Imam mereciki makam makam di pekuburan Cewonikit. ( Foto Willy )
RUTENG, RANAKANEWS.com — Pastor Paroki Cewonikit, Rm. Ardi Obot, memimpin Perayaan Ekaristi atau Misa Kudus di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cewonikit, Jumat (6/11/2026). Perayaan ini merupakan bagian dari rangkaian pelayanan pastoral Paroki Cewonikit selama bulan November untuk mendoakan arwah umat beriman yang telah meninggal dunia.
Sejak 3 November 2026, Pastor Ardi Obot telah melaksanakan Misa Kudus di sejumlah tempat pemakaman umum, di antaranya TPU Lawir, Pau, dan Goro. Puncak rangkaian kunjungan tersebut dilaksanakan di TPU Cewonikit pada Jumat, 6 November 2026.
Perayaan Misa Kudus di TPU Cewonikit dihadiri umat Katolik dan para suster. Suasana berlangsung khidmat. Umat yang hadir mengambil tempat duduk di sekitar makam anggota keluarga maupun kerabat masing-masing untuk mengikuti perayaan Ekaristi sekaligus mendoakan mereka yang telah berpulang.
Rangkaian perayaan sebelum ditutup dilaksanakan pemberkatan air, bunga, dan lilin yang digunakan sebagai sarana dalam doa-doa khusus bagi arwah orang-orang yang telah meninggal dunia. Menjelang penutupan upacara, Pastor Ardi Obot juga melakukan pemercikan air berkat pada ratusan makam yang berada di lokasi pemakaman tersebut.
Dalam homilinya, Pastor Ardi Obot mengajak umat menjadikan kunjungan ke pemakaman umum sebagai kesempatan untuk kembali menyadari bahwa Tuhan merupakan pusat kehidupan manusia. Menurutnya, kehidupan di dunia hanyalah sementara dan setiap orang pada akhirnya akan menuju kehidupan kekal.
Ia menjelaskan, perayaan Misa Kudus di pemakaman bukan sekadar kegiatan rutin setiap bulan November, melainkan sebuah kesempatan istimewa untuk menghubungkan umat yang masih hidup dengan keluarga dan kerabat yang telah meninggal dunia melalui doa dan perayaan Ekaristi.
Pastor Ardi mengibaratkan Misa Kudus di pemakaman sebagai jembatan emas yang menghubungkan kehidupan manusia di dunia dengan mereka yang telah berpulang.
“Misa Kudus ini adalah jembatan emas. Maksudnya, untuk menghubungkan kita yang masih hidup dengan mereka yang telah meninggal, kita merayakannya dalam Misa Kudus. Karena itu, dalam setiap Misa yang dirayakan, bukan lagi perbuatan manusia semata, tetapi merupakan karya agung Tuhan,” ungkapnya dalam homili.
Ia juga mengingatkan umat bahwa seluruh kehidupan manusia, baik ketika hidup maupun ketika telah meninggal dunia, tetap berada dalam penyelenggaraan Tuhan.
Mengutip pesan Kitab Suci, Pastor Ardi menegaskan bahwa hidup dan mati manusia adalah milik Tuhan. Karena itu, umat diajak untuk tidak hanya larut dalam kesibukan duniawi, tetapi juga menyediakan waktu untuk merenungkan kehidupan, mempersiapkan diri secara rohani, dan membangun hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan.
Dalam homilinya, ia juga mengangkat pengalaman perjalanan ke Kota Roma, Italia, khususnya kunjungan ke salah satu kompleks pemakaman di kota tersebut. Di lokasi itu terdapat tulisan dalam bahasa Latin yang memiliki makna mendalam bagi setiap orang yang mengunjunginya.
Pesan tulisan tersebut kurang lebih berbunyi, “Hari ini giliran saya, esok giliran Anda.”
Menurut Pastor Ardi, pesan itu mengingatkan bahwa kematian merupakan bagian dari perjalanan setiap manusia. Hari ini orang lain telah dipanggil Tuhan, sedangkan suatu saat nanti setiap orang yang masih hidup juga akan mengalami hal yang sama.
Oleh karena itu, ia mengajak umat untuk menggunakan waktu kehidupan dengan melakukan hal-hal baik, saling mengasihi, serta memperbanyak doa bagi keluarga dan kerabat yang telah meninggal dunia.
“Pada akhirnya, hanya kebaikan yang kita lakukan selama hidup di dunia ini yang berkenan kepada Tuhan. Semua yang lain akan berhenti di dunia ini,” pesannya.
Pastor Ardi juga menegaskan bahwa dalam perayaan Misa Kudus di pemakaman, pusat perhatian bukanlah imam yang memimpin, umat yang hadir, ataupun makam-makam yang dikunjungi, melainkan Tuhan Yesus Kristus.
Ia mengajak seluruh umat menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan sehingga setiap aktivitas, pekerjaan, dan kesibukan sehari-hari tetap diarahkan kepada kehendak Tuhan.
Menurutnya, kesibukan pekerjaan dan urusan keluarga sering kali membuat manusia lupa menyediakan waktu untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena itu, satu jam yang digunakan untuk mengikuti Misa Kudus di pemakaman hendaknya menjadi kesempatan untuk memperbarui iman dan menghidupkan kembali kasih Tuhan dalam kehidupan masing-masing.
“Kita datang membawa cahaya lilin yang kita nyalakan agar hidup kita juga dihangatkan oleh api cinta Tuhan. Semoga mereka yang telah berpulang berbahagia bersama para kudus di surga,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Pastor Ardi menjelaskan bahwa rangkaian doa arwah di Paroki Cewonikit tidak hanya dilaksanakan melalui Misa Kudus di gereja dan pemakaman umum. Umat juga mengikuti doa Novena yang berlangsung hingga 9 November 2026.
Melalui rangkaian doa tersebut, umat diajak memohon rahmat Tuhan bagi jiwa-jiwa keluarga yang telah meninggal dunia, sekaligus memperkuat iman dan pengharapan akan kehidupan kekal.
Menutup homilinya, Pastor Ardi menyampaikan terima kasih kepada seluruh umat yang telah mengambil bagian dalam rangkaian perayaan Misa Kudus di sejumlah tempat pemakaman umum. Ia berharap kehadiran umat dalam perayaan tersebut menjadi tanda iman, kasih, dan kepedulian terhadap keluarga serta kerabat yang telah mendahului mereka.
Ia juga mengajak umat untuk senantiasa memohon penyertaan Tuhan agar diberikan kesehatan, kehidupan keluarga yang harmonis, serta berkat bagi anak-anak dan keturunan.
Melalui perayaan Misa Kudus di TPU Cewonikit, umat tidak hanya diajak mengenang mereka yang telah meninggal dunia, tetapi juga diingatkan untuk menjalani kehidupan dengan iman, memperbanyak perbuatan baik, dan selalu menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan. (WG)
