dari pemerintah dan donatur pun melalui jalur ini.
Terbaru, Sabtu 7 Desember 2024 saat pemulangan warga penyintas Gunung Api Lewotobi Laki-Laki dari Desa Hewa, dan Minggu 8 Desember 2024 dari Desa Waiula.
“Mengantisipasi musim hujan puncak pada Bulan Maret hingga April 2025, yang bisa berpotensi membuat jalur ini makin rusak dan sulit dilalui, maka Kami berharap Pemerintah Pusat bisa segera perbaiki jalur jalan ini, terutama pada titik kerusakan paling ekstrim, dari Dusun Buranilan ke Desa Riangbura, apalagi jalur ini semakin ramai dilalui kendaraan,”pungkas Wilem Mare, Fritz Mukin, Sam Ola dan beberapa warga Ile Bura lainnya, kepada Wartawan.
Diketahui, jalan trans Nobo-Wutun Kecamatan Ile Bura, kini masih satu-satunya jalur yang paling aman dilintasi sebulan terakhir pasca letusan Gunung Api Lewotobi Laki-Laki.
Lalu lintas kendaraan yang biasanya, 20 menit hingga 30 menit baru satu kendaraan melintas, kini ramai dan lancar dilintasi, termasuk Angkutan Desa jurusan Maumere-Larantuka, lantaran jalur Nawakote-Boru masih rusak dan belum bisa dilewati. (OLA)