Uskup Ruteng Mgr Sipri mengunjungi korban di Pota 19 Agustus 26 (Foto: Karitas KR)
RUTENG, RANAKANEWS.com — Karitas Keuskupan Ruteng terus memperkuat respons kemanusiaan bagi korban gempa bumi Flores yang mengguncang wilayah Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur pada 15 Agustus 2026.
Dalam siaran pers Karitas Keuskupan Ruteng, disebutkan bahwa hingga Minggu, 23 Agustus 2026, tercatat 71 korban jiwa, 1.147 orang terluka, 24.084 rumah rusak, serta 80.775 warga mengungsi akibat gempa berkekuatan 7,7 magnitudo tersebut.
Karitas Keuskupan Ruteng melalui lembaga pelayanan sosialnya bergerak sejak pascagempa dengan melakukan respons tanggap darurat yang cepat dan terintegrasi.
Respons awal dilakukan dengan membantu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ben Mboi Ruteng yang terdampak berat dan harus merawat pasien di halaman rumah sakit. Selain itu, bantuan berupa 27 tenda darurat yang merupakan bantuan booth Festival Golo Curu Keuskupan Ruteng juga dimanfaatkan untuk kebutuhan penanganan pascagempa.
Karitas kemudian berkoordinasi dengan 61 paroki di wilayah Keuskupan Ruteng untuk mengumpulkan data korban, lokasi terdampak, serta kebutuhan masyarakat. Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah pertolongan darurat.
12 Ton Beras Disalurkan
Hingga 23 Agustus 2026, Karitas Keuskupan Ruteng telah menyalurkan bantuan berupa 12.011 kilogram beras atau sekitar 12,01 ton, 1.081 dos makanan siap saji, 396 dos air, 416 paket perlengkapan kebersihan, serta 69 paket kebutuhan lainnya.
Bantuan tersebut telah diterima sekitar 11.907 orang/j jiwa yang tersebar di berbagai lokasi bencana pada 23 paroki.
Selain bantuan material, Keuskupan Ruteng melalui lembaga Karitas, gereja, paroki, komunitas biara dan lembaga pendidikan juga membantu para korban yang tidak memiliki banyak sumber daya.
Layanan Medis dan Trauma Healing
Karitas Keuskupan Ruteng juga menggelar pelayanan medis yang dipimpin empat dokter dari Karina Indonesia.
Pelayanan tidak hanya menyasar kebutuhan fisik, tetapi juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis korban. Penguatan psikospiritual dilakukan melalui doa bersama, sementara tenaga medis dan relawan memberikan pendampingan kepada para korban yang mengalami trauma.
Pendampingan psikososial juga dilakukan bagi kelompok masyarakat yang terdampak, termasuk anak-anak.
Karitas menyatakan upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk mewujudkan wajah Gereja yang peduli, berbelarasa dan “berjalan bersama” dengan para korban bencana.
Uskup Ruteng Ajak Umat Bantu Korban
Sejak sehari setelah gempa, Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, mengeluarkan imbauan kepada seluruh umat, biara, komunitas dan lembaga di wilayah Keuskupan Ruteng agar segera membantu dan menolong korban bencana.
Umat juga diajak menggelar perayaan Misa Minggu di lapangan terbuka sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan gempa susulan.
Karitas Keuskupan Ruteng selanjutnya mengunjungi sejumlah wilayah yang disebut mengalami dampak cukup parah, antara lain Reo, Dampek, Pota, Paroki Beano dan Beamese di wilayah Cibal. Karitas juga menjangkau daerah-daerah yang sulit diakses seperti Pota bagian pegunungan, Elar, Lamba Leda dan Manus.
Karitas Keuskupan Ruteng menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, Karitas Nasional (Karina Indonesia), perusahaan, komunitas dan seluruh pihak yang telah mendukung penanganan korban gempa.
Keuskupan Ruteng juga mengingatkan agar koordinasi penanganan bencana terus diperkuat, terutama karena kebutuhan sembako, air minum bersih, sanitasi dan dukungan psikososial masih berlanjut.
“Bencana boleh mengguncang bumi Flores, tetapi tidak akan pernah menghancurkan semangat kebersamaan dan bela rasa umat Allah,” demikian pesan Karitas Keuskupan Ruteng dalam siaran pers tersebut. (*/WG)
