Jedah Erupsi, Kaki Gunung Lewotobi di Nurabelen-Nobo Mulai Tumbuh Hijau

Tampak jelas Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Perempuan, jedah erupsi dari Desa Nurabelen hingga 2 pekan ini. Di Kaki Gunung mulai tumbuh hijau pohon dan rumput bisa dilihat dari jalan Trans Nobo-Nurabelen saat melintas: Foto (OLA/Ranakanews.com)

LARANTUKA,RANAKANEWS.com –
Selepas tak erupsi besar seperti beberapa waktu lalu, dan makin teduhnya Gunung Lewotobi Laki-Laki hingga memasuki pekan ke 2,  lereng hingga kaki Gunung Api Lewotobi Laki-Laki mulai terus cerah dan terlihat jelas pada pagi, siang hingga sore hari.

Demikian pula, puncak kawah pun tak lagi mengeluarkan nyala api pada malam hari.

Kondisi ini mendorong aktivitas warga seputar Nobo-Nurabelen hingga Lewotobi-Riangbura Kecamatan Ile Bura mulai normal, lancar tanpa panik berlebihan, meski tetap waspada.

“Iyah, syukurlah Gunung Lewotobi mulai normal dan tidak erupsi lagi sudah 2 pekan ini.

Sehingga warga makin normal aktivitasnya. Melintasi jalur Waikula Nurabelen ke Nobo juga sudah tidak trauma lagi, apalagi kawasan kaki Gunung Lewotobi terlihat mulai hijau kembali,”ujar Blasius Witin, warga Desa Lewotobi, saat obrolan bersama Wartawan, Rabu (14/5/2025) sore.

Ia bahkan mengakui, mulai berani keluar bersepeda motor ke Larantuka, meski saat lintas di Waikula masih agak trauma melihat tampilan wajah Gunung Lewotobi Laki-Laki yang hangus gundul dari puncak hingga lereng.

“Dengan melihat kaki Gunung Lewotobi Laki-Laki yang mulai hijau kembali di areal Nurabelen-Nobo, Kita mulai semangat dan merasa yakin jika Gunung Api Lewotobi Laki-Laki mulai teduh, turun aktivitas kembali normal dan tenang,”ujarnya.

Hal yang sama dengan Angkutan pedesaan jurusan Larantuka dan Maumere, pun pengguna sepeda motor makin ramai berlalu lintas.

Truk pengangkut material batu pasir juga kian lancar berpacu reit memburu pelanggan, guna menyambung asap dapur yang sempat terhenti lama akibat amukan Gunung api Lewotobi Laki-Laki.

Selain itu, ada juga yang membuat legah adalah, pemandangan berbeda di seputar kawasan lereng-kaki Gunung Lewotobi sekitar areal Nobo-Nurabelen yang kering dan tandus, kini mulai tumbuh daun hijau dari pohon dan semak rumput yang terlihat jelas saat melintasi jalan di areal Waikula Nurabelen.

Sebagaimana pantauan langsung Wartawan saat melintasi jalur sore hari belum lama ini, terlihat jelas sebagian kawasan lereng hingga kaki Gunung Lewotobi Perempuan dan seluruh bagian Gunung Api Lewotobi Laki-Laki yang hangus disiram abu api panas vulkanik, kini mulai tumbuh daun hijau di bagian kaki Gunung.

Demikian pula, asap yang biasanya saban hari muncul di lereng hingga kaki Gunung pun tampak menghilang, menebar suhu dingin.

Hawa panas ekstrim yang kerap dirasakan saat melintas di area Waikula pun, mulai sejuk mengibas angin sepoi-sepoi.

Hanya saja, debu dan aroma belerang di jalan raya masih kerap mengganggu penglihatan serta lalu lintas pernapasan, baik melalui hidung dan mulut bagi pengendara saat melintasi jalur Waikula.

Maklum, jarak Waikula dengan Kali sangat dekat dengan kaki Gunung Lewotobi Laki-Laki. Tak lebih dari 3 Km.

Karena itu, setiap pengendara yang melintas diharapkan selalu waspada dan memakai masker.

Warga Waikula Nurabelen Beraktivitas Seperti Biasa

Dibagian lainnya, warga Waikula Nurabelen, tetap melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa.

Mereka berkebun memanen hasil, gembala ternak, ambil kayu api, membuka kebun baru, dan melakukan aktivitas lainnya di rumah dari pagi, siang, sore hingga malam.

Kendatipun Gunung Api Lewotobi Laki-Laki masih berada di level III Siaga, namun, Warga Ile Bura berharap perbaikan infrastruktur dasar jalan, jembatan dan normalisasi hulu sungai dari Gunung Lewotobi bisa segera dilakukan Pemda Flotim saat memasuki musim kemarau bulan Juni hingga Oktober 2025.

Sekaligus gerakan bersama melakukan reboisasi di kawasan kaki Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Perempuan, sekitar Nurabelen-Nobo-Dulipali-Klatanlo hingga Nawokote.

“Saya kira, dari kondisi riil dampak erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-Laki, maka hal yang paling penting, yang bisa dilakukan saat ini oleh Pemda Flotim adalah memperbaiki kondisi jalan, jembatan dan hulu-hulu sungai mulai dari Waikula-Nurabelen Ile Bura, serta digerakkan kegiatan reboisasi untuk mengantisipasi musim hujan nanti.

Selain, memikirkan kondisi warga terdampak yang berada di Huntara, namun Pemda Flotim juga wajib memikirkan solusi terbaik saat ini bagi warga Ile Bura dan Wulanggitang lainnya yang bisa terisolasi ketika musim hujan tiba, jikalau kondisi jalan, jembatan dan hulu-hulu sungai tak segera ditangani dengan konstruksi yang lebih baik,”ujar Anton Kedang, warga Ile Bura saat ngobrol bersama Wartawan di Lewotobi, belum lama ini.

Menurutnya, ancaman serius terhadap jalur jalan dan jembatan sepanjang Nurabelen-Waikula ketika musim hujan tiba, harus diperhitungkan dengan serius oleh Pemda Flotim dan mulai mendapat penanganan saat musim kering.

“Terutama jalur sepanjang Waikula sekitar 100 meter yang sempat putus saat hujan lebat beberapa waktu lalu, kemudian sampai di depan PPI Nurabelen, samping lapangan bola kaki desa Nurabelen dan jembatan setelah SDK Nurabelen.

Hal ini untuk memastikan kondisi jalur transportasi darat tidak terputus saat musim hujan tiba,”ujar Anton Kedang, lagi.

Hal yang sama disampaikan warga lainnya, yang meminta Pemda Flotim agar segera menangani masalah infrastruktur dasar dan jangan sampai urusan jalan, jembatan dan hulu-hulu sungai dari kaki Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Perempuan tak ditangani dengan baik sebelum musim hujan tiba.

“Terus terang ini hal mendesak sekali, apalagi saat mulai musim kering harus segera dikerjakan.

Jika tidak maka saat musim hujan tiba nanti, akan menimbulkan masalah besar yakni banjir besar dari Gunung Lewotobi yang bisa membuat lumpuh total jalur transportasi,”tegas Anton Liwu, warga Desa Waiula Kecamatan Wulanggitang.

Dirinya berencana bersama sejumlah perwakilan warga bertemu Bupati-Wakil Bupati Flotim Anton Doni Dihen-Ignas Boli Uran untuk menyampaikan usulan kebutuhan serius dan mendesak ini.

“Daripada uang Rp1,250 M beli Videotron dan Sound System, Rp500 juta buat jalan senang-senang di Solor, yang tidak ada manfaatnya yang jelas bagi masyarakat, lebih baik dialihkan untuk perbaikan kondisi infrastruktur jalan, jembatan dan hulu-hulu sungai di Nawakote-Waiula dan Nurabelen Ile Bura,”pungkasnya, serius. (OLA)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version