LARANTUKA,RANAKANEWS.com-Indahnya Padang Ilalang Wulokolo Lamatutu, ujung Tanjung Bunga yang mulai tampak hijau gagah saat senja di kejauhan dari bukit Teletabis, yang kini menjadi sentra pengembangan Sapi bibit Bali berskala modern ‘Big Push Lompatan Jauh’ Bupati Flotim Anton Doni Dihen, pasca tibanya Sapi 200 ekor, Senin 28 September 2026, makin menarik banyak mata ke sana untuk melihat dari dekat.
Sebab, padang seluas 200 hektar sesuai data Pemda Flotim, yang selama ini ‘tidur’, kini disulap nyata Bupati Anton Doni Dihen menjadi sentra pengembangan bibit Sapi Bali.
Aktivitas pembibitan ternak Sapi potong itu pun resmi dimulai sejak 11 November 2025 hingga 31 Desember 2025, kemudian diadendum hingga di PHO pada 29 Mei 2026, yakni: kegiatan pengolahan lahan dan penanaman pakan ternak, pasca tandatangan kontrak kerja antara Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunter) Flotim bersama LSM Barakat, dengan nilai kontrak Rp1,002 M.
Paket proyek big push ini lantas dilanjutkan ke tahap kontrak pengadaan Sapi 700 ekor senilai Rp5,38 M pada 24 Juni 2026, antara Disbunter Flotim dan CV.Chatalea Pratama selaku pemenang tender.
Dinamika panjang pun terjadi, baik di Lembaga DPRD dan Pemda Flotim, maupun ruang publik terhadap proyek strategis Lompatan Jauh’ ini.
Terutama terkait kesiapan lahan dan pakan ternak di sentra Wulokolo yang diragukan banyak pihak.
Hingga puncaknya saat Bupati Anton Doni memberi perintah lisan kepada Plt.Kadis Bunter drh.Vian Kiti Tokan dan PPK Yosef Arnoldus Pati Hurint,ST untuk adendum pengadaan Sapi turun menjadi 150 ekor jelang tibanya Sapi, karena pakan belum siap, tapi ditolak.
Buntutnya, Yosef Aryo Sucipto Pehan Keraf,SE,.M.Si mendadak ditunjuk Bupati Anton Doni menjadi Plt.Kadis Bunter, untuk bernegosiasi dengan penyedia jasa Sapi, namun tidak berhasil karena kontraktor tetap ngotot mengirim Sapi sesuai kontrak awal.
Dan, akhirnya pada Senin 28 September 2026, datanglah Sapi 200 ekor dari Kupang menuju Wulokolo, yang berbuntut 40 ekor mati karena diduga kelelahan.
Perintah lisan Bupati Anton Doni untuk Adendum pengadaan Sapi dari 700 ekor ke 150 ekor, karena kondisi Pakan belum siap, sepertinya tak berujung pasti.
Suka atau tidak suka, Sapi 157 ekor itu, kini sudah ada di sentra Padang Wulokolo Lamatutu.
Sementara, kondisi Padang Wulokolo kini menghadirkan tantangan dan ancaman serius, karena stok pakan di lokasi yang sangat miris.
Keberadaan Hijau Makanan Tambahan (HMT) seperti rumput Gajah (Kingress) tak sebanding sama sekali dengan jumlah Sapi.
Apalagi rumput Benggala, Brachiaria, Lamatoro dan Reo, tak terlihat sama sekali. Mungkin dilalap api saat Padang Wulokolo terbakar, tapi belum ada data riil yang menjelaskan.
Demikian pula, dengan tanaman lainnya seperti Gamal dan Angsono, pun hanya beberapa stek yang hidup. Sementara lainnya jadi kayu kering.
Dibagian lainnya, Sapi 157 ekor sebagaimana data yang diperoleh Wartawan di lokasi Sentra Wulokolo, per Rabu 30 September 2026, dengan rincian 200 ekor tiba hari Senin 28 September 2026, 40 ekor mati dan 7 ekor hilang, telah ditemukan kembali 4 ekor, dan 3 ekor masih dicari, memang terlihat mulai lebih nyaman beradaptasi dengan habitat barunya.
Sapi terlihat sudah berada dalam pagar kawat berduri yang terus dikebut pengerjaannya, walau banyak kayu dan rumput kering, juga tanah berarang hitam bekas terbakar.
Sapi Mulai Nyaman di Sentra Wulokolo
Kondisi Sapi yang mulai nyaman beradaptasi, juga diungkapkan salah seorang petugas lapangan saat ditemui Wartawan Rabu 30 September 2026, sore.
“Sapi mulai aman. Tidak ada yang mati lagi, setelah hari pertama mati 40 ekor.
Sedangkan, Sapi 7 ekor yang hilang itu, 4 ekor sudah ditemukan, sehingga jumlahnya 157. Sementara Sapi 3 ekor lainnya masih terus dicari,”ujar petugas lapangan yang enggan ditulis identitasnya.
Sementara soal pakan, diakuinya memang masih sangat kurang dan mesti segera didatangkan dari luar.
Bahkan, dari fakta lapangan yang terendus Media, saat tiba di lokasi Rabu, 30 September 2026 sore, terlihat jelas kalau jumlah tanaman rumput gajah yang ada sangat kurang dan tak bisa diandalkan saat ini.
Situasinya sangat buruk dan berbanding terbalik dari informasi yang beredar luas di ruang publik.
Pihak terkait yang selama ini berbusa-busa katakan bahwa stok pakan siap, bahkan sampai puluhan hektar di lokasi Sentra Wulokolo, tak terbukti di lapangan.
Dari tampak fisik rumput Gajah yang ada saat ini, jika boleh dipotong daunnya dan ditimbang pun, beratnya bisa saja tak sampai 10 Kg, yang cuman kasih makan 1 (satu) ekor Sapi satu hari dan habis.
Padahal, tanaman rumput Gajah ini direncanakan 100 ribu anakan, dengan dana Rp100 juta.
Demikian pula, dengan tanaman lainnya seperti Lamatoro, Gamal dan Angsono, kondisinya jauh lebih miris.
Tanaman Lamatoro yang ditargetkan 20 ribu anakan dengan dana Rp100 juta, justru baru muncul setinggi jari tangan, dan sulit ditemukan.
Sedangkan, Gamal dan Angsono, baru juga muncul daun dari stek batang yang ditanam.
Itupun, hanya beberapa saja. Sedangkan lainnya sudah menjadi kayu kering yang berdiri.
Sementara tanaman lainnya seperti rumput Benggala 9,60 hektar dengan menelan dana Rp100 juta tak terlihat.
Hal yang sama dengan budidaya rumput Brachiaria seluas 19,14 hektar yang telan dana Rp42.730.050
Demikian pula, pagar hidup Reo sebanyak 37.513 pohon sesuai perencanaan, dengan besaran dana Rp37.513.000, juga tak nampak pula.
Mungkin juga, sebagian tanaman rumput Gajah, rumput Benggala, Brachiaria, anakan Lamatoro, bisa juga Reo, ikut terbakar, seiring terbakarmya sebagian Padang Wulokolo, beberapa waktu lalu.
Fakta lapangan ini, membuat banyak pihak merasa sangat prihatin, dan sedih dengan kondisi Sapi saat ini dan kedepannya, bila tak lekas ditangani Pemda Flotim dan pihak penyedia pakan Sapi yang telah terikat kontrak.
“Terus terang, sebagai warga di sini, Kami merasa sangat prihatin dengan kondisi Sapi.
Jangankan pakan Rumput Gajah, Benggala, Lamatoro, Gamal dan Angsono, tapi air saja susah ini.
Sapi butuh banyak air untuk minum, apalagi di saat musim panas seperti ini.
Jika terus beli air untuk isi di profil tank yang ada, lalu sampai kapan beli air?
Pemda Flotim sebaiknya buat sumur bor atau embung di sentra Wulokolo.
Sebab, ini bukan urus Sapi satu dua ekor, tapi sekarang 157 ekor, lalu nanti datang lagi 250 ekor, kira-kira Pemda Flotim siapkan berapa banyak uang beli air sampai musim hujan tiba,”ujar warga saat ngobrol bersama Wartawan di lokasi Sentra Sapi Wulokolo.
Segera Suplai Batang Pisang, Rumput Gajah & Pakan Lainnya ke Wulokolo
Terkait kebutuhan pakan ternak darurat untuk 157 ekor Sapi saat ini di Wulokolo, Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunter) Flotim dan penyedia pakan didesak segera berkoordinasi mendatangkan pasokan pakan Sapi, seperti batang Pisang, Rumput Gajah, Lamatoro dan pakan lainnya.
Pelaksana Tugas KadisBunter, Yosep Aryo Sucipto Pehan Keraf,SE.,M.Si yang dikonfirmasi Wartawan di ruang kerjanya, Kamis 1 Oktober 2026, menyatakan telah berkoordinasi dengan penyedia pakan untuk dalam satu dua hari ini segera datangkan pakan Sapi seperti batang Pisang, rumput Gajah, Lamatoro dan lainnya.
“Saya juga sudah koordinasi dengan Kabid Perkebunan untuk bisa potong batang Pisang di kebun Dinas Dulipali.
Nanti penyedia pakan atur potong muat ke Wulokolo tanpa ada biaya lagi.
Jika masih kurang, maka bisa cari lagi beli batang Pisang milik masyarakat,”ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa pakan Sapi di Wulokolo memang tidak cukup sama sekali.
“Iyah, Kita harus akui bahwa pakan Sapi di Wulokolo tidak bisa,”timpalnya saat dilaporkan temuan fakta lapangan Media terkait kondisi tanaman rumput Gajah yang hanya seberapa, serta Lamatoro yang baru tumbuh setinggi jari telunjuk.
Terpisah, banyak pihak mulai mempertanyakan dana pengadaan pakan Sapi senilai Rp1,002 M di Sentra Wulokolo, yang telah dibelanjakan penyedia jasa, dengan kondisi di lokasi proyek yang sangat tak sebanding saat ini.
Pasalnya, belanja pakan Sapi, juga pekerjaan Jalan Usaha Tani (JUT) itu telah habiskan dana Miliaran Rupiah, tapi kondisi pakan Sapi di Wulokolo memprihatinkan.
Pihak Aparat Penegak Hukum (APH) di Flores Timur, baik Kepolisian Resort Flores Timur dan Kejaksaan Negeri Flores Timur didesak segera turun ke lokasi dan memanggil pihak terkait untuk diperiksa. (OLA)
