Oleh: Redemtus Auni Alen
Ketika luka masa lalu diwariskan dari generasi ke generasi, masyarakat Humusu Oekolo menawarkan jawaban melalui ritus “hel keta” : menarik lidi, memutus dendam. Ritus ini bukan sekadar upacara adat, melainkan cara masyarakat Dawan memilih damai di tengah warisan konflik.
Ritus hel keta di Humusu Oekolo bukanlah tradisi yang melawan etika. Ia justru merupakan bentuk etika rekonsiliasi yang mengajarkan pengampunan, keberanian untuk menghadapi luka masa lalu, dan pemulihan hubungan sosial.
Luka yang Diwariskan
Konflik antar keluarga atau suku sering tidak berakhir pada generasi yang mengalaminya. Luka masa lalu dapat diwariskan melalui sumpah, larangan, dan kebiasaan yang membatasi hubungan sosial, termasuk hubungan perkawinan. Dalam masyarakat Dawan di Humusu Oekolo, warisan konflik tersebut menjadi penghalang bagi keturunan pihak-pihak yang pernah berselisih.
Ritus kel keta hadir sebagai upaya budaya untuk memutus rantai permusuhan tersebut. Secara harfiah, hel keta berarti “menarik lidi”. Lidi melambangkan pembatas atau penghalang, sehingga menarik lidi bermakna menyingkirkan segala hambatan yang memisahkan pihak-pihak yang mewarisi konflik masa lalu.
Etika Rekonsiliasi
Hel Keta mengandung etika rekonsiliasi: mengakui luka masa lalu, menghentikan dendam, dan membangun kembali hubungan yang rusak. Rekonsiliasi menuntut keberanian untuk menghadapi sejarah, bukan menyangkalnya.
Dalam perspektif etika, hel keta menolak pola “mata ganti mata”. Masyarakat tidak membalas kejahatan atau permusuhan masa lalu, melainkan memilih pembebasan timbal balik. Pihak yang terlibat konflik dibebaskan dari belenggu kesalahan masa lalu, sedangkan keturunannya dibebaskan dari beban dendam dan ketakutan.
Simbol Pemulihan
Pelaksanaan hel keta memiliki makna simbolis yang kuat. Pada tahap inti, lidi yang menjadi tanda penghalang ditarik lalu dihanyutkan ke sungai. Tindakan ini menyatakan bahwa sumpah serapah, larangan, dan permusuhan masa lalu telah hilang.
Selain itu, penarikan calon suami oleh calon istri menggunakan selendang menunjukkan bahwa calon suami telah bebas dari penghalang untuk memasuki keluarga calon istri. Penyembelihan hewan dan penghanyutan sebagian darah juga menjadi simbol berakhirnya konflik, kekerasan, dan peperangan masa lalu.
Makan Bersama sebagai Tanda Damai
Tahap akhir hel keta adalah santap bersama. Kedua keluarga besar duduk dan makan di tempat yang sama sebagai tanda bahwa hubungan yang sebelumnya terputus telah dipulihkan. Momen ini menegaskan persaudaraan, penerimaan, dan keharmonisan antar pihak.
Dari sudut etika, makan bersama bukan sekadar bagian upacara. Ia merupakan tindakan sosial yang menunjukkan bahwa perdamaian harus diwujudkan dalam relasi nyata, bukan hanya dalam tuturan atau niat.
Relevansi Masa Kini
Dalam kehidupan yang sering diwarnai perpecahan dan kebencian kolektif, hel keta memberi pelajaran penting. Perdamaian tidak cukup dibangun dengan melupakan masa lalu; ia memerlukan pengakuan atas luka, kesediaan memaafkan, dan tindakan nyata untuk memulihkan hubungan.
Ritus ini juga mengingatkan generasi muda untuk tidak mewarisi kebencian sebagai identitas. Warisan konflik seharusnya menjadi kesadaran untuk membangun relasi yang lebih adil, manusiawi, dan harmonis.
Hel keta mengajarkan bahwa luka masa lalu tidak harus menjadi penjara bagi generasi berikutnya. Melalui simbol penarikan lidi, penghanyutan tanda permusuhan, dan santap bersama, masyarakat Humusu Oekolo memilih jalan rekonsiliasi.
Oleh karena itu, hel keta merupakan bentuk etika lokal yang mengajarkan pengampunan, keadilan, dan pemulihan hubungan. Ia menegaskan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk memilih damai, memutus rantai dendam, dan membangun masa depan yang lebih harmonis.
Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.










