KUPANG, RANAKANEWS.com – ChildFund International, bekerja sama dengan Yayasan Cita Masyarakat Madani bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT menggelar Rapat Koordinasi Tim Kerja Vokasi Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Integrasi Soft Skill Dalam Pembelajaran Vokasi.
Acara yang berlangsung di Hotel Sasando, Jumat (13/12/2024) dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo yang menghadirkan Direktur Politani Kupang, Johanis A.Jermias yang memaparkan gambaran umum potensi Daerah Nusa Tenggara Timur, Ketua KADIN Nusa Tenggara Timur, Bobby Lianto dalam pemaparannya terkait peluang, tantangan, dan kriteria kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja di Nusa Tenggara Timur menekankan pada pentingnya pendidikan vokasi meningkatkan soft skill siswa-siswi SMK.
Strategi peningkatan kompetensi lulusan perguruan tinggi vokasi di NTT menjadi perhatian semua pihak khususnya kaloborasi pentahelix, hal ini disampaikan oleh Direktur Politeknik Kupang, Johanis A.Jermias.
Sementara itu, menurut Meinrad Indra Cahya, Program Specialist ChildFund International, untuk mengembangkan ketrampilan interapersonal siswa-siswi SMK perlu adanya optimalisasi kaloborasi pentahelix untuk terciptanya revitalisasi pendidikan vokasi di Indonesia khususnya di Provinsi NTT.
Rapat koordinasi yang menghadirkan 42 Kepala Sekolah SMK di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten TTS dan OPD dilingkup Provinsi NTT dan dimoderatori oleh Pdt.
“Kemitraan, komunikasi dan Komitment merupakan bagian penting dalam terwujudnya kaloborasi pentahelix agar terwujudnya internalisasi soft skill di pendidikan vokasi,” tutur Itha Kale, Partnership Portfolio ChildFund International.
Bobby Lianto, Ketua Umum Kadin NTT menyampaikan empat kompotensi yang dibutuhkan oleh Industri yaitu Ketrampilan Digital, Kepemimpinan dan Manajemen, Ketrampilan Bahasa dan Ketrampilan Interpersonal.
Kadin NTT memberikan apresiasi kepada ChildFund International dan Yayasan Cita Madani yang telah membangun kaloborasi Pentahelix dan Kadin NTT telah siap berkaloborasi dan mengharapkan bisa berkontribusi untuk menghubungan anak-anak SMK dengan dunia usaha untuk magang maupun untuk mendapatkan lapangan kerja.
Rapat Koordinasi Tim Kerja Vokasi Daerah Provinsi NTT menjadi salah satu langkah nyata ChildFund International dan Cita Madani untuk mewujudkan kaloborasi pentahelix untuk meningkatkan daya saing siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di NTT khususnya terkait Soft Skill.
“Dengan fokus pada pengembangan keterampilan intrapersonal, kegiatan ini bertujuan agar siswa SMK memiliki kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, dan adaptabilitas yang diperlukan di dunia kerja,” tutur Silvester Seno, Direktur Yayasan Cita Masyarakat Madani.
Kegiatan Rapat Koordinasi Tim Kerja Vokasi merupakan jawaban atas harapan terwujudnya tamatan SMK yang mampu bersaing dan tindak lanjut dari Workshop Integrasi Soft Skill ke Kurikulum SMK yang diinisiasi oleh ChildFund International di Indonesia,” kata Pak Ayub Sanam, Kepala Bidang SMA/SMK/SLB, Dinas Pendidikan Provinsi NTT.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi NTT, Ambrosius Kodo menekankan pentingnya revitalisasi pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi merupakan langkah strategis dalam pembangunan sumber daya manusia.
“Program revitalisasi ini bertujuan untuk memperkuat kaloborasi pentahelix yang mencakup peningkatan kualitas kurikulum serta kompetensi para pendidik khususnya soft skill demi memastikan kemitraan dengan dunia usaha dan industri demi memastikan relevansi pendidikan vokasi dengan kebutuhan nyata dilapangan dan memberikan apresiasi kepada ChildFund International yang telah menginisiasi integrasi soft skill ke kurikulum SMK. Soft Skill menjadi kebutuhan mendesak bagi siswa – siswi SMK untuk bersaing di dunia usaha<” tutur Edu Lomi Ga, Kepala SMKS Kristen 1 Kupang.
ChildFund International terus berkomitmen mendukung pendidikan vokasi di Indonesia melalui inisiatif-inisiatif seperti workshop dan Rapat koordinasi seperti ini. Dengan pendekatan yang inklusif dan terintegrasi, organisasi ini percaya bahwa penguatan soft skill akan membuka lebih banyak peluang bagi siswa SMK untuk sukses di masa depan. (*/TD)
