KUPANG, RANAKANEWS.com- Pelatihan Pengolahan Produk dan Fasilitasi Pendaftaran Merek bagi 40 IKM di Kota Kupang yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi telah menghasilkan prodak yang baik.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT, Dr. Drs. Zet Sony Libing, M.Si.,menyampaikan apresiasi karena hasil dari pelatihan selama dua hari ini ternyata menghasilkan prodak yang luar biasa. Hilirisasi namanya. Dari kebun kita bawa ke pasar artinya bahwa dari hulu kita bawa ke hilir dari prodak bahan baku yang ada itu, kita buat menjadi bahan jadi.
“Tadi saya melihat Sorgum diolah sedemikian rupa menjadi Kukis, diolah sedemikian rupa menjadi Puding, diolah sedemikian rupa menjadi Biskuit yang enak. Demikian pula Kelor. Kelor juga diolah sangat baik menjadi Kukis, diolah sedemikian rupa menjadi Kolak, Kelor diolah menjadi minuman-minuman segar, dan itu sangat luar biasa,” puji Kadis Perindag Provinsi NTT, Sony Libing usai mencicipi prodak yang dihasilkan ibu-ibu peserta IKM pada penutupan kegiatan hari kedua di Aula Kantor Dekranasda NTT, Rabu (21/5/2025).
Kadis Perindag Provinsi NTT mengatakan bahwa pihaknya (Pemerintah,red) berusaha agar pelaku IKM yang telah mengikuti pelatihan ini mereka bisa memiliki izin usaha rumah tangganya; Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), kita akan membantu untuk BPOM, kita juga membantu untuk Halal, dan hari ini mereka semua sudah terdaftar mereknya.
“Jadi pemerintah akan terus memfasilitasi sekaligus juga ikut mengkampanyekan dan mempromosikan prodak-prodak ini, agar kita semua seluruh masyarakat NTT membeli prodak lokal kita. Apalagi hari ini kita sedang mengkampanyekan “Gerakan Beli NTT” membeli prodak-prodak lokal kita yang dihasilkan oleh masyarakat kita. Dengan demikian ekonomi masyarakat akan bertumbuh dengan baik, pendapatan mereka akan baik, dan kesejahteraan tercapai,” ujar mantan Kadis Pariwisata Provinsi NTT.
“Gerakan Beli NTT” sebuah inisiatif mendorong konsumsi dan pemasaran produk lokal guna memperkauat perekomian daerah. Program ini akan dijalankan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra, baik dari pemerintah maupun sektor swasta untuk memperluas layanan pengembangan usaha dan akses keuangan bagi produsen desa, sekaligus memastikan adanya pasar yang stabil bagi komoditas unggulan daerah.
Tujuan utama dari gerakan ini untuk meningkatkan ekonomi lokal dengan memastikan setiap produk yang dihasilkan bisa diserap oleh pasar, sehingga produsen bisa fokus kepada proses produksi dan pengembangan. Demikian salah satu program Quick Win Gubernur NTT, Melki Laka Lena dan Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma.
Kadis Perindag Provinsi juga mengharapkan agar pelaku IKM ini terus berusaha untuk menghasilkan prodak-prodak itu, dengan memperhatikan higienisnya, kualitas, kuantitas, harga, dan juga kontinuitas serta kemasannya. Jangan sampai mengabaikan itu. Bagaimana pun juga konsumen melihat kemasannya tetapi dia juga merasakan dia punya isinya. Tetapi itu tadi dari aspek kesehatan, agama (halal), serta kontinuitas,” pungkasnya.
Gledys Naray pelaku UMKM, selaku pemateri pada kegiatan ini menuturkan, jika sebelumnya Gledys hanya menjual produknya di sekitar Kota Kupang, saat ini produknya sudah menyebar ke luar Kota Kupang bahkan hingga ke luar negeri.
Gledys menyebutkan, di Labuan Bajo, Produk MoriGe bisa ditemukan di Kado Bajo, Exotic Komodo, Komodo Gift, Bandara Labuan Bajo dan La Moringa Labuan Bajo, sementara di Kota Kupang sendiri tersedia di beberapa gerai termasuk Kantor Gubernur NTT.
Menurut Gledys, alasan dirinya memilih prodak Sorgum dan Kelor. “Saya sangat tertarik dengan 2 pangan lokal ini. Karena kaya manfaat. Tepung Sorgum memberikan tekstur yang unik renyah pada kue kering. Kandungan nutrisi Sorgum seperti serat dan antioksidan, membuat kue kering ini tidak hanya enak, tetapi juga lebih sehat dibandingkan kue kering umumnya,” ujar Gledys.
Kemudian Puding Sorgum sangat cocok sebagai camilan sehat atau hidangan penutup yang inovatif. Begitu pula Kolak Sorgum yang hangat dan mengenyangkan.
Ia mengatakan, Kolak yang biasanya ubi atau pisang, kini berinovasi dengan biji Sorgum yang kenyal. Kombinasi gula aren dan santan, menghasilkan kolak yang unik. Secara keseluruhan, olahan-olahan ini menunjukkan bahwa sorgum dan kelor memiliki potensi besar untuk menjadi bintang di Nusa Tenggara Timur.
“Saya ingin menghilangkan stigma bahwa bahan lokal itu kurang menarik atau sulit. Beberapa harapan besar saya untuk peserta UMKM yang hadir hari ini bahwa terus berinovasi dan berkreasi. Jangan berhenti di sini! Teruslah bereksperimen dengan berbagai resep dan teknik pengolahan Sorgum dan Kelor. Produk-produk baru yang lebih beragam dan menarik.
Kualitas adalah kunci. Pastikan produk yang kita hasilkan memiliki standar rasa dan kebersihan. Perkuat jaringan dan kolaborasi. Jangan ragu untuk berkolaborasi dengan sesama pelaku UMKM, dalam hal pemasaran serta saling berbagi pengalaman. Ayo sama-sama kita dorong Sorgum dan Kelor, agar semakin dikenal dan menjadi kebanggaan Nusa Tenggara Timur. Terus berkarya, terus berinovasi. Mari kita jadikan Sorgum dan Kelor sebagai Ikon pangan sehat dan lezat dan menjadikan kebanggaan dari Nusa Tenggara Timur,” ajak Gledys.
Sementara itu, Nancy Theresia Tibu Ludji, Pendamping UKM, Pusat Layanan Usaha Terpadu, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTT. Narasumber Sosialisasi tentang Perizinan Usaha bagi pelaku Usaha serta membantu memfasilitasi sertifikasi halal.
“Hal ini kita melakukan akun halal bagi pelaku usaha. Jadi bagi pelaku usaha yang bergerak di bidang industri pengolahan, ada baiknya kita melengkapi usaha kita dengan izin usaha. Nomor Induk Berusaha plus kalau kita punya produk-produk yang makanan sebaiknya kita melengkapinya dengan izin edar, dan juga serta sertifikat halal. Agar produk kita perluas pemasarannya, dipercaya oleh konsumen, dan usaha kita bisa berkembang. Jadi jangan takut untuk punya izin usaha, jangan takut juga untuk mengurus izin edar sertifikat halal. Jadi kalau teman-teman butuh pendampingan bisa langsung ke pusat layananan usaha terpadu Dinas Koperasi dan UKM yang berlokasi di Jalan Palapa, Oebobo, Kota Kupang,” terang Nancy.
Pada kesempatan yang sama, Nur Hidayat Koho, Ketua Yayasan Matahari Cabang Kupang, dari Lembaga Pemberdayaan Proses Produk Halal (LP3H) menyatakan siap membantu pelaku UMKM dalam pengurusan sertifikasi Halal.
Menurut Nur Hidayat Koho, manfaat sertifikat halal bagi UMKM dapat membangun kepercayaan konsumen artinya jaminan kehalalan produk.
Selain itu meningkatkan daya saing global agar membuka pasar domestik dan internasional, terutama negara mayoritas Muslim. Tidak luput manfaat sertifikasi halal untuk pepatuhan hukum agar memenuhi regulasi pemerintah, serta citra positif berdampak nilai tambah branding dan loyalitas pelanggan.
“Kami siap membantu, tetapi evaluasi berkala diperlukan. Jika kuota terbukti kurang, pemerintahn harus responsif menyesuaikan,’ ujar Nur.
Nur Hidayat mengimbau kepada para pelaku UMKM mulai tahun depan Oktober 2026, sertifikasi halal switch itu bersifat mandatory (wajib).
“Jadi setiap pelaku UMKM yang memiliki prodak makanan dan minuman itu wajib memiliki sertifikat halal. Tidak harus beragama islam beragama non islam juga bisa. Tetapi yang bukan non Islam syaratnya adalah mempunya halal yang beragama islam. Nanti kami dari Yayasan YP3H melakukan pendampingan,” ujar Nur Hidayat.
Salah satu peserta, Ratna Mella mengaku senang karena pemerintah memfasilitasi.
“Kami sudah difasilitasi oleh pemerintah. Bersyukur. Apalagi pelatihan hari ini membuat Kue dari Sorgum, Putak dan Kelor. Saya berharap teman-teman yang sudah mengikuti pelatihan ini bisa berinovasi sehingga lewat pelatihan ini teman-teman bisa menghasilkan uang. Jadi meskipun dari sorgum, kue-kue yang teman-teman buat seperti hari-harinya kue tadi memakai tepung terigu, mungkin teman-teman bisa menggantinya dengan sorgum atau kelor sehingga program pemerintah kita kan sekarang ini sedang menggalakkan pangan lokal. Dengan pangan lokal ini mungkin prodak-prodak kita bisa diambil oleh pemerintah; Disperindag maupun kantor-kantor untuk mempromosikan di kantor mereka,” ungkap Ratna.
Menurut Ratna, selama 2 hari ini pelatihannya sangat bermanfaat bagi kita; dalam pengurusan PIRT, Halal, maupun Merek. Jadi saya berharap tema-teman tetap semangat apalagi Pak Kadis sudah menyampaikan tadi bahwa pihaknya akan mendukung pelaku IKM yang mengikuti pelatihan hari ini. Pada kesempatan ini juga tak lupa kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Perindag Provinsi. Berharap semoga kegiatan pelatihan seperti ini tidak hanya sampai di sini tetapi berkelanjutan. (TD)
