Anggota DPRD Manggarai Frederikus Andy Ongkor (Dedy Ongkor), angkat bicara. Ia menilai Dinas PUPR lalai. ( Foto ist. )
RUTENG, RANAKANEWS.com – Siang itu, hujan baru saja reda di Desa Poco. Jalan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ncolang tampak becek, bercampur lumpur dengan tumpukan batu dan pasir yang berserakan di badan jalan.
Seorang pengendara motor harus menurunkan kecepatan, matanya awas menghindari material proyek yang menghalangi jalur. Ban motornya sesekali tergelincir, membuatnya harus menahan napas.
Di tepi jalan, Arsy Jina, warga Poco, menggelengkan kepala melihat kondisi itu. “Kalau tidak dibersihkan, materialnya sangat rentan dengan kecelakaan lalu lintas,” ujarnya.
Baginya, jalan ini bukan sekadar akses menuju TPA, tetapi jalur vital yang setiap hari dilalui warga untuk bekerja, berbelanja, dan mengangkut hasil tani.
Kondisi jalan yang tak kunjung dikerjakan membuat anggota DPRD Manggarai, Frederikus Andy Ongkor (Dedy Ongkor), angkat bicara. Ia menilai Dinas PUPR lalai.
“Proyek ini sudah ada SPK sejak Agustus, tapi sampai sekarang belum jalan. Ini bentuk kelalaian, dan Dinas PUPR harus segera bertindak,” tegasnya.
Ia khawatir waktu pengerjaan yang singkat, ditambah hujan deras yang terus mengguyur, akan membuat kualitas pekerjaan menurun. “Material sudah ada di lokasi, tapi pekerjaannya belum dimulai. Saya khawatir hasilnya nanti tidak maksimal,” tambahnya.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Chitra Ayu Purwarini, menjelaskan bahwa pengerjaan belum dimulai karena alat yang dibutuhkan belum tiba. “Belum ada alat,” katanya singkat.
Meski demikian, ia yakin proyek tetap selesai sesuai kontrak yang berakhir 25 Desember 2025. Sementara itu, warga yang melintas harus beradaptasi dengan kondisi jalan. Mobil pick-up pengangkut hasil tani tampak melambat, roda belakangnya berputar di atas batu-batu yang licin. Anak-anak sekolah yang berjalan kaki harus menepi, menghindari genangan air bercampur pasir.
Bagi warga Poco, jalan ini adalah denyut nadi aktivitas. Material yang berserakan bukan hanya mengganggu, tetapi juga menimbulkan rasa cemas setiap kali hujan turun.
Meski penuh keluhan, warga tetap menaruh harapan besar. Mereka ingin proyek ini segera berjalan, bukan sekadar janji.
“Intinya jangan sampai mangkrak. Kami butuh jalan ini segera,” kata seorang warga dengan nada penuh harap. ( KH/RN )
