SMKN 4 Kupang Berkolaborasi dengan BPNB Gelar Workshop Tenun Muhibah Budaya Jalur Rempah

Pembukaan Workshoop Tenun Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022, Jumat, 24 Juni 2022. (Foto: Istimewa)

KUPANG, RANAKANEWS.com- SMKN 4 Kupang berkolaborasi dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Bali menggelar Workshop  Tenun Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 yang diikuti 25 peserta siswa SMA/SMK berlangsung Jumat- Minggu (24- 26/6/2022) di Aula SMKN 4 Kupang.

Acara  Workshop Tenun  Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 dengan tema “Merangkai Semangat Kaum Muda, Menjaga Tradisi Menenun di Nusa Tenggara Timur” dibuka  secara resmi oleh Plt. Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Henderina S. Laiskodat, SP., M.Si, dimoderatori oleh Kepala SMKN 4 Kupang Semi Ndolu, S.Pd dan Maria T.D.O Desipung, S.Kom,M. I. Kom Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT.

Narasumber pada Workshop tersebut; Plt Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Henderina S.Laiskoat, SP., M.Si, Ketua Dekranasda NTT Julie Sutrisno Laiskodat, Budayawan Roshinda, Praktisi Tenun Marcelina Ratu Pah, dan Praktisi Tenun dari SMKN 4 Kupang Yanti M. Elix.

Plt Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Henderina S. Laiskodat menyampaikan pihaknya mendukung atas terselenggaranya kegiatan Workshop Tenun Muhibah Budaya Jalur Rempah  2022 di NTT.

“Tentu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT mendukung penuh  kepada SMKN 4 Kupang bekerjasama  BPNB atas terselenggaranya kegiatan ini,” ujar Henderina.

Melalui  program Muhibah Budaya Jalur Rempah diharapkan dapat memperkuat budaya kain tenun merupakan peninggalan leluhur yang harus dijadikan sebagai keunggulan dan potensi di NTT.

Nusa Tenggara Timur sangat terkenal dengan kehidupan budaya yang masih terjaga sampai saat ini. Salah satunya adalah bentuk kesenian yang terdapat pada kain tenun yang merata di seluruh wilayah NTT.

Menurut asal- usul, lahirnya tenun di Timor sendiri tidak diketahui secara pasti. Namun dari berbagai narasi yang berkembang secara lisan menggambarkan bahwa tenun sudah ada ketika manusia pertama berada  di tanah Timor untuk melindungi dari panas dan dingin.

Melalui tenun, para perempuan di Timor/NTT ingin menggambarkan nilai-nilai perjuangan dan semangat yang terus berapi-api. Bukan saja untuk melestarikan  budaya Timor/NTT tetapi melalui tenun, perempuan menggambarkan nilai perjuangan akan kehidupan yang semakin keras setiap saatnya.

Sementara Hartono, Panitia Penyelenggara  kegiatan menyampaikan tujuan dari Workshop Tenun Muhibah Budaya Jalur Rempah  2022 di NTT, untuk memperkenalkan keragaman tradisi yang ada di Timor/Kupang NTT sebagai salah satu titik Jalur Rempah Nusantara.

Selain itu, kata  Hartono Mengangkat kekayaan budaya (Wastra) atau Tenun di Kupang sebagai titik singgah Jalur Rempah Nusantara.

Dan Menegaskan kembali ke- Indonesiaan yang telah terhubung sejak lama dan bisa membantu pembangunan berkelanjutan.

Output terevitalisasi dan teraktualisasinya aktivitas serta karya-karya budaya yang mengandung nilai-nilai budaya yang menjadi tradisi suatu masyarakat, yang telah terhubung sejak lama melalui rempah yang berperan di dalamnya.

I Komang Purna W.P Bagian Perencanaan menambahkan, sebagai pendukungan untuk kegiatan Muhibah Budaya Jalur Rempah, BPNB Provinsi Bali bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT melaksanakan Workshop  Tenun.

“Harapannya semoga kedepannya tenun NTT bisa lebih lestari terus lebih dikenal juga sama dunia  seperti kain- kain tradisional lainnya bisa bekerjasama dengan fasion-fasion dunia jadi lebih terkenal. Dan tetap dilestari dan dicintai oleh masyarakat NTT khususnya, dan Indonesia pada  umumnya,” kata Purna.

Hasil yang diharapkan meningkatnya apresiasi para peserta  workshop tenun terhadap tradisi dan karya budaya masyarakat di Timor/ Kupang, NTT.

Kepala SMKN 4 Kupang Semi Ndolu, S.Pd mengatakan, ini masih dalam satu rangkaian kegiatan kunjungan rombongan Muhibah  Budaya Jalur Rempah 2022 akan dilaksanakan  besok tanggal 25 Juni di SMKN 4 Kupang.

“Jadi Sebelum kunjungan itu, kami hari ini melaksanakan kegiatan  workshop  tenun yang melibatkan 25 orang peserta  penenun yang sudah ada di sekolah- sekolah  yakni dari SMAN 1, SMAN 5, SMKN 4, SMA Oelmasi, dan SLBN Oelmasi Kabupaten Kupang,” kata Semi.

Lebih lanjut, “kegiatan ini memang  bagian dari kerjasama SMKN 4 Kupang dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Bali selama 3 hari,” kata Semi  Ndolu disela-sela kegiatan.

“Tujuannya bagaimana kita memberikan suport dan motivasi bagi anak-anak muda usia-usia sekolah untuk mencintai warisan budaya tenun yang diwariskan oleh nenek moyang kita itu untuk terus dilestarikan. Karena itu, berkaitan juga dengan kunjungan muhibah budaya  jalur rempah ini, maka kita  ingin menunjukkan tentang anak-anak kita yang usia-usia muda, tapi bisa menenun,” jelas Semi.

Menurut Semi, merekalah yang menjadi pilar-pilar yang akan meneruskan budaya tenun kita masa depan, “jadi saya berharap melalui hal ini, itu bisa untuk menginspirasi anak-anak muda yang lain untuk mencintai budaya menenun. Tidak hanya sekedar menggunakan kain motif NTT tapi juga aksi-aksi dalam bentuk menenun itu dilestarikan, dilaksanakan,” tandas Ketua MKKS SMK Kota Kupang.

Salah seorang peserta SLBN Oelmasi Kabupaten Kupang, Mince Kuanine Kelas XII mengaku senang mengikuti Workshop  Tenun.

“Saya senang menenun. Tapi di sekolah  kami masih banyak yang kurang. Harapan saya agar pemerintah memperhatikan  fasilitas yang kami butuhkan,” pintanya.

Salah satu Guru Pembimbing peserta dari SMAN 5 Kupang, Afrafelisima Buku mengatakan kegiatan workshop ini sangat bagus.

Anak-anak punya kemauan untuk menenun namun peralatan tidak memadai. “Harapan kami dari sekolah, dengan program Tenun masuk sekolah ini yang sudah dijalankan ini kalau boleh kami meminta kepada pemerintah memberikan kami peralatan,” ungkap Afra.

“Sekarang ini kami rekrut anak-anak belum banyak. Harapan kedepannya anak-anak bisa lebih mencintai tenun lagi lebih dari mereka 6 orang ini,” harap Guru Bidang studi Geografi.

Ia menambahkan, jenis tenun yang dibuat SMAN 5, motif Rote. Kami berharap  tidak hanya Motif Rote saja yang mereka bisa, kalau bisa sih berbagai motif yang ada di NTT  dari  setiap daerah,” pungkas Afra. (RN)

error: Konten dilindungi!
Exit mobile version