Misa Mengenang Valensius Onggot, S.Fil.: “Ia Telah Menjadi Biji Gandum yang Menghasilkan Buah”

Bupati Manggarai Herivertus G. L.Nabit dalam sambutannya mengenang almarhum.( Foto: Willy G.)

RUTENG, RANAKANEWS.com – Enam hari setelah upacara pemakaman kedinasan, keluarga, rekan kerja, sahabat, dan umat beriman kembali mengenang Valensius Onggot, S.Fil., melalui Perayaan Ekaristi di rumah duka Konggang-Waso, Kelurahan Waso, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Selasa, 6 Oktober 2026.

Perayaan Ekaristi dipimpin Rm. Jean dan didampingi Rm. Ardi Obot, Rm. Pepy Bora, serta Rm. Lois Jawa. Perayaan Ekaristi diiringi paduan suara Mardigal.

Misa tersebut dihadiri Bupati Manggarai Herybertus Geradus Laju Nabit, Wakil Bupati Manggarai Fabianus Abu, keluarga besar almarhum, rekan-rekan kerja dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Manggarai, serta sahabat dan umat yang datang untuk mendoakan almarhum.

Perayaan Ekaristi ini menjadi bagian dari rangkaian penghormatan kepada Valensius setelah sebelumnya, pada Kamis, 1 Oktober 2026, dilaksanakan upacara pemakaman kedinasan di rumah duka yang sama.

Valensius lahir di Ngkor, Kecamatan Ruteng, 12 Juni 1980. Almarhum merupakan ASN pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Manggarai dan terakhir dipercaya menjabat sebagai Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik, dengan TMT jabatan 23 April 2026.

Dari Penghormatan Kedinasan ke Perjumpaan Iman

Jika pada 1 Oktober penghormatan kepada Valensius disampaikan melalui upacara kedinasan, maka dalam Perayaan Ekaristi, keluarga dan rekan-rekan almarhum diajak melihat kembali perjalanan hidupnya dalam terang iman.

Dalam homilinya, Rm. Jean mengajak umat merenungkan dua hal penting dari bacaan pertama, yakni percaya dan saling mengasihi.

Kepercayaan kepada Tuhan, katanya, tidak hanya diperlukan ketika seseorang berada dalam keadaan bahagia. Justru dalam pengalaman kehilangan dan dukacita, iman manusia diuji sekaligus diperdalam.

Umat diajak percaya bahwa Yesus Kristus adalah kebangkitan dan kehidupan.

Karena itu, peristiwa kematian tidak hanya dilihat sebagai akhir kehidupan, tetapi juga dalam pengharapan akan kebangkitan dan kehidupan kekal.

Demikian pula kasih. Kasih yang sejati, menurutnya, tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diwujudkan dalam tindakan dan pengorbanan.

“Ujian terberat dari kasih dan cinta ialah sejauh mana orang itu mau berkorban untuk orang yang dicintai,” demikian pesan dalam homili.

Dalam konteks kehidupan Valensius, ia dikenang sebagai pribadi yang menjalankan tanggung jawabnya dalam keluarga, profesi, serta relasi dengan orang-orang di sekitarnya.Valensius sebagai “Biji Gandum”

Dalam bacaan Injil, gambaran biji gandum menjadi inti permenungan.

Biji gandum yang jatuh ke tanah harus mengalami proses sebelum menghasilkan buah. Gambaran itu digunakan untuk menjelaskan perjalanan kehidupan manusia.

Menurut Rm. Jean, biji gandum tidak tumbuh sendiri. Ia membutuhkan penabur, tanah sebagai tempat bertumbuh, serta orang-orang yang merawatnya.

Penabur sejati dalam kehidupan manusia adalah Tuhan.
Salah satu “biji gandum” yang ditaburkan Tuhan dalam kehidupan keluarga, rekan kerja, sahabat, dan orang-orang yang pernah mengenal Valensius adalah kehidupan almarhum sendiri.

“Dia sudah menjadi biji gandum bagi keluarganya, bagi rekan-rekan kerjanya, bagi sahabat dan kenalan yang mempunyai pengalaman indah bersama dia,” demikian inti refleksi tersebut.

Kehidupan Valensius dipandang telah menghasilkan buah melalui keluarga, pekerjaan, persahabatan, iman, dan berbagai relasi yang dibangunnya selama hidup.

“Sehebat Apa Pun Kita, Tetap Membutuhkan Orang Lain”

Refleksi tentang biji gandum juga mengingatkan bahwa manusia tidak dapat menjalani kehidupannya seorang diri.

“Sehebat apa pun kita, sekuat apa pun kita, setinggi apa pun jabatan yang kita miliki, kita tetap membutuhkan orang lain dalam hidup,” pesan Rm. Jean.

Dalam konteks tersebut, Valensius dikenang sebagai pribadi yang memiliki kemampuan dan potensi, tetapi tetap membuka diri untuk membangun relasi dengan orang lain.

Ia bekerja bersama rekan-rekannya, membangun persaudaraan, berdiskusi, dan menjalankan tanggung jawabnya sebagai bagian dari keluarga besar Dinas Kominfo Kabupaten Manggarai.

Menurut Rm. Jean, kehidupan manusia juga tidak selalu berjalan dalam keadaan mudah. Seperti biji gandum yang menghadapi perubahan musim, manusia pun menghadapi tantangan dan rintangan.

Ada masa yang menggambarkan kesuburan dan kemudahan, tetapi ada pula masa sulit yang justru dapat membuat seseorang semakin kuat dan matang.

Buah Kehidupan yang Tetap Tinggal

Kepergian Valensius meninggalkan kenangan sekaligus kehilangan bagi keluarga, rekan kerja, dan sahabat.

Namun, kebaikan yang telah diberikan selama hidup tidak ikut hilang bersama kepergiannya.

Jejak pengabdian, tulisan, persahabatan, pekerjaan, serta pengalaman yang dibagikan bersama menjadi bagian dari buah kehidupan yang ditinggalkannya.

Karena itu, umat diajak tidak hanya mengenang Valensius dalam suasana duka, tetapi juga meneruskan nilai-nilai baik yang telah ditinggalkannya.

Dalam konteks pekerjaan, pesan tersebut sejalan dengan sambutan Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Manggarai Paulus Jeramun dalam upacara pemakaman kedinasan pada 1 Oktober 2026.

Paulus ketika itu mengenang Valensius bukan hanya sebagai rekan kerja, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar Pemerintah Kabupaten Manggarai.

Ia juga mengenang kemampuan Valensius dalam komunikasi dan tulis-menulis serta keterlibatannya dalam mengawal informasi mengenai berbagai peristiwa kebencanaan di Kabupaten Manggarai.

Paulus menyebut masih ada diskusi dan pekerjaan yang belum selesai bersama almarhum. Namun, tugas-tugas tersebut harus terus dilanjutkan oleh mereka yang ditinggalkan.

Bupati: Kehilangan Besar bagi Pemerintah dan Keluarga

Usai Perayaan Ekaristi, Bupati Manggarai Herybertus Geradus Laju Nabit turut menyampaikan ungkapan duka dan penghormatan kepada almarhum.

Bupati mengenang Valensius sebagai sosok yang meninggalkan kesan baik bagi banyak orang. Kepergiannya, kata Bupati, tidak hanya menjadi kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi lingkungan kerja dan Pemerintah Kabupaten Manggarai.

Bupati mengajak keluarga dan semua yang hadir untuk menerima peristiwa tersebut dalam iman, sekaligus menjaga kenangan baik tentang almarhum.

Menurutnya, usia 46 tahun memang masih tergolong muda bagi seseorang untuk meninggalkan keluarga dan rekan-rekannya. Namun, kehidupan dan kematian tetap berada dalam penyelenggaraan Tuhan.

Karena itu, keluarga dan orang-orang yang mengenal Valensius diajak untuk tidak larut dalam kesedihan, tetapi tetap melanjutkan kehidupan dengan membawa nilai-nilai baik yang telah ditinggalkan almarhum.

Bupati juga menyampaikan penghargaan atas berbagai kebaikan yang telah dilakukan Valensius selama hidupnya.

” Kehilangan tersebut, katanya, dirasakan bukan hanya oleh keluarga, tetapi juga oleh banyak orang yang pernah bekerja, berteman, dan berinteraksi dengan almarhum.” pungkasnya.

Rangkaian penghormatan kepada Valensius sejak upacara pemakaman kedinasan pada 1 Oktober hingga Perayaan Ekaristi pada 6 Oktober 2026 menjadi ruang bagi keluarga, pemerintah daerah, rekan kerja, dan sahabat untuk mengenang almarhum bukan hanya sebagai seorang ASN, tetapi juga sebagai suami, ayah, sahabat, dan rekan seperjalanan.

Valensius telah dimakamkan. Namun, sebagaimana biji gandum yang jatuh ke tanah dan menghasilkan buah, jejak kehidupan dan kebaikan yang ditinggalkannya tetap tinggal dalam ingatan dan kehidupan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya. (WG)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version