Foto bersama disela- sela kegiatan Workshop Integrasi Soft Skill ke Dalam Kurikulum SMK di Kabupaten Sikka, Kamis (20/2/2025). (Dok: Selvi Laka).
MAUMERE, RANAKANEWS.com – Sebanyak 33 SMK di Kabupaten Sikka dan Ende siap mengimpelementasikan modul soft skill kedalam kurikulum SMK.
“Pada kenyataannya lulusan SMK yang bekerja itu dapat dihitung dengan jari. Banyak yang tamat tapi tidak siap kerja,” ungkap Korwas SMA/SMK Kabupaten Sikka, Drs. Mikael D. Maran, M.Pd dalam sambutan pembuka kegiatan Workshop Kecakapan Hidup (Soft Skill) dan Kesiapan Kerja (Work Readiness) kedalam kurikulum SMK yang diselenggarakan di Aula SMK Yohanes XXIII Maumere.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Yayasan FREN mitra ChildFund International di Indonesia ini, bertujuan untuk membangun kerjasama lembaga pendidikan dalam menerapkan modul soft skill untuk peningkatan kapasitas kecakapan hidup (Soft Skill) bagi siswa-siswi sekolah kejuruan sebagai pelengkap keterampilan praktis (Hard Skill) yang mereka peroleh sebelum memasuki dunia kerja.
Dengan mengundang narasumber yang telah mengimplemetasikan modul soft skill kedalam pembelajaran di sekolahnya dan melalui praktik-praktik baik yang telah dilakukan Ibu Dr. Farida Fahmalatif, S.Pd.,M.Pd, Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Tengaran Kabupaten Semarang hadir memberikan materi mengenai korelasi Deep Learning dan TEFA dalam implementasi modul kedalam pelajaran SMK.
“Persaingan sumber daya manusia di dunia usaha dan dunia industri membuat soft skill menjadi sangat penting dan mendesak bagi lulusan SMK agar mampu bersaing didunia kerja. Oleh karena itu implementasi soft skill di kurikulum SMK dimulai dari komunikasi yang terbangun di semua elemen, kemitraan, komitment dan konsisten.” ujar Itha Kale, Partnership Portfolio Officer ChildFund International di Indonesia.
Workshop Integrasi Modul Kecakapan Hidup (soft skill) dan Kesiapan Kerja (work readiness) dilakukan di dua kabupaten dampingan Yayasan FREN mitra ChildFund International di Indonesia, yaitu di Aula SMK Yohanes XXIII untuk wilayah Kabupaten Sikka pada Kamis, 20 Februari 2025, dan Aula SMK Negeri 2 untuk wilayah Kabupaten Ende pada 22 Februari 2025.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Koordinator Pengawas DIKMEN Sikka dan Ende, Pengawas Pendamping SMK, Ketua MKKS SMK dan jajarannya.
29 peserta perwakilan 15 SMK di Sikka dan 36 peserta dari 18 SMK di Ende yang terdiri dari Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, dalam diskusi peserta aktif menyampaikan tantangan-tantangan yang mereka hadapi dalam dunia pendidikan yang berkaitan dengan implementasi program pembelajaran yang berkaitan dengan Deep Learning dan TEFA maupun situasi anak-anak lulusan SMK saat ini.
“Saya mengajak bapak ibu untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda, dimana anak-anak menjadi subjek bukan objek. Kita harus tahu kebutuhan anak-anak, bukan kebutuhan kita. Kalau Kebutuhan kita sudah tahu bapak dan ibu, yaitu menyelesaikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tapi, apakah anak-anak sudah mendapatkan yang sesuai mereka butuhkan?,” tanya Meinrad Cahya Spesialist Pengembangan Pemuda ChildFund International di Indonesia salam sesi tanya jawab.
Diakhir kegiatan peserta kegiatan yang merupakan kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum, menyampaikan bahwa mereka siap bekerjasama untuk mengimplementasikan modul tersebut.
Harapannya melalui Workshop Integrasi Modul Kecakapan Hidup dan Kesiapan Kerja ini, tumbuh komitmen antar Yayasan FREN mitra ChildFund International di Indonesia bersama Sekolah Menengah Kejuruan dalam mengitegrasikan modul kecakapan hidup dan kesiapan kerja bagi anak muda melalui lembaga pendidikan, sehingga orang muda siap memasuki dunia kerja. (*/ TD)
