ROMA, RANAKANEWS.com – “Genap sudah 4 bulan, saya belajar hidup dan mengarungi bait-bait kehidupan di Kota Roma, ‘Kota Abadi’, ibukota Negara Italia. Tentu, sangat berbeda jauh dengan kehidupan di negeri saya lahir (Indonesia). Namun demikian, hari demi hari saya lalui, tidak pantas rasanya saya mengeluh, bersedih, apalagi sampai ingin segera kembali.
Rasa itu jauh sekali, dan tidak pernah sedikitpun terlintas dalam benak saya; maksud saya untuk kembali ke Indonesia,” tulis Deni Iskandar, yang dirilis Padre Marco Solo Kewuta, SVD belum lama ini melalui saluran Whatshap yang diterima Redaksi Ranakanews.com Biro Flores Timur.
Deni Iskandar mengungkapkan, seumur hidupnya, Kota Roma merupakan Ibukota dan Negara Pertama di luar negeri yang tanahnya didatanginya.
“Terus-terang, saya belum pernah ke luar negeri sebelumnya. Ada banyak pengalaman hidup yang saya dapatkan di sini, yang tentu saja itu tidak didapatkan dan tidak dirasakan oleh teman-teman yang se-angkatan dengan saya,” ujarnya.
Lebih jauh, Deni menulis bahwa tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa suatu waktu di dalam hidupnya, akan merasakan bagaimana belajar dan kuliah di Pontifical University Thomas Aquinas-Angelicum dan Universita Pontifica Gregoriana, juga di Nostra Aetate Foundation pada Discastery for Interreligious Dialogue (NAF-DID) Office di Vatikan.
Berkat wasilah (pertolongan melalui perantaraan) dari seorang Pastor Katolik, bernama Padre Marco, SVD, dia bisa punya kesempatan belajar di kampus-kampus kepausan dan juga pada dikasterium kepausan milik negara Vatikan.
“Saya bersyukur diberi kesempatan untuk belajar secara formal di dua kampus dan di Nostra Aetate Foundation Office, yang itu adalah tempat bekerja Padre Marco, SVD tentang metode dan strategi serta pendasaran Gereja Katolik bekerja dan memajukan dialog lintas agama untuk perdamaian dan kerukunan global.
Saya belajar dan melakukan berbagai pengalaman untuk memperkaya diri saya, ketika semuanya itu saya elaborasi dalam perbandingan dengan agama saya Islam. Sungguh-sungguh ada banyak nilai bersama yang harus kita gali, kita refleksikan dan kita cari aplikasi-aplikasi nyata agar membantu mendekatkan kita dan bekerjasama untuk kesejahteraan bersama,” timpalnya, lagi.
Sebagai orang Indonesia, dirinya bangga bisa kenal dengan sosoknya Padre Marco, SVD.
“Selain karena sosoknya yang humble (rendah hati), Beliau juga sangat peduli dengan saya, yang sebenarnya bukanlah siapa-siapa. Saya bukan anak Menteri, bukan anak Gubernur, bukan anak Walikota/Bupati, bukan juga anak Jenderal.
Saya ini hanyalah orang kampung (Gembel, red) yang dengan campur tangan Ilahi mendapat kesempatan belajar di Uni-Eropa. Jalan Ilahi selalu beda dengan pikiran dan rencana manusia,” bebernya, lebih lanjut.
Ia juga menambahkan, lebih dari itu, ada satu hal lain yang membuat dirinya merasa bangga dengan Padre Marco adalah, Beliau ini adalah satu-satunya orang Indonesia dan orang Indonesia pertama yang bekerja di Kuria Tahta Suci dan Negara Vatikan.
Yakni, negara paling kecil di dunia, yang mempunyai kedaulatan serta mempunyai teritori utama seluas 0,44 Kilometer persegi, dan sekaligus ekstra teritori di Kota Roma dan sekitarnya, yang merupakan negara kecil dibawah kepemimpinan Paus Fransiskus, kelahiran Argentina ini terkenal sangat kuat pengaruhnya untuk sejarah dan peradaban dunia hingga saat ini.
Deni bahkan menulisnya, “Bagaimana tidak, saya yang dilahirkan dari keluarga yang bukan ningrat, apalagi mapan, koq bisa-bisanya saya diberikan beasiswa full oleh Vatikan.
Bahkan, lebih dahsyatnya lagi, negara Vatikan menjamin kehidupan saya, mulai dari urusan besar seperti izin tinggal, asuransi, studi hingga tempat tinggal dan makan minum.
Rasanya tidak bosan-bosan untuk berkata: Saya bukan siapa-siapa. Saya bukan pimpinan organisasi, bukan anak Kiai, dan bukan anak Tokoh ini. Dalam hal ini, Saya kadang merasa bahwa dunia sudah terbalik…!!!,”pungkasnya.
Ia menukilkan lagi, hanya dengan bermodalkan semangat dan keinginan, dirinya berangkat tinggalkan kampung halaman dan belajar hal-hal baru menyangkut keagamaan di Kota Roma.
“Lain-lainnya, tidak ada. Bahkan, saya ingat betul modal saya ketika berangkat ke Kota Roma. Tanpa sponsor!. Untungnya, Tuhan itu maha baik. Dalam proses persiapan perjalanan menuju Roma, saya dibantu secara full oleh Bapak Kardinal Suharyo, Uskup Paskalis Bruno Syukur, OFM, Bang Melki Lakalena, juga Pak Putut Prabantoro.
Betapa Saya berterima kasih kepada Mereka. Tanpa Mereka, Saya tidak mungkin sampai di sini. Dalam rumus kehidupan, saya meyakini tentang konsep Wasilah, bahwa pertolongan Tuhan akan selalu datang bagi orang-orang yang berjuang, dan pertolongan Tuhan itu diturunkan dan datang melalui manusia, yang memiliki sifat-sifat Ketuhanan,” terangnya.
Menurutnya, dalam doktrin Gereja Katolik, mungkin konsep ini mirip dengan apa yang disebut Juru Selamat. Seperti halnya, Yesus Kristus menyelamatkan umat manusia dari kesengsaraan, yang rela berkorban untuk umat manusia di dunia ini.
“Bagi saya, konsep Juru Selamat maupun konsep Wasilah ini mirip, bahwa ada campur tangan Ilahi, ada pengorbanan, ada kebahagiaan dan keselamatan. Hanya saja, peristiwa atau konsep Juru Selamat ini lebih kepada jalan Teologi-Spiritualis.
Selama hidup di Kota Roma ini, Saya menemukan dan aktif melakukan banyak pengalaman, mulai dari perjalanan spiritual, akademis hingga kepada pencarian dan pembangunan jaringan relasi persahabatan berskala internasional.
Saya menyadari bahwa peristiwa perjalanan kehidupan umat manusia hanyalah menjemput Qodo (Ketetapan) dan Qodar (Ketentuan) Tuhan yang telah digariskan di alam Ajali (Asal). Alam dimana sebelum kita dilahirkan ke dunia, kemudian Tuhan menuliskan semua kesimpulan perjalanan kehidupan umat manusia, di alam Mayapada ini.
“Di Kota Roma ini, saya melihat banyak sekali situs-situs antik sejarah peradaban yang diabadikan dengan baik. Entah berapa ratus juta turis mancanegara per-tahun datang ke Kota ini. Tiap hari Roma selalu dipadati para turis.
Saya melihat banyak bangunan tua, setengah roboh, hingga patahan-patahan tembok yang dirawat dengan baik, juga banyak museum, gedung-gedung Basilika, terkhusus Basilika Santo Petrus di Vatikan, Basilika Santo Paulus di luar tembok Kota Roma, Basilika Santa Maria Maggiore, Basilika Santo Yohanes Lateran.
Empat Basilika ini adalah Basilika-Basilika Kepausan milik Tahta Suci Vatikan. Ada ribuan Gereja di Kota Roma. Ada julukan diberikan kepada Kota Roma sebagai Kota Seribu Gereja.
Selain itu, ada peninggalan paling bersejarah yaitu: Colloseum, ada juga lapangan Circo Massimo, ada Piazza Venezia, ada Museum Campidoglia, ada Forum Romanum, ada Fontana di Trevi, ada Tangga Spanyol, ada Piazza del Popolo, ada Pantheon, Piazza Navona, dan tentu saja ada Vatikan yang merupakan obyek kunjungan manusia dari seluruh dunia, entah dari budaya dan agama apapun.
Rasa syukur saya tidak pernah berubah. Tidak terasa puas hanya tinggal beberapa hari lagi akan selesai dengan semua program di Roma dan Vatikan. Ramadhan juga sudah berakhir. Apakah Ramadhan yang akan datang, saya akan bisa berpuasa kembali? Waallahu Alam..!!!,” nukilnya, detail.
Baginya, meskipun di Kota Roma umat Muslim hanya terhitung dengan jari, namun Ia harus salut dan angkat jempol untuk keramahan dan keterbukaan pemerintah serta warganya. Pasalnya, dalam praktek beragama, umat Muslim bisa dengan bebas dan leluasa, menjalankan ibadah puasa, solat berjemaah, juga berpuasa.
“Sepanjang saya hidup di Kota Roma, saya melihat dan merasakan betul bahwa umat Muslim di Kota Abadi ini bisa mengekspresikan kehidupan beragama-nya secara luwes.
Semua hak-hak beribadahnya terpenuhi. Kalau ada Muslim yang sholat atau tidak berpuasa, itu adalah persoalan pribadinya saja yang koplok, dan bukan karena orang-orang non-Muslim di sini yang mempersulit dirinya.
Di Kota Roma ada Masjid Agung yang besar, malah terbesar di Uni Eropa, dan juga puluhan Musolah-Musolah yang digunakan sebagai tempat ibadah, termasuk juga ibadah Sholat Jumat, dan juga Sholat Tarawih.
Salah satu Musolahnya terletak di wilayah Vittorio Emanuele, bernama Musolah Baitu Assalam (Rumah Keselamatan). Menariknya, Musolah ini persis berdampingan dengan sebuah Gereja Katolik.
Satu hal lain lagi di Kota Roma yang membuat saya juga sangat bersyukur adalah, di sini Alhamdulillah, puasa saya selama bulan suci Ramadhan ini lancar-lancar saja alias tidak batal. Sahabat-sahabat Katolik yang serumah dengan saya, memberikan kepada saya apa yang saya butuhkan untuk berpuasa.
Dari Mesjid Agung Roma, saya mendapatkan daftar lengkap tentang jam Saur, jam Sholat, jam matahari terbit, jam matahari terbenam dan jam buka puasa. Semua lengkap.
Hal ini membuat puasa saya memiliki makna berbeda dan spesifik, tidak seperti di Indonesia. Sebelumnya, selama 9 tahun lebih, selepas keluar dari Pondok Pesantren, biasanya puasa saya selalu batal, hehehe.. Alhamdulillah, di Kota Abadi ini, puasa saya berjalan dengan lancar!!! Inilah salah satu keuntungannya kalau kita sedikit keluar dari lingkungan sempit kita untuk mengenal dunia lain.
Ada banyak hal indah yang Kita temukan dan membantu memperlebar horison kita, dan membantu memperlebar horison kita, dan mengubah cara pandang dan cara paham kita. Yang kita takut-takutkan sebelumnya tidak harus semuanya benar.
Saya berdoa semoga hari-hari dan malam-malam kedepannya lebih panjang, biar masih bisa tinggal lebih lama di sini. Kata orang, kalau mau kembali lagi ke Roma, harus buang coin-coin kecil di Fontana di Trevi dengan posisi membelakanginya. Mau coba deh. Jangankan sekali, bisa berkali-kali. Mumpung masih punya banyak coin Euro kecil di celengan. Hehehe,” tutup Deni Iskandar, dari D. Sant, Gregorio, Cello, Rome, Kamis (20/04/2023). (OLA)
