Pra-Launching OSOP di Maumere, Gubernur NTT Soroti Defisit Rp51 Triliun dan Dorong Sekolah Jadi Pusat Produksi

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, saat pra-launching program One School, One Product (OSOP) di SMK Negeri 1 Maumere, Kabupaten Sikka, Jumat (17/4). ( Foto: */I)

MAUMERE, RANAKANEWS.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan pentingnya perubahan arah pendidikan agar lebih terhubung dengan potensi daerah dan kebutuhan dunia kerja. Hal itu disampaikan saat pra-launching program One School, One Product (OSOP) di SMK Negeri 1 Maumere, Kabupaten Sikka, Jumat (17/4).

Menurut Melki, pendidikan tidak cukup hanya menekankan aspek akademik dan karakter, tetapi harus diperkuat dengan kewirausahaan agar siswa memiliki arah yang jelas setelah lulus.

“Pendidikan kita harus mencakup akademik, karakter, dan kewirausahaan secara seimbang. Kewirausahaan penting agar siswa tidak kehilangan konteks kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia menyoroti masih banyak lulusan yang belum mampu mengaitkan ilmu yang dipelajari dengan potensi daerahnya, sehingga mengalami kebingungan dalam menentukan pekerjaan.

“Kalau tidak memahami potensi daerah, setelah pulang mereka bingung mau kerja apa. Ini harus diselesaikan sejak SMA, SMK, bahkan SLB,” tegasnya.

Melki juga mengungkapkan fenomena lulusan perguruan tinggi, termasuk dari luar negeri, yang belum terserap di dunia kerja karena tidak relevan dengan kebutuhan daerah.

“Tidak ada jaminan lulusan kampus terbaik langsung mendapat pekerjaan. Banyak yang kembali dan bertahun-tahun belum bekerja karena tidak nyambung dengan potensi daerah,” katanya.

Untuk itu, ia mendorong penguatan muatan lokal berbasis potensi daerah agar siswa dapat menentukan pilihan pendidikan dan karier secara lebih terarah.

Selain itu, Gubernur menekankan pentingnya pembelajaran yang adaptif, termasuk pemanfaatan metode virtual yang efisien.
“Kita tidak harus selalu fisik. Pembelajaran virtual juga bisa melahirkan anak-anak hebat dari daerah,” ujarnya.

Dalam aspek karakter, ia meminta sekolah mengaktifkan kembali kegiatan kepramukaan sebagai sarana pembentukan disiplin dan kepemimpinan. Ia juga menekankan pentingnya ruang dialog terbuka antara guru, siswa, dan orang tua guna mencegah persoalan melebar ke ruang publik.

Pemerintah Provinsi NTT, lanjutnya, tengah menyiapkan kebijakan jam belajar masyarakat untuk memperkuat peran keluarga dalam pendidikan.

“Kita ingin ada waktu khusus untuk belajar dan kebersamaan dalam keluarga. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama,” katanya.

Dalam konteks ekonomi, Melki mengaitkan program OSOP dengan upaya mengurangi defisit perdagangan NTT yang mencapai sekitar Rp51 triliun. Ia menyebut OSOP sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal melalui program NTT Mart.

“Kita harus produksi sendiri. Kalau tidak, uang terus keluar. Sekolah harus melatih siswa menghasilkan produk dan nilai ekonomi,” ujarnya.

Ia juga mendorong penggunaan produk lokal dalam berbagai kegiatan pemerintahan dan sektor usaha agar perputaran ekonomi tetap berada di daerah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, mengatakan program OSOP telah mulai diterapkan di sejumlah daerah seperti Belu, TTU, TTS, dan Kota Kupang.
“OSOP menjadi ruang belajar nyata untuk membangun kreativitas, inovasi, dan keterampilan kewirausahaan peserta didik,” ujarnya.

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, menyatakan dukungan penuh terhadap program tersebut sebagai bagian dari peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Pendidikan adalah kunci keluar dari berbagai persoalan sosial. Kami juga memperkuat kapasitas guru, termasuk literasi dan numerasi,” katanya.

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur meninjau langsung produk karya siswa dan berdialog dengan peserta didik. Kegiatan ini menunjukkan upaya konkret menjadikan sekolah sebagai ruang pembelajaran yang produktif dan relevan dengan kebutuhan ekonomi daerah.(OP/RN)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version