Oleh: Rafael Lumintang
Fenomena yang terjadi di era milenial saat ini adalah masalah pengangguran. Jumlah penduduk yang siap untuk terjun dalam dunia pekerjaan jauh melampui kesempatan kerja yang tersedia.
Secara umum faktor terjadinya pengangguran dikarenakan ketidakseimbangan lapangan kerja yang tersedia dengan laju pertumbuhan penduduk. Artinya bahwa jumlah tenaga kerja lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah lapangan kerja yang ada.
Akibatnya, banyak orang yang tidak dapat bekerja, walaupun memiliki begitu banyak gelar dalam masing-masing bidang yang telah dicapai.
Pengangguran sebenarnya adalah sebuah masalah jika tidak diatasi secara serius, karena bisa menimbulkan masalah-masalah lainnya, seperti meningkatkan kemiskinan, ketidaksetaraan politik dan sosial, serta pudarnya nilai-nilai kemanusiaan, dan sebagainya.
Dalam konteks ini, pada dirinya sendiri “pengangguran” sebenarnya adalah sebuah “paradoks”. Orang tidak bekerja, tetapi pikirannya penuh dengan pekerjaan, mau jadi perawat, dokter, pegawai negeri, politisi, dan lain sebagainya.
Pengangguran secara implisit terjadi karena orang tidak menginternalisasikan ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya.
Orang hanya berpikir praktis, tidak mendasarkan pada teori yang mendalam, akibatnya pekerjaan yang diimpikannya hanya sebatas ilusi saja.
Selain itu, pangangguran juga menimbulkan efek negatif dalam menilai diri. Pekerjaan harus dilihat dengan diri atau dengan kata lain pekerjaan tidak terlepas dari diri itu sendiri.
Menurut Filsuf Perancis Gabriel Marcell dalam kosa katanya, Being seseorang disamakan dengan Having-nya. Saya adalah apa yang saya punya, itulah pandangan yang dianut orang di era milenial saat ini. Jika saya punya uang, mobil, dan rumah yang mewah, maka itulah saya.
Paradigma seperti ini tidak hanya berada di level orang yang memandang satu dengan lainnya, tetapi juga cara kita memandang diri kita sendiri. Kita merasa tidak berguna, Ketika kita tidak punya uang, mobil, dan rumah yang mewah. Tanpa itu semua yang saya impikan, saya tidak berguna. Cara semacam inilah yang merusak, yang juga membuat situasi “para pengangguran” menjadi lebih menyakitkan.
Dalam bahasa Filsuf Kontemporer Slavoj Zizek, “hidup berasal dari Katastrofi atau bencana besar”. “Bencana” bagi para pengangguran yang terpenjara dalam paradigma-nya yang tumpul. Juga “bencana” yang mematikan kodratnya sebagai manusia yang memiliki unsur rasionalitas, kebebasan dan kehendak.
Di satu sisi, ia kehilangan konsep tentang dirinya sendiri. Di sisi lain ia merasa tidak berguna, karena hampir semua miliknya terancam hilang. Jadi, dalam konteks ini, “Paradoks Pengangguran” pada dirinya sendiri kalau dikritisi lebih mendalam bukanlah sebuah masalah sosial, tetapi sebuah masalah eksistensial yang terkait erat dengan keberadaan (eksistensi) seseorang. Tidak heran banyak orang mengalami krisis dalam dirinya, sehingga melakukan Tindakan bunuh diri, karena menjadi “korban pengangguran”.
Ia terperangkap dalam skenario yang bernuansa melankolis. Daya budi yang sejatinya menjadi instrumen yang tajam, kini ditelanjangi oleh sikap pasif dan apatis. Sungguh tragis dan ironis realitas “Paradoks Pengangguran” di era milenial saat ini.
Penulis: Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang








