KUPANG, RANAKANEWS.com – Keterbatasan akses terhadap pembalut sekali pakai masih menjadi persoalan bagi sebagian remaja perempuan, terutama dari keluarga dengan kondisi ekonomi lemah. Tidak jarang, mereka terpaksa membolos sekolah saat menstruasi karena tidak memiliki pembalut. Di sisi lain, penggunaan pembalut sekali pakai berbahan plastik juga menimbulkan masalah baru, yakni timbunan sampah yang membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai.
Menjawab persoalan itu, Rotary Club Kupang menggelar Pelatihan Pembuatan Pembalut kain di SMKN 4 Kupang, pada Rabu (27/9/2025). Program ini dirancang tidak hanya sebagai solusi praktis dan sehat bagi perempuan , tetapi juga untuk meringankan beban ekonomi keluarga sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan.
Pelatihan dipandu oleh PDG (Past District Governor), Lina Soeratman, Community Service Chair District 3420 Rotary International.
Ia menjelaskan, pembalut kain dapat digunakan kembali hingga dua tahun sehingga lebih hemat sekaligus aman bagi kesehatan reproduksi perempuan.
“Sebagian anak harus mengeluarkan sekitar Rp30.000 per bulan untuk membeli pembalut. Jika dihitung setahun, jumlahnya cukup besar. Dengan pembalut kain, biaya itu bisa ditekan sekaligus membantu mengurangi sampah plastik yang mencemari lingkungan,” kata Lina.
Sementara itu, Kepala SMKN 4 Kupang Semi Ndolu menyebut kegiatan ini sangat bermanfaat bagi siswanya. Selama ini, sekolah memang sudah menyiapkan pembalut di Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Namun, pelatihan membuat pembalut kain dinilai lebih efektif karena memberdayakan siswa secara langsung.
“Dengan adanya pelatihan ini, siswa bisa belajar membuat pembalut sendiri. Kebetulan di sekolah kami ada jurusan tekstil dengan kompetensi menjahit dan menenun, sehingga keterampilan ini relevan dan bisa dipraktikkan sebagai bagian dari pembelajaran. Selain menolong diri mereka sendiri, siswa juga bisa membantu keluarga, bahkan melatih orang lain di rumah,” ujar Semi.
Ia menambahkan, siswa bisa memanfaatkan kain-kain sisa jahitan untuk membuat pembalut darurat. Keterampilan itu bahkan berpotensi dikembangkan menjadi usaha kecil yang bermanfaat secara ekonomi. “Jadi, manfaatnya lebih luas dan berkelanjutan,” katanya.
Rotary Club Kupang berharap keterampilan membuat pembalut kain tidak hanya berhenti di ruang pelatihan, tetapi dapat ditularkan kepada masyarakat sekitar. Ke depan, program ini juga bisa menjadi pintu masuk untuk pemberdayaan ekonomi keluarga dan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. (HG)
