Skenario RAT Jegal Calon Ketua Kopdit Swastisari Sason Helan Peraih Suara 2330 Berakhir Kacau

Rapat Anggota Tahunan (RAT) KSP Kopdit Swastisari di Hotel Herper Kota Kupang Sabtu-Minggu, 25 hingga 26 April 2026 berakhir kacau pasca pimpinan RAT Erni Katana main ketok palu untuk menjegal langkah Calon Ketua peraih suara terbanyak 2.330 Anggota yang memilihnya. Anggota RAT melakukan protes keras skenario jahat tersebut dan mendesak segera ada langkah penyelesaian, termasuk proses hukum guna selamatkan marwah Koperasi dan jaga kepercayaan Anggota. Tak cuma itu, sejumlah skenario jahat sebelumnya pun dibongkar.

Forum Rapat Anggota Tahunan (RAT) KSP Kopdit Swastisari di Hotel Herper Kota Kupang, Sabtu-Minggu 25 hingga 26 April 2026 berakhir ricuh pasca skenario menjegal Calon Ketua peraih suara terbanyak, Yohanes Sason Helan,A.Md mendapatkan perlawanan terbuka Anggota yang tak setuju dengan cara Pimpinan RAT Erni Katana main ketok palu ikut suka: Foto (Doc./OLA/Ranakanews.com)
Forum Rapat Anggota Tahunan (RAT) KSP Kopdit Swastisari di Hotel Herper Kota Kupang, Sabtu-Minggu 25 hingga 26 April 2026 berakhir ricuh pasca skenario menjegal Calon Ketua peraih suara terbanyak, Yohanes Sason Helan,A.Md mendapatkan perlawanan terbuka Anggota yang tak setuju dengan cara Pimpinan RAT Erni Katana main ketok palu ikut suka: Foto (Doc./OLA/Ranakanews.com)

 

KOTA KUPANG,RANAKANEWS.com-Skenario menjegal langkah Calon Ketua Kopdit Swastisari, Yohanes Sason Helan,A.Md, peraih suara terbanyak dengan 2.330 anggota yang memilihnya, dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT), Sabtu-Minggu 25 hingga 26 April 2026 di Hotel Herper Kota Kupang, berakhir kacau hingga memantik protes dan desakan Anggota agar segera ada langkah hukum, serta pihak terkait turun tangan menyelesaikan kemelut serius ini.

Tak cuma itu, upaya busuk yang berakhir kacau setelah Anggota memprotes keras cara Pimpinan sidang Erni Katana main ketok palu dan tak bersikap demokratis, rupanya membuka kedok rangkaian skenario jahat yang telah dimainkan segelintir orang sejak lama, yang dimulai dengan amandemen Anggaran Dasar dadakan guna memasukan syarat pendidikan calon Ketua berijazah S1, kerja Panitia seleksi calon Ketua diambil alih Pengurus lama, Ujian Kompetensi dan Kelayakan berjalan lambat dan tidak ideal, hingga ada isu murahan ke Deputi Pengawasan Kementerian Koperasi, dan puncaknya saat hasil pemilihan dari 30 Cabang diutak-atik lagi oleh 6 Pengurus dengan lakukan voting pilih Ketua Pengurus.

“Selaku anggota dan manajemen Kopdit Swastisari, Kami mengaku risih dan terganggu dengan dinamika yang terjadi, terutama setelah muncul dugaan pengangkatan Ketua terpilih yang tidak sesuai mekanisme Kopdit Swastisari.

Bagaimana Kami mau kerja kalau suara 2.330 Anggota diinjak oleh 6 orang Pengurus?

Ini hari kelam bagi Koperasi. Padahal, Undang-Undang Koperasi Nomor 25 Tahun 1992 Pasal 29 sudah jelas dan tegas mengatur bahwa Pengurus dipilih oleh Anggota, bukan oleh segelintir orang,”tegas Martinus Daton Iker,SE.,MM, salah seorang Anggota, yang kini menjabat Kepala Kantor Kas Cabang Ende.

Menurutnya, polemik ini tak hanya menjadi masalah internal, tapi sudah meluas berdampak nyata bagi operasional dan menimbulkan krisis kepercayaan Anggota.

“Manajemen merasa terdampak langsung. Kepercayaan Anggota mulai goyah.

Anggota di berbagai Tempat Pelayanan mulai pertanyakan hasil pemilihan.

Mereka tanya, untuk apa memilih kalau suara dibuang? Kami yang di lapangan merasa malu,”katanya, serius.

Operasional Terancam Lumpuh 

Martinus yang sudah lama bekerja sebagai manajemen lebih jauh menambahkan, legalitas Ketua sangat krusial dalam setiap keputusan Koperasi.

Sehingga kalau Ketuanya bermasalah, tanda tangan bisa dianggap cacat hukum.

Ini bisa berdampak pada kredit, kerjasama hingga merugikan Anggota. Sehingga butuh langkah cepat untuk selesaikan polemik ini.

Dinas Koperasi Kota Kupang, Walikota Kupang, Dekopinwil NTT dan pihak terkait lainnya diminta segera turun tangan,”katanya, lagi.

Selain itu, Martinus juga mengingatkan, akibat kemelut ini nama baik Kopdit Swastisari kini dipertaruhkan.

KSP Kopdit Swastisari yang selama ini dikenal luas sebagai salah satu Kopdit terbaik, kini terancam mengalami krisis kepercayaan.

“Calon Anggota baru bisa takut bergabung. Ini bom waktu bagi kesehatan lembaga.

Olehnya, pihak terkait segera turun tangan hentikan polemik dan selesaikan secara demokratis.

Kalau dibiarkan, bisa jadi preseden buruk. Lama-lama sistem Koperasi bisa rusak,”tohoknya keras.

Apalagi, Yohanes Sason Helan sebagai peraih suara terbanyak yang dijegal, akan layangkan keberatan resmi ke Dinas Koperasi Kota Kupang.

“Selaku manajemen mendukung penuh terhadap langkah tersebut.

Kami tidak sedang membela pribadi, tapi Kami membela marwah Koperasi.

Jangan sampai sejarah mencatat Koperasi ini runtuh hanya karena keputusan segelintir orang yang memaksakan kehendak,”tegas Martinus.

Ia juga menyayangkan skenario menjegal Yohanes Sason Helan, yang telah 29 tahun bekerja keras memajukan Kopdit Swastisari, dan dipilih 2.330 Anggota untuk kembali menduduki posisi Ketua Kopdit Swastisari dilakukan dengan cara yang tidak demokratis, sehingga forum RAT yang seyogianya berjalan penuh kekeluargaan, harus berakhir ricuh.

Sason Helan Bongkar Skenario Jegal Langkahnya Jadi Ketua Kopdit Swastisari 

Pada bagian lainnya, Yohanes Sason Helan selaku Calon Ketua peraih suara terbanyak 2.330 Anggota dari 30 Cabang yang ikut memilih, dalam pernyataan Pers, Senin 27 April 2026 secara tegas dan terbuka membongkar sejumlah skenario menjegal langkahnya menuju Ketua Kopdit Swastisari periode 2026-2029.

“Ini sudah lama dimainkan saat Mereka tahu nama Saya masuk dalam bursa calon Ketua.

Ini dimulai dengan pemilihan panitia Ketua, dimana tiba-tiba panitia pemilihan melakukan amandemen perubahan Anggaran Dasar dadakan Kopdit Swastisari, dengan merubah syarat pendidikan minimal S1, karena Mereka tahu Ijasah Saya D3. Mereka butuh Ijasah S1. Inikan jelas untuk menjegal Saya.

Berikutnya kerja Panitia Seleksi yang mestinya sampai dengan pelantikan Pengurus dan Pengawas baru, diambil alih Pengurus lama.

Ini kan jelas karena ada kepentingan lainnya.

Skenario licik lainnya yakni: Ujian Kompetensi dan Kelayakan (UKK) yang berjalan lambat dan tidak ideal.

Sebenarnya Kita mau kalau orang yang dipilih itu berkualitas, sehingga UKK harusnya berjalan 3-4 bulan sebelum pemilihan supaya Calon bisa bersosialisasi diri dan Anggota bisa mengenal dengan baik kompetensi dan bidang yang dipilih setiap calon, sebelum memilih,”ujar Sason Helan.

Tak hanya itu, Sason Helan juga mengakui ada isu murahan yang dimainkan ke Deputi Kementerian Koperasi bahwa Saya ini pemimpin kudeta di RAT.

Ini kan bahasa jelek dan tidak pantas untuk jegal Saya. Tapi ternyata juga gagal. Bahkan Saya dinyatakan lulus pertama saat UKK langsung dari Deputi Pengawas Kementerian Koperasi,”bebernya.

Sementara skenario terakhirnya, yakni saat pemilihan Ketua, dimana Sason Helan yang mendapat dukungan mayoritas suara 30 Cabang, dengan total suara tembus 2.330, terpaut 100 persen lebih dari pesaing terdekat Wilem Geri yang hanya meraih 1.100 suara, sebagai pelamar calon Wakil Ketua 1 Bidang Pendidikan, kemudian dirubah sepihak melalui pertemuan tanggal 17 April 2026 mengangkat Wilem Geri sebagai Ketua Pengurus.

“Jadi, tanggal 17 April 2026 itu, Kami diundang Pleno suara dan penentuan komposisi Pengurus.

Kami lalu diberikan kesempatan untuk berdialog mengisi komposisi tertentu, serta diskor oleh Pengurus untuk mengatur komposisi Pengurus.

Kemudian, Kami calon Pengurus ditanya dan diminta menyatakan kesediaan.

Saat Saya ditanya apakah bersedia menjadi Ketua, Saya menyatakan siap dengan menyatakan demi amanat RAT dan suara Anggota adalah suara Tuhan, maka Saya akan melaksanakan tugas itu.

Tapi, setelah Saya menyatakan bersedia menjadi Ketua, tiba-tiba semua Pengurus lainnya juga berteriak menyatakan siap jadi Ketua Pengurus.

Akhirnya, Saya keluar meninggalkan forum pleno dan pulang ke rumah.

Pemimpin rapat mengetok palu menutup rapat tanpa ada keputusan.

Saya lalu mengusulkan agar persoalan ini dibawa ke RAT sebagai forum tertinggi,”katanya.

Anehnya, setelah rapat itu, Mereka buat voting ulang penentuan komposisi yang menetapkan Wilem Geri sebagai Ketua Pengurus.

“Ini sangat miris. Mereka buat voting ulang menetapkan Wilem Geri sebagai Ketua Pengurus.

Inilah skenario yang Mereka bangun sejak lama untuk menjegal Saya, setelah hampir 3 tahun Saya tidak masuk Pengurus Kopdit Swastisari,”tutupnya. (OLA)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version