KUPANG, RANAKANEWS.com- Sebanyak 9 (sembilan) Biarawati (suster, red) Kongregasi Putri- Putri Cinta Kasih dari Darah Mulia (DCPB) Sikumana Kupang menerima Kaul Pertama dan Kaul Kekal, Jumat (13/5/2022).
Ini adalah peristiwa Kaul Pertama 7 (tujuh) Suster Novis, dan Kaul Kekal 2 (dua) Suster Yunior Kongregasi DCPB Sikumana Kupang.
Kesembilan Biarawati (Suster, red) yang menerima Kaul Pertama dan Kaul Kekal tersebut dikukuhkan oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang didampingi beberapa Pastor dari beberapa Paroki di Kota Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pengikraran kaul atau janji untuk setia kepada Tuhan adalah saat -saat paling dinantikan bagi setiap orang yang terpanggil untuk melayani Tuhan sebagai biarawan atau biarawati. Karena, disaat itulah seorang religius secara resmi mengakui keterikatannya kepada Tuhan dihadapan banyak orang.
Pengikraran Kaul bukan hanya menjadi berkat bagi mereka yang mengucapkannya. Tetapi juga menjadi berkat dan kebahagiaan bagi gereja, umat dan kogregasi dimana mereka terpanggil.
Dalam janji dan sumpah; untuk hidup Suci, Miskin dan Taat sebagai jawaban “Ya” atas panggilan dan sebagai ungkapan dari kesetiaan mereka kepada DIA yang telah memilih dan memanggil mereka.
Adapun nama-nama suster yang mengikrarkan Prasetia Pertama diantaranya; Sr. Anastasia Namok, Sr. Emersiana Luti, Sr. Lidvina Balok, Sr. Maria Irensia Selan, Sr. Notburga Wunu, Sr. Selviana Amanda Kole, Sr. Yudithsiane Melita Tae.
Suster yang mengikrarkan Prasetia seumur hidup (Kaul Kekal, red) diantaranya; Sr. Magdalena Ciompah dan Suster Imelda Kristiana Ulmasembun.
Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang penyampaian tanda Kaul dengan menyematkan cincin kepada 7 suster yang menerima kaul pertama.
Pantauan media, Perayaan Ekaristi diselenggarakan dengan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku. Semua Suster yang hadir menggunakan masker dan saling menjaga jarak.
Dalam kotbah Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang mengatakan, dalam hidup seorang biarawati ialah menjadi pewarta kabar gembira, taat kepada pemimpin dan siap menderita.
“Tekun melaksanakan kebiasan berdoa, membina cinta kasih yang sejati dan menjalankan pertobatan yang benar. Berharap agar para Suster yang berkaul senantiasa bertekun untuk mewujudkan cita-cita hidup Beato Tommaso Maria Fusco,” ungkap Uskup Mgr. Petrus Turang.
Ditandai dengan penyerahan Cincin dan Tudung kepada Suster, Uskup mengucapkan “Saya mempersatukan engkau dengan Kristus, Putera Allah Yang Maha Tinggi agar Dia dapat menjaga engkau dari Bahaya. Terimalah cincin kesetian ini, kenakanlah Roh, supaya engkau disebut sebagai mempelai Kristus. Jika engkau melayani Dia dengan penuh kesetian, engkau mendapat mahkota abadi. Dalam Nama Bapa Putra dan Roh Kudus,” ucap Uskup.
Uskup juga mengatakan, “Putriku yang terkasih, terimalah Tudung Suci ini sebagai lambang penyerahan dirimu secara utuh kepada Kristus sebagai mempelai yang sejati, rendah hati dan setia,” ucap Uskup Petrus Turang.
Di penghujung perayaan Ekaristi, Suster Elsy Morely mewakili Pemimpin Umum, Suster Madre Alfonsa Bove, “Kami menerima kamu sebagai anggota tetap dari keluarga Kongregasi ini. Sejak hari ini dan seterusnya. Kamu dapat berbagi apa saja dalam kebersamaan dengan kami,” ucap Suster Elsy Morely.
Sementara itu, Romo Longginus Bone, Pr, Pastor Paroki Gereja Katolik Santu Fransiskus Asisi BTN Kolhua, Kota Kupang, disela-sela acara ramah tamah (makan siang, red) mengatakan, Gereja bersyukur bahwa hari ini 9 (sembilan) orang memilih untuk mengikuti Tuhan di dalam panggilan yang khusus ini. Mereka sudah memilih untuk mencintai Tuhan, teruslah mencintainya, maju terus dengan tak gentar, supaya kemudian jangan mundur dengan gemetar apalagi muntaber (mundur tanpa berita) dan tetap setia untuk menjadi suster.
“Dengan hidup bersuka cita dan siap menderita ialah dengan menyerahkan pada kehendak Allah,” ujar Ketua Komisi Kepemudaaan Keuskupan Agung Kupang.
Salah satu orangtua yubilaris (Sr. Emersiana Luti, red), Feliks Kono mmengucapkan proficiat kepada 9 (sembilan) Suster yang menerima Kaul.
“Saya sebagai orangtua, bangga, karena tidak sia-sia anak kami lima tahun dibina, dididik oleh Susteran DPCB. Untuk itu kami sangat berterima kasih. Hari ini menerima sebuah rahmat, yang tentunya bukan hal ini sudah final tapi itu harus diperjuangkan lagi ke depan,” ujar Feliks Kono.
“Anak saya 5 (lima) orang, perempuan empat, satu laki-laki. Kemudian anak saya satu satunya dia yang pernah marah saya, kemudian mau bikin pecah TV hanya karena mau masuk suster, karena itu saya rela mempersembahkan anak saya, mudah mudahan kedepan tidak ada hambatan terima kasih,” ucap umat Paroki Manufui Kabupaten TTU penuh haru dengan menetes air mata.
Lebih lanjut Staf Desa di salah satu desa di Kabupaten TTU ini mengharapkan, “Saya sebagai orangtua kiranya mereka harus menerima panggilan ini benar-benar dan taat- taat pada aturan yang ada di biara kongregasi DCPB, selalu suka ria dalam menjalankan karya penerimaan rahmat hari ini dan selamanya,” tutup Feliks Kono.
Terpisah, Pimpinan Suster DCPB Sikumana Suster Elsy Morely mengatakan, “ini merupakan kebahagiaan bagi kami Kongregasi DCPB atas Rahmat Allah yang begitu besar yang di Anugerahkan kepada ke Sembilan suster. Semoga cinta dan kesetiaan mereka, dapat mereka wujud nyatakan dalam tugas dan pelayanan setiap hari. Banyak kesulitan dan tantangan yang nantinya kalian jumpai dalam perjalanan panggilanmu, tapi yakinlah bahwa Kristus mempelaimu selalu berjalan bersama kalian,” ujar Suster Elsy penuh haru dan bangga.
Suster Elsy menyampaikan terima kasih kepada Yang Mulia Bapak Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, yang telah berkenan memimpin perayaan Ekaristi Kaul pada hari ini, para Imam Konselebran dan Diakon, Pastor Paroki Sta. Familia Sikumana yang selalu membantu kami, Pastor dan para suster yang turut hadir,Rd. Romo Yan dan para Tim KOMSOS, orangtua yang menyerahkan anak-anaknya untuk berkarya di kebun Tuhan, anggota koor St. Louis de Montfort.
“Ini merupakan suatu penyerahan atau persembahan hidup yang patut disyukuri, kerelaan untuk memberi yang terbaik bagi Tuhan, karena dari sekian banyak putri- putri, Tuhan memilih mereka untuk menjadi alatnya,” ungkap Suster Elsy. (TD)
