KUPANG, RANAKANEWS.com- Kegiatan Pembinaan Karakter yang diikuti oleh 113 siswa siswi kelas XII SMA Kr. Mercusuar Kupang, adalah kegiatan Rutin Tahunan dengan Tema “Tanggung jawab Siswa Kristen di Era Digital”. Kegiatan ini digelar secara online (daring) di Kupang Jumat ( 10/9/2021), pukul 10.00 WITA.
Dasar pemikiran Pembinaan Karakter siswa siswi kelas XII Sekolah Menengah Atas (SMA) Kristen Mercusuar Kupang.
Generasi milenial atau siswa jaman now, tidak dapat terhindar dari gaya hidup yang dipengaruhi oleh lompatan kecanggihan teknologi informasi masa kini. Sebagian besar waktunya digunakan untuk memainkan ponsel pintarnya. Oleh karena itu, generasi milenial saat ini perlu dipersiapkan dan dibekali dengan baik melalui strategi pendidikan dan pembelajaran yang efektif, termasuk pendidikan karakter Kristiani. Pendidikan karakter dikembangkan sebagai penyeimbang pengembangan yang berorientasi kognitif semata.
Demikian dikatakan Kepala SMA Kristen Mercusuar Kupang, Drs. Soleman Dapa Taka, MA dalam sambutannya saat membuka kegiatan ini.
Dikatakan Mann Dapa Taka, sapaan Kepala Sekolah salah satu sekolah unggul Kota Kupang ini, di Jaman Teknologi Digital 4.0 seperti sekarang, Kesadaran dan Kebutuhan akan karakter yang baik menjadi sangat penting.
“Demikian pentingnya pembentukan karakter bangsa ini, maka dalam Nawacita Presiden Jokowi, khusus cita ke 8, Penguatan Pendidikan Karakter menjadi salah satu agenda prioritas di masa kepemimpinan Presiden Ke 7 Republik Indonesia (RI) ini,” tandas Mann Dapa Taka.
Pembentukan karakter bangsa ini dikenal dengan istilah Revolusi yang pelaksanaannya dilakukan melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional, yang diperkuat dengan diterbitkannya Keputusan Presiden (Kepres) tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).
Dalam kaitannya dengan kegiatan pembinaan karakter ini, dikatakan pula, bahwa pendidikan karakter harus menyentuh tidak hanya pikiran peserta, yakni mendengarkan dan mengetahui sesuatu nilai yang baik dan benar, tapi lebih dalam dari itu. Yaitu adanya keinginan atau hasrat tentang sesuatu yang baik, dan melakukan yang baik dan benar.
Peran keluarga sebagai agen utama perlu didukung oleh berbagai pihat terkait dalam pembentukan karakter peserta didik. “Karena itu, peran psikologis dan rohaniwan dipercaya bisa membantu menanamkan konsep paling dasar tentang karakter yang baik serta memberi tips praktis dan mendasar untuk menjadi bekal dalam pengembangan karakter peserta didik selanjutnya,” pungkas Kepsek SMA Mercusuar ini.
Pemateri pertama kegiatan pembinaan karakter siswa SMA Kristen Mercusuar ini adalah Theodora Takalapeta, S.Psi., M.Psi., seorang Psikolog dan dosen Undana. dengan materi tentang bagaimana mengenali karakter generasi Z, dan tanggung jawab sebagai siswa di era yang serba digital.
Dikatakan Putri Takalapeta, ciri-ciri generasi Z adalah lebih dekat dengan media, Rasa ingin Tahu yang tinggi, butuh pengakuan, dan berpola pikir global.
Putri Takalapeta dalam pemaparan materinya sangat bersemangat. Ini dilakukan untuk memotivasi anak-anak untuk membangun kebiasaan yang baik.
Dikatakan Putri, kebiasaan yang baik bisa dilatih. Misalnya, dengan cara membuat jadwal harian, lalu berkomitmen untuk melalukansemua yang dijadwalkan.
Psikolog cantik yang juga aktif mengajar di Program Studi Pendidikan Psikologi Undana ini memiliki klinik psikologi di Kota Kupang yang diberi nama Klinik Sepe Growth yang dikelola bersama dua orang temannya sesama psikolog.
Ini tentu menjadi harapan baik bagi masyarakat kota Kupang, jika ingin berkonsultasi mengenai persoalan kerja, misalnya, dapat mengunjungi klinik mereka.
Pemateri kedua, Pendeta Yandri Manobe, S.Th, Menekankan, Spiritualitas harus menjadi kekuatan siswa di era teknologi digital yang canggih ini.
Karena itu, spiritualitas ini harus di kembangkan. Siswa harus bangun tanggung jawab. Tanggung jawab itu lebih tinggi dari sekedar kewajiban, karena di sana ada kejujuran, dan kedamaian.
Hal lain yang disampaikan Pdt. Yandi adalah bahwa pembinaan karakter merupakan bagian integral dari pendidikan agama Kristen.
“Apalagi siswa kita berada pada masa transisi antara masa remaja dan masa dewasa. Sehingga salah satu orientasi pendidikan karakter dari perspektif Kristen adalah pemulihan secara utuh dalam menemukan jati dirinya di hadapan Tuhan. Dan karena itu, anak-anak harus mampu menemukan dan mengembangkan talenta yang Tuhan telah berikan di dalam dirinya,” tandas Pendeta yang sangat populer dengan khotbah-khotbahnya dengan gaya jenaka tapi menyentuh kehidupan jemaat sehari-hari.
Dikatakan, keberadaan siswa hendaknya tidak hanya diisi dengan ilmu secara kognitif saja, tapi juga diberi ruang gerak untuk berkreasi dan mengasa mempelajari dan melatih ketrampilan, termasuk untuk mengasa kreativitasnya dalam menggunakan perangkat teknologi dan sains dengan cara yang bertanggungjawab.
Ini perlu ada komitmen yang serius untuk memikirkan dengan benar dan mendalam, bagaiman membangun kehidupan para siswa berdasarkan Firman Tuhan.
“Penyelenggaraan pembinaan karakter ini haruslah merupakan proses untuk memahami bahwa hidup manusia itu semata-mata bersumber pada Tuhan,” tegasnya.
Seperti disaksikan awak media yang juga diundang untuk meliput kegiatan ini, terpantau sangat jelas semangat para siswa dan para guru Mercusuar yang mengikuti Pemaparan kedua nara sumber dari awal sampai akhir.
Kegiatan yang berlangsung selama hampir tiga jam ini diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin Pendeta Yandi Manobe, S.Th. (MH/T)