Foto bersama Pengurus KuliDesBang, Ansel Alaman dan Adam Musi, bersama Pastor Paroki Denge Rm. Maksi Larung, Ketua DPP, DKP serta para tokoh umat, di Pendopo Pastoran Denge. (Foto: Willy G.)
RUTENG, RANAKANEWS.com – Komunitas Peduli Desa Demi Bangsa (KuliDesBang) mendorong pengembangan usaha tani buah dan hortikultura melalui pelatihan petani berbasis paroki di wilayah Satar Mese Raya, Kabupaten Manggarai.
Dorongan tersebut mengemuka dalam pertemuan antara pengurus KuliDesBang, Ansel Alaman dan Adam Musi, bersama Pastor Paroki Denge Rm. Maksi Larung, Ketua DPP, DKP serta para tokoh umat, di Pendopo Pastoran Denge, Minggu, 6 September 2026.
Program ini secara khusus menyasar generasi muda untuk mengembangkan komoditas buah yang dinilai dekat dengan kehidupan masyarakat sekaligus memiliki peluang ekonomi, antara lain melon, semangka, buah naga dan durian.
Kehadiran KuliDesBang dalam program tersebut bukan sekadar memberikan pelatihan teknis. Organisasi ini hendak membangun pola usaha tani yang berkelanjutan melalui pelatihan, pendampingan dan kaderisasi petani muda.
Setiap Paroki Rekrut Lima Petani
Dalam rancangan program tersebut, paroki menjadi basis perekrutan sekaligus pendampingan peserta.
Tahap pertama melibatkan enam paroki, yakni Todo, Narang, Ponggeok, Iteng, Denge dan Langke Majok, dengan target keseluruhan 30 petani muda.
Masing-masing paroki mendapat kuota lima orang. Untuk Paroki Denge, pengembangan semangka dan durian menjadi komoditas prioritas, sementara melon dan buah naga juga menjadi pilihan untuk dikembangkan sesuai potensi lahan dan kemampuan petani.
Program ini diarahkan kepada anak muda yang memiliki minat dan pengalaman bertani serta bersedia mengikuti proses pelatihan dan pendampingan hingga tahap pemasaran.
Peserta nantinya tidak hanya dibekali kemampuan produksi, tetapi juga diarahkan masuk dalam Jaringan Kelompok Tani Buah (Japoktabu) sebagai wadah bersama untuk memperkuat kerja sama dan posisi tawar petani.
KuliDesBang juga menempatkan program ini sebagai bagian dari kaderisasi tokoh muda di desa. Petani muda diharapkan tidak hanya menjadi pelaku produksi, tetapi berkembang menjadi penggerak usaha pertanian di komunitasnya.
Paroki Denge Siap Dorong Umat
Pastor Paroki Denge, Rm. Maksi Larung, menyambut baik rencana pelatihan tersebut.
Menurutnya, kegiatan usaha pertanian sebenarnya sudah dilakukan umat di wilayah Paroki Denge. Namun, pengembangannya selama ini belum dilakukan secara intensif.
“Sudah ada kegiatan, hanya usaha ini belum intensif,” ujar Rm. Maksi Larung.
Ia berharap rencana pelatihan yang ditawarkan KuliDesBang mendapat respons positif dari umat.
“Semoga dengan rencana pelatihan disambut dengan baik. Kami akan mendorong umat kami untuk ikut kegiatan ini,” katanya.
Dukungan paroki menjadi salah satu kekuatan utama dalam model program tersebut. Paroki diharapkan tidak hanya menjadi tempat perekrutan peserta, tetapi ikut mendukung koordinasi dan keberlanjutan kegiatan usaha tani.
Jangan Hanya Bisa Menanam, Pasar Harus Jelas
Persoalan pemasaran menjadi salah satu perhatian dalam pertemuan tersebut.
Nasarius Fidin, alumnus STFT Widya Sasana Malang. salah seorang tokoh muda paroki itu, mengatakan pengembangan pertanian tidak akan berjalan optimal apabila persoalan pasar tidak ikut dijawab.
“Pasar kurang jelas, semoga dengan upaya ini dapat jalan,” kata Nasarius Fidin.
Kekhawatiran tersebut menjadi tantangan penting bagi program KuliDesBang. Petani tidak cukup hanya memiliki kemampuan menanam, tetapi harus mampu menghasilkan produk yang berkualitas, kontinu dan sesuai kebutuhan pasar.
Selama ini, produksi buah di Manggarai cukup beragam. Namun, persoalan budidaya, kualitas, kontinuitas produksi dan pemasaran masih menjadi kendala. Di sisi lain, kebutuhan buah dan hortikultura untuk sektor pariwisata Labuan Bajo masih terbuka lebar.
Karena itu, KuliDesBang hendak mengubah pola pelatihan dari sekadar “bisa menanam” menjadi “bisa berusaha”.
Petani akan didampingi mulai dari pemilihan lahan dan benih, pengolahan tanah, pemupukan, perawatan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, panen, pascapanen hingga pemasaran.
Menyasar Pariwisata hingga MBG
Program tersebut pada akhirnya diarahkan untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk petani lokal.
Selain pasar masyarakat, hasil produksi diharapkan dapat masuk ke rantai kebutuhan pariwisata Labuan Bajo, program Makanan Bergizi Gratis (MBG), serta pasar lokal.
Tahap pertama program menargetkan 30 petani dari enam paroki. Penanaman tahap pertama direncanakan mulai Oktober 2026, kemudian dilanjutkan tahap kedua pada Desember 2026.
Dengan pola pendampingan berbasis paroki, KuliDesBang berharap pelatihan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Targetnya adalah lahirnya petani muda yang terampil, produktif dan mampu membangun usaha tani secara mandiri, sekaligus memperkuat posisi petani lokal dalam rantai ekonomi Manggarai Raya.
Bagi KuliDesBang, pertanian buah bukan sekadar soal menanam melon, semangka atau buah naga. Lebih jauh, program ini hendak membangun kader petani muda yang mampu melihat pertanian sebagai masa depan ekonomi desa. (WG)












