Oleh : Brigitha Wara Memu, S.Sos
DEWASA ini ada berbagai media atau saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan informasi kepada publik. Ada media massa cetak, elektronik dan media online. Bahkan yang tidak kalah menarik dan semakin digandrungi banyak kalangan saat ini adalah model citizen journalism atau jurnalisme warga. Pun kita juga mengenal dengan istilah media eksternal dan media internal.
Artikel yang sederhana ini akan menjelaskan secara ringkas betapa penting dan bermanfaatnya media internal dari sebuah instansi termasuk sekolah sebagai saluran komunikasi yang efektif untuk menyebarkan berbagai informasi agar diketahui oleh publik. Sehingga berbagai kegiatan yang dilaksanakan dapat diikuti dan direspons juga oleh publik/masyarakat. Hal ini merupakan prasyarat mutlak dan sesuai dengan isi UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP).
Media internal merupakan etalase dari wajah sebuah institusi termasuk di sekolah. Lebih dari sekadar saluran komunikasi, media internal juga menjadi tools (alat) public relations (PR) yang efektif untuk menyasar publik internal dan eksternal dari institusi tersebut dalam hal ini sekolah. Karena itu, media internal harus dikelola secara profesional, kreatif dan inovatif baik dari sisi konten, konteks maupun artisistiknya.
Sebagai salah satu tools PR yang efektif ada banyak lembaga menjadikan media internal sebagai saluran komunikasi yang wajib dimiliki dan perlu eksis. Seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), sebuah instansi termasuk sekolah tak hanya mengandalkan media internal dalam format majalah cetak, kini mereka juga memiliki majalah elektronik (e-magazine), website dan beragam akun media sosial (medsos) lainnya.
Kendati tak bisa disamakan dengan media mainstream yang dikelola oleh perusahaan media, namun bukan berarti media internal tampil seadanya. Media internal juga harus dikelola secara profesional dan kreatif, sehingga dapat mewakili wajah instansi termasuk sekolah di depan publik internal maupun eksternalnya
Mengenai media internal khusus website dan medsos lainnya, hemat penulis di sekolah harus ada strategi digital yang jelas disesuaikan dengan kategori stakeholdersnya. Di sekolah, harus ada website yang dikelola secara rutin dan memuat berbagai informasi; baik itu berita maupun artikel yang sangat bermanfaat bagi publik.
Karena itu, media internal bisa menjalankan fungsi komunikasi massa. Menurut Jay Black dan Frederick C Whitney (1988), fungsi komunikasi massa yaitu: to inform (menginformasikan); to entertain (memberi hiburan); to persuade (membujuk); dan transmission of the culture (transmisi budaya). Sedangkan fungsi komunikasi massa juga dikemukakan John Vivian dalam buku The Media of Mass Communication (1991) antara lain : providing information; providing entertainment, helping to persuade, dan contributing to social cohesion.
Selanjutnya beberapa dekade sebelum kelahiran media sosial, filsuf John Searle (1969) telah mengingatkan bahwa bahasa yang digunakan oleh media massa (cetak, elektronik dan online) merupakan sebuah tindakan. Ketika seseorang memproduksi tuturan tertentu, pada dasarnya ia melakukan tindakan lain. Karena itulah, setiap tindakan berbahasa melahirkan rangkaian akibat yang lebih dari sekadar tindakan berbahasa. Pada konteks media sosial, akibat itu bisa bersifat masif dan simultan.
Jika kita berhadapan dengan kondisi ini maka diperlukan nilai-nilai kesantunan dalam berbahasa di media sosial. Linguis berkebangsaan Inggris, GeofreyLeech (1983), merinci ada enam (6) unsur kesantunan : kebijaksanaan; kedermawanan; kerendahatian; penghargaan; kesetujuan; dan simpati. Dari enam prinsip ini diturunkan tiga (3) panduan sederhana untuk menghindari konflik di media sosial. Pertama, utamakanlah memberi keuntungan kepada orang lain, baru keuntungan diri sendiri. Kedua, berilah apresiasi gagasan dan tindakan orang lain, hindari mengapresiasi diri sendiri. Ketiga, berusahalah merasakan hal yang dirasakan orang lain, hindari menjustifikasi.
Kembali ke pengelolaan website. Jika ditilik dari sisi media digital, website merupakan induk sedangkan kanal medsos merupakan cabangnya. Banyak instansi termasuk sekolah yang hingga kini belum memikirkan strategi secara holistik dalam mengelola website dan medsos. Pada akhirnya kreativitas dalam mengelola media internal akan mendorong media tersebut tak hanya menjadi sarana komunikasi tapi juga memperkuat citra instansi termasuk sekolah kita. Semoga…! (*)
Penulis : Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Bajawa
