OMK Paroki Kajong berjumpa dan bermain bersama anak-anak. (Foto: Komsos Paroki Kajong)
RUTENG, RANAKANEWS.com — Di tengah suasana duka dan trauma pascagempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Kajong menunjukkan kepedulian nyata dengan mendatangi anak-anak di wilayah terdampak gempa.
Untuk menjangkau anak-anak di pedalaman, para anggota OMK bahkan harus melewati jalur yang cukup ekstrem dengan berjalan kaki sekitar 3 kilometer. Perjalanan tersebut dilakukan demi menghadirkan kembali sukacita dan kegembiraan bagi anak-anak yang masih mengalami luka batin akibat bencana.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa, 25 Agustus 2026. Dengan membawa berbagai permainan edukatif, OMK Paroki Kajong berjumpa dan bermain bersama anak-anak.
Kehadiran mereka bukan sekadar memberikan hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemulihan psikologis anak-anak pascagempa.
“Luar biasa OMK Paroki Kajong. Walaupun melewati jalur ekstrem dengan jalan kaki sepanjang 3 kilometer, mereka berjumpa dengan anak-anak yang merindukan sukacita dan kegembiraan. Pasti mendapatkan kebahagiaan tersendiri,” ungkap Rm. Bernadus Palus, Pastor Paroki Kajong.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata solidaritas OMK untuk membantu anak-anak di pedalaman agar perlahan dapat bangkit dari trauma akibat bencana.
“Dengan game edukasi yang meyakinkan anak-anak, mereka hadir membawa sukacita. Selama semangat, anak-anakku. Tuhan memberkati,” katanya.
Sejak Hari Pertama, Pastor Paroki dan OMK Turun ke Wilayah Terdampak
Kepedulian OMK Paroki Kajong terhadap korban gempa sebenarnya telah dilakukan sejak awal bencana.
Sejak gempa terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 sekitar pukul 06.00 waktu setempat, Pastor Paroki bersama OMK langsung bergerak mengunjungi wilayah-wilayah untuk memastikan kondisi masyarakat dan mengetahui dampak gempa.
Dari penelusuran tersebut, ditemukan sejumlah rumah mengalami kerusakan berat dan tidak lagi dapat ditempati.
Data yang dihimpun menunjukkan kerusakan terjadi di sejumlah titik, yakni:
Tureng: 9 rumah rusak parah
Wangkal: 7 rumah, Ojang: 6 rumah, Kolang: 6 rumah, Wae Kuli: 5 rumah, Kajong: 3 rumah
Ngalak: 3 rumah, Singkul: 3 rumah.
Rumah-rumah tersebut mengalami kerusakan sehingga tidak dapat ditempati oleh penghuninya.
Beras 1,5 Ton dan Sembako untuk Warga Terdampak
Setelah melakukan pemantauan kondisi masyarakat, pada Selasa, 18 Agustus 2026, Pastor Paroki bersama OMK kembali bergerak menyalurkan bantuan kepada warga yang terdampak langsung.
Bantuan tersebut berupa bahan kebutuhan pokok, antara lain beras, mi instan dan air minum.
Untuk beras, bantuan yang disiapkan mencapai 30 karung, masing-masing berisi 50 kilogram. Sebanyak 20 karung berasal dari bantuan yang dikumpulkan, sementara 10 karung lainnya merupakan beras yang sebelumnya dikumpulkan umat saat kegiatan syukuran panen.
Dengan demikian, total beras yang terkumpul mencapai sekitar 1,5 ton.
Solidaritas juga datang dari kalangan OMK sendiri. Melalui solidaritas internal serta dukungan sesama OMK yang berada di luar Kajong, mereka turut menyediakan berbagai kebutuhan lain seperti sabun, Rinso, Pepsodent serta makanan ringan untuk anak-anak.
Bantuan tersebut tidak hanya menjadi bentuk kepedulian material, tetapi juga pesan bahwa masyarakat yang terdampak gempa tidak berjalan sendirian.
Bukan Sekadar Bantuan, tetapi Memulihkan Harapan
Gerakan OMK Paroki Kajong memperlihatkan bahwa penanganan pascabencana tidak hanya membutuhkan bantuan berupa makanan dan kebutuhan pokok. Anak-anak yang menyaksikan dan mengalami langsung guncangan gempa juga membutuhkan ruang untuk kembali bermain, tertawa dan merasakan rasa aman.
Karena itu, langkah OMK menempuh jalan kaki melewati medan ekstrem untuk menemui anak-anak menjadi bagian penting dari proses pemulihan.
Di tengah keterbatasan akses dan kondisi wilayah yang belum sepenuhnya pulih, mereka memilih hadir secara langsung.
Dari beras hingga permainan edukatif, dari bantuan sembako hingga langkah kaki sejauh 3 kilometer, OMK Paroki Kajong menunjukkan bahwa solidaritas kemanusiaan dapat hadir dalam berbagai bentuk—dan bagi anak-anak korban gempa, kehadiran itu bisa menjadi awal untuk kembali tersenyum. (WG)
