LARANTUKA,RANAKANEWS.com- Ratusan umat Katolik mengiringi perarakan dua relikui (Benda Suci) Santo Petrus Rasul dari Takhta Suci Vatikan menuju Gereja Stasi Santo Petrus Rasul Lewouran, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, Rabu (5/8/2026).
Diiringi doa dan nyanyian liturgi, relikui berupa segumpal tanah dari makam Santo Petrus Rasul serta sepotong batu bata dari Pintu Suci Basilika Santo Petrus diarak memasuki gereja sebelum diserahkan dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin Pater Markus Solo Kewuta, SVD (Padre Marco), dengan konselebran Pastor Paroki Santo Yosep Lewotobi, Pater Moses Watan Boro, Pr.
Suasana khidmat menyelimuti seluruh rangkaian perayaan. Usai doa bersama di pelataran gereja, relikui ditakhtakan di dalam gereja.
Bagi umat, peristiwa ini bukan sekadar penyerahan benda suci, melainkan peneguhan ikatan Gereja lokal di Flores Timur dengan Gereja Katolik universal, sekaligus harapan agar Lewouran berkembang menjadi tempat peziarahan iman.
Stanislaus Jumar Sudiyana, Sekretaris PWKI, melaporkan dari Larantuka, Flores Timur bahwa Padre Marco mengajak umat merenungkan sabda Yesus dalam Injil Matius 16:13-19. Kepada Simon, Yesus berkata, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku…. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.”
Menurut Padre Marco, sabda itu menjadi fondasi Gereja sekaligus menjelaskan makna kehadiran relikui Santo Petrus di Lewouran.
“Relikui ini bukan untuk disembah. Relikui menjadi tanda yang mengingatkan Kita akan kesaksian iman Santo Petrus yang tetap setia mengikuti Kristus hingga akhir hidupnya.
Batu karang yang dimaksud Yesus adalah iman yang teguh kepada-Nya. Karena itu, Kita semua dipanggil menjadi batu-batu hidup yang membangun Gereja melalui kasih, persaudaraan, dan pelayanan,”ujarnya.
Dua relikui yang diserahkan berasal dari Vatikan, yakni segumpal tanah dari makam Santo Petrus Rasul dan sepotong batubata dari Pintu Suci Basilika Santo Petrus. Keduanya disertai salinan dokumen autentikasi yang menegaskan keasliannya.
*Iman, Pengharapan, dan Kasih*
Pastor Paroki Santo Yosep Lewotobi, Romo Moses Watan Boro, menyebut kehadiran relikui sebagai rahmat besar bagi umat Stasi Santo Petrus Rasul Lewouran.
Ia menegaskan, relikui bukan sekadar benda suci, melainkan tanda yang menguatkan kehidupan rohani umat.
“Relikui ini menjadi pengingat akan kesetiaan Santo Petrus kepada Kristus. Kami berharap umat Stasi Santo Petrus Lewouran semakin teguh dalam iman, semakin kuat menghadapi berbagai tantangan kehidupan, dan semakin berani menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat,”kata Romo Moses.
Ia menambahkan, kehadiran relikui dari Vatikan juga membawa tanggung jawab bagi umat untuk memelihara semangat persaudaraan, memperdalam kehidupan doa, serta menjadikan Gereja Stasi Santo Petrus Rasul Lewouran sebagai tempat peziarahan yang menghidupkan iman dan harapan.
Rasa syukur juga datang dari umat. Mateus Belan, salah seorang umat Stasi Santo Petrus Lewouran, mengaku tidak pernah membayangkan kampung kecil tempat ia dilahirkan akan menerima relikui dari Vatikan.
Bagi pensiunan guru itu, kehadiran relikui merupakan anugerah yang akan dikenang lintas generasi.
“Kami seluruh umat Stasi Santo Petrus akan menjaga dan merawat relikui ini. Kami percaya nantinya semakin banyak umat, termasuk dari luar Paroki Lewotobi, akan datang berdoa di sini. Ini sungguh menjadi anugerah dan sukacita besar bagi kami,”ujarnya.
Ucapan Mateus mencerminkan kegembiraan banyak umat. Di tengah kampung sederhana di kaki Gunung Lewotobi, kehadiran relikui dipandang bukan sebagai kebanggaan semata, melainkan amanat untuk menjaga warisan iman sekaligus menyambut para peziarah yang kelak datang mencari keheningan, doa, dan pengharapan.
Bagi umat Lewouran, penyerahan relikui tersebut menjadi tonggak sejarah baru. Dari sebuah stasi kecil di Flores Timur, mereka kini memiliki tanda nyata yang menghubungkan perjalanan iman dengan Santo Petrus, rasul yang oleh Yesus dipercaya menjadi batu karang Gereja.
Seusai perayaan Ekaristi, ratusan umat berbaris dengan tertib menuju altar. Satu per satu mereka berlutut, memanjatkan doa, lalu mencium kedua relikui sebagai ungkapan hormat dan devosi kepada Santo Petrus. Dalam suasana hening, sebagian umat tampak menitikkan air mata, sementara yang lain berdoa dengan khusyuk. Pemandangan itu menutup rangkaian perayaan dengan sebuah kesaksian sederhana bahwa relikui bukan sekadar warisan sejarah Gereja, melainkan juga menjadi sarana yang meneguhkan iman, pengharapan, dan kasih umat di kampung kecil Lewouran. (*/OLA)
