Perayaan Ekaristi syukur di Rumah Belek rumah Raja Bagung, Ruteng, Kabupaten Manggarai, Sabtu 10/10/2026.Selebran utama Vikjen Keuskupan Ruteng. ( Foto:Willy )
RUTENG, RANAKANEWS.com – Perayaan Ekaristi syukur di Rumah Belek rumah Raja Bagung, Ruteng, Kabupaten Manggarai, menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan keluarga dan merawat warisan leluhur.
Misa syukur tersebut berlangsung pada Sabtu (10/10/2026), sebagai bagian dari rangkaian kegiatan adat dan keagamaan keluarga besar Cangkung–Kiu. Sebelumnya, keluarga besar tersebut menggelar ritual adat Kebeng Mbaru Belek pada Jumat (9/10/2026).
Dalam pengantarnya, Pater Sebas menyampaikan bahwa Rumah Raja Bagung bukan sekadar bangunan fisik, melainkan tempat yang menyimpan jejak kehidupan, nilai kepemimpinan, dan perjalanan panjang sejarah Manggarai.
Menurutnya, ketika seseorang memasuki rumah bersejarah, yang menyapa bukan hanya benda-benda di dalamnya, tetapi juga kisah orang-orang yang pernah hidup di sana serta nilai-nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, rumah bersejarah dapat menjadi ruang perjumpaan untuk membangun komunikasi, mempererat ikatan kekeluargaan, dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan leluhur.
Saat homili, Pater Sebas mengangkat tema “Kamu Semua adalah Tubuh Kristus” untuk menegaskan pentingnya persatuan dalam kehidupan menggereja,
Ia mengingatkan pesan mendiang Paus Fransiskus dalam seruan apostolik tahun 2013 bahwa keselamatan yang dilaksanakan Allah dan diwartakan Gereja ditujukan kepada semua orang.
Allah memanggil manusia untuk hidup bersama sebagai satu umat, bukan sebagai individu-individu yang saling menjauhkan diri.
Pesan tersebut sejalan dengan ajaran Rasul Paulus tentang Gereja sebagai satu tubuh dengan banyak anggota. Setiap anggota memiliki peran berbeda, tetapi semuanya saling membutuhkan dan melengkapi.
Melalui Sakramen Pembaptisan, umat dipersatukan dalam tubuh mistik Kristus, yakni Gereja, dengan Kristus sebagai kepala.
Karena itu, tema tersebut bukan hanya menjadi ajaran iman, tetapi juga panggilan konkret bagi umat untuk saling membantu, mengasihi, dan melengkapi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks perjumpaan keluarga besar di Rumah Raja Bagung, pesan itu menjadi pengingat bahwa persatuan perlu dirawat melalui keterbukaan, sikap saling menerima, dan kesediaan membangun hubungan persaudaraan.
Pater Sebas juga mengajak umat merenungkan ajaran Yesus tentang dua macam dasar dalam membangun rumah, yakni dasar yang kokoh dan dasar yang rapuh.
Menurutnya, kehidupan yang berlandaskan firman Tuhan akan memiliki fondasi kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.
Ia mengingatkan bahwa berbagai gesekan dalam kehidupan tidak boleh mengikis cinta, iman, dan persatuan dengan Yesus.
Pesan tersebut mengajak keluarga untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan mempertajam perpecahan, melainkan sebagai kesempatan untuk belajar memahami satu sama lain.
Pater Sebas berharap Rumah Raja Bagung menjadi rumah yang terbuka terhadap setiap kebaikan dan kemajuan, sekaligus menjadi fondasi untuk membangun persatuan, kebersamaan, dan rasa memiliki di antara seluruh anggota keluarga.
Melalui perayaan Ekaristi, keluarga diajak menempatkan kasih, iman, dan persaudaraan sebagai landasan dalam menjaga rumah bersejarah tersebut.
Warisan leluhur, menurut pesan utama homilinya, tidak hanya berupa bangunan dan nilai sejarah, tetapi juga tanggung jawab untuk memelihara persatuan.
Usai Misa dan ritus pemberkatan Rumah yang baru direnovasi itu, Bupati Manggarai Heribertus Geradus Laju Nabit ajak keluarga untuk lestarikan sejarah.
Dalam sambutannya, Bupati Manggarai menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Cangkung–Kiu yang terus menjaga dan melestarikan sejarah Rumah Raja Bagung sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah Manggarai.
Bupati menegaskan bahwa mengenang sejarah bukan berarti mengagung-agungkan masa lalu, melainkan mengingatkan generasi sekarang dan mendatang tentang asal-usul serta perjalanan daerah Manggarai.
Menurutnya, selalu ada godaan bagi generasi sekarang untuk melupakan sejarah dan lebih menonjolkan pencapaian diri sendiri. Karena itu, keluarga memiliki peran penting dalam merawat peninggalan para pendahulu agar nilai-nilai sejarah tetap diwariskan kepada anak cucu.
Ia juga mengingatkan posisi Raja Bagung sebagai raja pertama Manggarai dalam perjalanan sejarah daerah ini. Sejarah kepemimpinan Manggarai kemudian berlanjut melalui pergantian kepemimpinan kerajaan, termasuk pada masa Raja Alexander Baruk.
Bupati turut menyinggung keputusan penting oleh Raja Ngambut setelah wafatnya Raja Bagung, yakni pilihan untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan bagian dari perjalanan sejarah yang perlu diketahui oleh generasi penerus.
Ia menegaskan bahwa Rumah Raja Bagung bukan simbol kemenangan satu pihak, melainkan simbol persatuan yang dapat menjadi milik bersama dalam kehidupan masyarakat Manggarai.
Pada kesempatan itu, Pemerintah Kabupaten Manggarai juga membuka ruang kerja sama dengan keluarga besar pengelola rumah bersejarah tersebut agar keberadaannya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat secara luas.
Bupati berharap pelestarian Rumah Raja Bagung terus dilanjutkan melalui kerja sama keluarga dan pemerintah daerah sehingga nilai sejarah, adat, dan persatuan tetap hidup serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pada kesempatan itu ditempat yang sama, mewakili keluarga besar, Mus Cangkung menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai, khususnya Bupati Manggarai, atas kehadiran dan perhatian terhadap Rumah Raja Bagung.
Ia menyampaikan, ” rumah bersejarah ini, tidak hanya dirawat sebagai warisan keluarga, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang literasi sejarah bagi masyarakat Manggarai.” tuturnya
Dengan demikian, generasi muda dapat mengenal lebih dekat perjalanan sejarah daerahnya, memahami nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya.
Keluarga besar yang merupakan anak-anak dari pasangan Bapa Cangkung dan Mama Katarina Kiu terdiri atas Aloysius Cangkung, Jacob Cangkung, Yan Cangkung, Evi Cangkung, Emi Cangkung, Endi Cangkung, Sisi Cangkung, Ros Cangkung, Mus Cangkung, dan Veny Cangkung.
Perayaan Ekaristi syukur dan rangkaian kegiatan adat tersebut menjadi momentum untuk meneguhkan kembali hubungan keluarga sekaligus memperkuat komitmen menjaga warisan sejarah Manggarai.
Perayaan Ekaristi syukur dan rangkaian kegiatan adat tersebut menjadi momentum untuk meneguhkan kembali hubungan keluarga sekaligus memperkuat komitmen menjaga warisan sejarah Manggarai.
Perayaan syukur siang itu, dihadiri, keluarga inti, keluarga dalam hubungan semenda, tokoh masyarakat dan pemerintah Kabupaten Manggarai.
Rumah Raja Bagung diharapkan terus menjadi ruang yang mempertemukan adat, iman, sejarah, dan persaudaraan, serta memberi manfaat bagi masyarakat luas.(WG)
